Sunday, July 31, 2011

Asal Nama Nabi Musa

Kisah islamiah kali ini akan menceritakan tentang asal mula nama dari Nabi Musa.
Rasa was-was dan ketakutan yang amat sangat menghantui ibunda Nabi Musa dalam mengasuh putranya. Sang ibu betul-betul berjuang keras dalam menyembunyikannya. Namun ketika putranya berumur 3 bulan, rasa khawatirnya benar-benar memuncak. Tentara-tentara Fir'aun yang selalu berkeliling setiap hari membuatnya tidak percaya diri lagi untuk bisa menjaga keselamatan putranya.

Kisahnya.
Ketika saat-saat kritis itu menyelimuti sang ibu, Allah memberikan ilham berupa mimpi kepadanya agar menghanyutkan anaknya ke sungai Nil.
Sang ibu bersiap-siap mengerjakan apa yang diperintahkan Allah.
Di malam hari yang gelap gulita setelah disusui sampai puas, sang ibu meletakkan putranya di dalam kotak kayu yang biasanya dipakai untuk menyembunyikannya.


Setelah bagian atasnya tertutup, tali yang biasanya sang ibu pegang untuk menarik kotak kayu itu beliau putus, dan selanjutnya dengan penuh kepasrahan pada Allah Ta'ala sang ibu menghanyutkan kotak tersebut mengikuti derasnya air sungai Nil. Kotak itu berjalan dan terus berjalan melewati pepohonan di sepanjang arus sungai Nil.

Dan sudah menjadi kehendak Allah, ketika kotak itu lewat di area istana Fir'aun, salah satu dayang kerajaan melihat kotak tersebut. Dayang itu memanggil teman-temannya hingga mereka bergegas meminggirkan kotak itu dan mengambilnya. Begitu kotak ada di tangan mereka, tak satupun dari mereka yang berani membuka.





Mereka menyangka bahwa apa yang ada di dalam kotak itu adalah berupa barang berharga yang tidak layak membukanya kecuali oleh majikan mereka. Sementara itu, Nabi Musa yang masih bayi di dalam kotak itu tidak menangis atau merengek-rengek. Akhirnya kotak itu mereka bawa ke kediaman majikan mereka, Yaitu Asiyah binti Muzahim, istri Fir'aun, Raja sang penindas.
Setelah sampai, sang majikan itu membuka kotak kayu tersebut untuk memastikan apakah gerangan yang ada di dalamnya.

Saat tutup terbuka, terpancarlah cahaya dari dalam. Seorang bayi laki-laki yang mungil tergeletak manis dalam kotak tersebut. Asiyah yang sampai saat itu belum memiliki keturunanan, begitu melihatnya, tiba-tiba dalam benaknya muncul rasa senang bukan kepalang. Keinginan menjadikannya anak angkat begitu kuat.

Orang-orang di sekitarnya menyarankan agar memberi nama bayi itu dengan Musa. Makna Musa dalam bahasa Mesir adalah penyederhanaan dari مو  yang berarti pepohonan dan سا yang berarti air, karena memang bayi itu ditemukan diantara pepohonan dan air.
Asiyah menyetujui nama itu.

Beberapa saat kemudian, muncullah Fir'aun.
Begitu ada bayi laki-laki di hadapannya, dengan segera ia perintahkan tentaranya agar membunuhnya. Namun Asiyah mencegahnya sambil memberikan harapan kepada suaminya.



Dan berkatalah istri Fir'aun,

وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ

"Bayi itu adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah engkau membunuhnya, mudah-mudahan ia bermanfaat bagi kita atau kita ambil ia menjadi anak, sedangkan para rakyat tidak mengetahuinya."
(QS. Al-Qashash: 9).

Sunday, July 24, 2011

Menaklukkan Perampok Dengan Ayat Al Qur'an

Adalah Syeikh Al Asrna'i r.a, seorang tokoh sufi terkenal setelah wafatnya Rasulullah SAW yang memiliki banyak karomah. Salah satu karomahnya adalah kefasihannya dalam membaca Al Qur'an sehingga ia dapat menaklukkan perampok yang sedang mengancam jiwanya.

Kisahnya.
Pada suatu hari Syeikh Al Asrna'i sedang menuju kota Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Namun sebelum menuju ke Baitullah, ia singgah ke Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW.

Di tengah perjalanan, ia dihadang oleh seorang perampok dari suku Arab Badui, di tangannya ada sebilah pedang dan pada bahunya tergantung busur panah lengkap dengan anak panahnya. Orang badui itu mendekati Syeikh Al Asrna'i dan bermaksud merampas segala apa yang dimilikinya.

Bertemu Perampok
Dengan penuh perasaan takut dan bimbang, Syeikh Al Asrna'i segera mengucapkan salam kepada perampok itu, tapi herannya, sang perampok justru membalas salam tersebut.
"Dari manakah engkau ini?" tanya si perampok.
"Saya dari tempat yang jauh dan ingin pergi ke Baitullah serta berziarah kepada Rasulullah," jawab Syeikh.
"Mana barang-barangmu?" tanya orang badui itu lagi.
"Saya adalah seorang fakir dan tidak memiliki harta yang berharga apapun," jawab Syeikh.
"Apakah pekerjaanmu?" tanya perampok lagi.
"Aku adalah guru mengaji Al Qur'an bagi anak-anak di kampung," ucap Syeikh.
"Apakah Al Qur'an itu?" tanya si perampok yang rupanya dia tidak tahu tentang Al Qur'an sama sekali.
"Al Qur'an adalah firman Allah SWT," tegas Syeikh.
"Kalau begitu, bacakan kepadaku diantara firman-Nya," pinta si perampok.

Syeikh Al Asrna'i r.a pun lantas membaca sebuah ayat Al Qur'an surat Adz Dzariyat ayat 22,

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
Artinya:
"dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu".

Tanpa disangka-sangka, perampok itu membuang pedang dan busurnya panahnya. Dia tampak seperti orang yang ketakutan sekali, lalu berkata,
"Oh...celakanya hidup sebagai perampok yang merampas hak orang lain," katanya dengan bersungguh-sungguh.
Orang badui itu terlihat sangat menyesali segala perbuatannya yang dahulu dan berjanji akan meninggalkan segala perbuatan yang ganas itu.

Syeikh Al Asrna'i r.a pun gembira sekali mendengar pernyataan dan janji orang badui itu. Ia kembali kepada Islam dengan ketulusan hati dan meminta agar dirinya mengajarinya untuk shalat serta melakukan ibadah-ibadah lain. Dan dengan senang hati Syeik Al Asrna'i menerima permintaan orang badui itu.

Pertemuan Kedua
Pada tahun berikutnya pada saat Syeikh Al Asrna'i bertawaf mengelilingi Ka'bah, ia melihat seorang lelaki tua yang mengcapkan salam. Ia membalas salamnya dan mencoba mengingat-ingat siapa gerangan orang tersebut.
"Saya dulu si perampok yang pernah bertemu Anda beberapa tahun yang lalu," kata orang tersebut.
Syeikh Al Asrna'i pun langsung ingat. Ia tertegun dengan kesalehan mantan perampok itu.
"Tuan, tolonglah bacakan kepadaku suatu firman Allah yang lain," pinta orang tersebut kepada Syeikh.
"Syeikh AL Asrna'i memenuhi permintaannya dengan membacakan firman Allah surat Adz-Dzariyat ayat 23,

فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالأرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ
 Artinya:
"Maka demi Tuhan langit dan bumi, Sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti Perkataan yang kamu ucapkan."


Syeikh Al Asrna'i melihat orang badui itu mendengarkannya dengan khusyuk, lalu dia jatuh pingsan. Tidak lama setelah itu, ternyata mantan perampok itu telah pulang ke Rahmatullah.
"Alangkah bahagianya orang ini, kehidupannya yang begitu panjang berlumuran dengan dosa diakhiri Tuhan dengan kesalehan. Demikianlah Allah memberikan petunjuk kepad hamba yang dikehendaki-Nya," ucap Syeikh Al Asrna'i r.a.

Saturday, July 23, 2011

Cantik Sabar dan Cerdas

Ummul Mukminin yang satu ini patut menjadi teladan bagi semua wanita muslim, betapa tidak, dengan sabar ia mampu mendukung suaminya berjihad, dan dirinya pun ikhlas ketika suaminya telah mati syahid.




Kisahnya.
Ummu Salamah termasuk wanita yang terhormat dan juga seorang wanita yang berparas cantik serta memiliki pemikiran yang cerdas. Ummu Salamah pada awalnya menikah dengan Abu Salamah Abdullah bin Abdil Asad Al Makhzumi, seorang sahabat yang mengikuti dua kali hijrah. Bagi Abu Salamah, Ummu Salamah adalah istri yang setia, taat menjalankan perintah Allah SWT serta melaksanakan setiap perintah sang suami.

Ummu Salamah senantiasa mendampingi suaminya melawan kerasnya siksaan orang-orang Quraisy, bahkan saat hijrah bersama suaminya ke Habasyah, semua harta dan keluarga ditinggalkannya untuk menjauhi orang-orang zalim dan para thagut yang sedang berkuasa saat itu. Dan di bumi hijrah inilah Ummu Salamah melahirkan putranya yang bernama Salamah.

Hijrah Sendirian
Setelah kondisi Makkah kondusif lagi, Ummu Salamah dan suami serta anaknya kembali menjalanai kehidupan di Makkah. Tak lama kemudian, sebuah peristiwa yang sangat mengesankan mengiringi perjalanan hijrah Ummu Salamah ke Madinah setelah peristiwa Bai'atul Aqabah Al Kubra, Abu Salamah bertekad untuk mengajak anggota keluarganya berhijrah.

Di saat Abu Salamah menunggang unta bersama istri dan anaknya, mereka tiba-tiba dihadang oleh Bani Mughirah dari suku Ummu Salamah. Mereka hanya mengizinkan Abu Salamah dan anaknya saja yang hijrah ke Madinah, sedangkan Ummu Salamah harus tetap tinggal di Makkah.

Terpisah dari suami dan anaknya beberapa waktu lamanya, membuat hati Ummu Salamah hancur. Setiap hari dirinya pergi ke pinggir sungai dang terngiang saat-saat dimana dirinya berpisah dengan suami dan anaknya. Bahkan hal itu membuatnya menangis sampai menjelang malam.

Lama kelamaan Ummu Salamah pun diberi izin untuk hijrah ke Madinah oleh kaum yang menahan dirinya. Dengan hanya ditemani oleh Utsman bin Thalhah, keduanya lantas pergi ke Madinah.
Akhirnya keduanya tiba di desa Bani Umar bin Auf di Quba, tempat dimana Abu Salamah tinggal. Selama di Madinah, Ummu Salamah sibuk mendidik anaknya yang merupakan tugas pokok bagi wanita dan mempersiapkan bekal bagi suaminya untuk berjihad.

Dapat Pengganti
Tak lama kemudian, Rasulullah SAW memanggil Abu Salamah dan mempercayakan kepadanya untuk membawa bendera pasukan menuju Qathn. Kaum muslimin yang dipimpin Abu Salamah meraih kemenangan, namun Abu Salamah kembali menderita luka, sehingga mengharuskan dirinya berbaring di tempat tidur. Sebagai seorang iostri, Ummu Salamah lantas merawat suaminya hingga menjelang akhir hayat Abu Salamah.

Salah satu ucapan suaminya yang masih diingat oleh Ummu Salamah adalah dirinya akan mendapatkan pengganti yang lebih baik dari Abu Salamah. Rasulullah SAW turut memikirkan nasib wanita mukminah yang jujur, setia dan sabar ini.
Beliau melihat tidak bijaksana rasanya apabila dia dibiarkan menyendiri tanpa seorang pendamping. Akhirnya beliau pun melamar Ummu Salamah sehingga menjadikannya seorang Ummul Mukminin.

Ummu Salamah hidup dalam rumah tangga nubuwah yang telah ditakdirkan untuknya dan merupakan suatu kedudukan yang beliau harapkan. Ia menjaga kasih sayang dan kesatuan hati bersama Ummahatul Mukminin. Ummu Salamah juga senantiasa memperhatikan urusan kaum muslimin dan mengamati peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Tepat pada bulan Dzulqaidah tahun 59 setelah hijriyah, ruhnya menghadap Sang Pencipta. Sedangkan umur beliau sudah mencapai 84tahun. Ia wafat setelah memberikan contoh kepada wanita dalam hal kesetiaan, jihad dan kesabaran.

Friday, July 22, 2011

Rasul Sembuhkan Kaki Memar

Nabi Muhammad SAW mendapatkan banyak sekali mukjizat dari Allah SWT sebagai tanda kerasulan-Nya. Dan salah satu mukjizat itu adalah dapat menyembuhkan sakit kaki bekas pukulan atau memar.


Inilah Kisahnya.
Dalam sebuah riwayat dikisahkan pada saat itu telah terjadi Perang Khaibar pada tahun 629 Masehi. Peperangan Khaibar adalah peperangan yang terjadi antara Nabi Muhammad dan pengikutnya dengan orang-orang Yahudi yang tinggal di Oasis Khaibar, sejauh 150 kilo meter dari Madinah di bagian timur laut semenanjung Arab. Pertempuran ini akhirnya dimenangkan oleh umat Islam.

Perang Khaibar init erjadi tidak lama selepas Perjanjian Hudaibiyah. Rasululah SAW memimpin sendiri ekspedisi ketentaraan menuju Khaibar, dan ditempuhnya perjalanan itu selama tiga hari. Khaibar adalah daerah subur yang menjadi benteng utama Yahudi di Jazirah Arab, terutama setelah Yahudi di Madanh ditaklukkan oleh Rasulullah SAW.

Mukjizat Rasul.
Dalam perang tersebut, pasukan muslimn memenangi perang, namun pada saat pasukan muslim sudah menang, Yazid bin Abu Ubaid melihat betis sahabatnya yang bernama Salamah seperti ada bekas pukulan. Betis Salamah terlihat berlumuran darah. Ia pun berkata kepada sahabatnya itu,
"Ini bekas pukulan apa?"
Salamah menjawab, "Ini bekas pukulan yang menimpaku di peperangan Khaibar."

Salamah langsung menemui Rasulullah SAW.
Saat melihat bekas luka itu, Beliau meludahi bekas luka tersebut sebanyak tiga kali, dan tak lama kemudian, Salamah sudah tidak merasakan sakit lagi di daerah betisnya. Para sahabat yang menyaksikan mukjizat itu tak mampu berkata sepatah katapun selain mengakui Kerasulan Nabi Muhammad SAW.

Subhanalloh..

Kisah Mualaf Kebal Api

Dzu'aib bin Kilab ini dianggap memiliki karomah. Ketika ia dilemparkan ke bara api, tubuhnya tetap sehat dan bugar. Karomah itu diberikan Allah karena ia rela disiksa demi mempertahankan keimanan.
Jadi ingat Kisah Nabi Ibrahim ya.
Subhanallah..


Inilah Kisahnya.
Subhanallah..., ketika iman sudah melekat di dada, siksaan fisik pun tiada artinya. Itulah yang dirasakan Dzu'aib bin Kilab. Padahal sebelumnya ia sama sekali tidak mengenal islam, akan tetapi ketika ia mendengar tentang islam dan aneka cerita tentang sosok dan pribadi dan akhlah Rasulullah SAW, ia akhirnya rela masuk Islam. Anak laki-laki dari Kilab bin Rabi'ah Al-Khaulani ini menjadi penduduk Yaman pertama yang masuk Islam.

Rela Disiksa.
Tapi apa yang terjadi, kepindahannya ke Islam malah menimbulkan masalah besar. Seorang yang bernama Aswad Al Ansi, seorang ilmuwan yang menobatkan diri sebagai pengganti Rasulullah yang khusus menguasai Shan'a, ibukota Yaman.
Berbagai upaya dilakukan Aswad Al Ansi untuk mengembalikan Dzu'aib bin Khilab kepada keyakinannya semula.




Tapi dengan ketulusan hati, Dzu'aib tidak mau mengakui Aswad, ia yakin dia adalah nabi palsu. Tapi penolakannya ibu berbuah kecaman dan ancaman, hingga ia pun dipanggil menghadap Aswad.
"Kenapa engkau tidak mempercayaiku, aku juga nabimu," tegur Aswad.
"Aku tidak melihat tanda-tanda kenabian (akhlak yang mulia) pada dirimu," jawab Dzu'aib dengan lantang.
Mendapat jawaban itu, Aswad begitu marah dan berteriak dengan keras,
"Hai Dzu'aib, apakah kamu sadar apa yang kamu katakan tadi?"

Subhanallah..
Diluar dugaan, Dzu'aib ini tetap tegar dengan pendiriannya.
"Tidak ada yang perlu aku takuti, aku tetap beriman kepada Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya," jawab Dzu'aib dengan bangga.
Suasana seketika menjadi tegang, Aswad pun mengancam akan membunuh Dzu'aib.
"Apakah engkau tidak takut jika tubuhmu kami lempar ke bara api itu?" ucap Aswad menggertak.
Tapi dengan keberanian yang luar biasa, Dzu'aib justru tersenyum seraya berseru,
"Aku minta izin, aku mau berdoa dulu kepada Allah SWT."

Dialog tawar menawar akidah itu pun berakhir buntu. Dzu'aib tetap bersikeras bahwa Aswad adalah bukanlah nabi melainkan pendusta alias nabi palsu.


Dilempar ke Bara Api.
Akhirnya Aswad menyuruh beberapa prajuritnya untuk melempar Dzu'aib ke dalam bara api yang disebutnya sebagai neraka. Rupanya Aswad sudah menyiapkannya untuk Dzu'aib. Dengan kepasrahan yang sangat tinggi, Dzu'aib akhirnya menjalani hukuman dengan dimasukkan ke dalam api.

Tapi aneh, begitu ia dilempar, semua mata terbelalak, seperti layaknya menyaksikan kisah Nabi Ibrahim a.s yang kebal api. Tubuh Dzu'aib tidak terbakar, seolah dingin di tengah kobaran api, tubuhnya tak terbakar sedikitpun.
Subhanallah..

Kisah ini diceritakan oleh Ibnu Wahab dari Ibnu Lahi'ah dalam kitab Al Shahabat.

Wednesday, July 20, 2011

Kisah Malaikat Pencatat Amal

Setiap manusia dijaga oleh malaikat pencatat amal yang berada di sebelah kanan dan kirinya.

Kisahnya.
Diterangkan dalam sebuah hadits bahwa manusia dijaga oleh malaikat, salah satunya berada di sebelah kanan sebagai pencatat amal kebaikan tanpa kesaksian yang lain, dan yang satunya lagi berada di sebelah kiri sebagai pencatat amal yang jelek, dan dia tidak akan mencatat amal jelek tanpa kesaksian di sebelah kanannya.
Jika manusia duduk, satu malaikat berada di sebelah kanannya dan malaikat lainnya di sebelah kirinya.
Sedangkan jika manusia berjalan, maka satu malaikat berada di belakangnya dan malaikat yang lain berada di depannya, dan jika manusia tidur, malaikat yang satu berada di dekat kepalanya dan yang lain berada di dekat kirinya.


Kesaksian Malaikat.
Dalam riwayat yang lain dijelaskan, ada 5 malaikat yang menyertai manusia, yaitu:
  • Dua malaikat menjaga pada malam hari.
  • Dua malaikat menjaga pada siang hari.
  • Dan satu malaikat yang tidak pernah berpisah dengannya.
Hal tersebut sesuai dengan firman ALlah SWT,

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِنْ بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ لا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلا مَرَدَّ لَهُ وَمَا لَهُمْ مِنْ دُونِهِ مِنْ وَالٍ

Artinya:
"Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, Maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia."
(QS. Ar-Ra'd: 11).

Bagi tiap-tiap manusia ada beberapa Malaikat yang tetap menjaganya secara bergiliran dan ada pula beberapa Malaikat yang mencatat amalan-amalannya. dan yang dikehendaki dalam ayat ini ialah Malaikat yang menjaga secara bergiliran itu, disebut Malaikat Hafazhah.
Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.




Yang dimaksud malaikat yang bergantian yaitu malaikat malam dan siang yang melindunginya dari jin, setan dan manusia.
Kedua ma;laikat menulis amal kebaikan dan kejelekan diantara kedua bahunya. Lidahnya sebagai pena, mulutnya sebagai tempat tinta, keduanya menulis amal manusia sampai datang hari kematiannya.

Rasulullah SAW bersabda,
"Sesungguhnya malaikat di sebelah kanan itu lebih dapat dipercaya daripada malaikat di sebelah kiri. Maka jika manusia beramal jelek dan malaikat di sebelah kiri akan menulisnya, maka malaikat di sebelah kananya berkata kepadanya,
"Tunggu dulu, tunggulah selama 7 jam, jika dia beristighfar kepada Allah jangan kau tulis dan jika dia tidak beristighfar maka tulislah satu kejelekan."

Maka ketika dicabut nyawa manusia dan diletakkan dalam kuburnya, kedua malaikat berkata,
"Wahai Tuhanku, Engkau telah menyerahkan kepada kami hamba-Mu untuk menulis amalnya dan sungguh Engkau telah mencabut ruhnya, maka ijinkanlah kami naik ke langit."

Maka ALlah SWT berfirman,
"Langit telah dipenuhi dengan malaikat yang membaca tasbih, maka kembalilah kalian berdua dan bertasbihlah kepada-Ku, bacalah takbir dan tahlil, dan tulislah bacaan-bacaan itu untuk hamba-Ku sampai dia dibangunkan dari kuburnya."

Kiraman Katibin.
Allah SWT berfirman tentang malaikat Kiraman Katibin,
"Aku menanamkan mereka Kiraman Katibin karena ketika menulis amal kebaikan mereka naik ke langit dan memperlihatkannya kepada Allah dan mereka bersaksi atas hal tersebut dengan berkata,
"Sesungguhnya hamba-Mu si Fulan berbuat sesuatu kebaikan demikian dan demikian."

Dan ketika menulis atas seorang hamba amal kejelekan, mereka naik dan memperlihatkannya kepada Allah dengan rasa susah dan gelisah.
Maka Allah SWT berfirman kepada malaikat Kiraman Katibin,
"Apa yang diperbuat hamba-Ku?"
Mereka diam hingga Allah berfirman untuk yang kedua dan ketiga kalinya, lalu mereka berkata,
"Ya Tuhanku, Engkau Dzat yang mengetahui aib dan Engkau memerintahkan hamba-hamba-Mu agar menutupi aib-aib mereka. Sesungguhnya setiap hari mereka membaca kitab-Mu dan mereka mengharap kami menutupi aibnya."

Lalu malaikat Kiraman Katibin mengatakan yang mereka ketahui tentang apa yang diperbuat seorang hamba.
Allah SWT berfiman,
"Maka sesungguhnya kami menutupi aib-aib mereka dan Engkaulah Dzat Yang Maha Mengetahui aib-aib."

Karena inilah mereka dinamakan Kiraman Katiban (yang mulia di siai Allah) dan yang mencatat amal perbuatan.
Referensi dari kitab Daqoiqul Akhbar Fii Dzikril Jannati Wan Nar.

Sunday, July 17, 2011

Kisah Shalat Pertama

Meskipun secara diam-diam, perjalanan dakwah Rasulullah SAW sudah dimulai. Jibril pun mengajarkan kepadanya cara melakukan shalat. Mulanya, hanya Khadijah yang ikut melaksanakan shalat. Hingga akhirnya Ali, sepupu Rasulullah SAW pun berkenan mengikuti ajaran Islam.

Suatu hari, Nabi Muhammad SAW dan Malaikat Jibril kembali bersama di sebuah bukit di Makkah. Kali ini Jibril muncul dalam wujud seorang laki-laki. Ternyata Malaikat Jibril akan mengajarkan shalat.

Awalnya, Malikat Jibril terlebih dahulu menghentakkan tumitnya ke rumput hingga air yang beningpun memancar. Jibril kemudian berwudhu, membasuh bagian-bagian terntentu dengan air tersebut. Rasulullah SAW kemudian juga berwudhu seperti yang dilakukan Jibril. Untuk menjalankan shalat, kebersihan adalah hal yang sangat penting, setelah itu, Jibril mengajari Rasulullah SAW cara mendirikan shalat. Mereka pun shalat bersama, tapi tba-tiba Malaikat Jibril menghilang begitu saja.
Rasulullah SAW nampak sangat gembira mendapat ilmu baru. Beliau pun belajar cara berdoa yang dikehendaki Allah SWT. Nabi Muhammad SAW pulang dengan sangat bahagia.

Rasulullah SAW pun mulai mengajarkan apa yang Beliau pelajari kepada istrinya, Khadijah. Mereka berdua kemudian mendirikan shalat berjamaah untuk pertama kalinya. Ada kebahagiaan yang ak terlukiskan dalam diri mereka berdua karena menjalankan shalat ini sangat indah. Dengan shalat, seseorang bisa berhubungan langsung dengan Allah SWT.

Kemudian pasti banyak yang bertanya, loh kenapa Nabi sudah shalat, padahal seharusnya kan pada waktu Isra' Mi'raj. Jadi janganlah salah, para ulama menjelaskan bahwa sebelum Isra' Mi'raj Nabi sudah shalat, tapi bukan shalat wajib seperti yang kita laksanakan sekarang. Perintah shalat wajib memang diturunkan pada saat Rasulullah SAW Isra' Mi'raj. Tata cara shalat yang diikuti adalah tata cara shlat yang dicontohkan Rasulullah SAW pasca Isra' Mi'raj.

Rela Berkorbam Demi Saudara

Al Barra' bin Malik adalah seorang yang gagah pemberani. Ia bahkan rela mati dan tersiksa demi menyelamatkan saudaranya. Ia juga sangat merindukan mati di dalam peperangan membela Islam.

Kisahnya.
Dia adalah saudara Anas bin Malik, namanya Al Barra' bin Malik. Dia adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang juga menjadi pahlawan perang. Walaupun bertubuh kerempeng alias kurus dan berkulit legam, namun ia mampu menewaskan ratusan orang musyrik dalam pertandingan satu lawan satu.

Dalam Perang Yamamah, perang melawan pasukan Musilamah Al Kadzdzab pada masa pemerintatahn Abu Bakar As-Shiddiq, Al Barra' bin Malik menunjukkan kepahlawanannya. Ketika panglima perang Khalid bin Walid melihat pertempuran kian berkobar, ia berpaling kepada Al Barra' seraya berseru,
"Wahai Al Barra', kerahkan kaum Anshar!".
Saat itu juga Al Barra' berteriak memanggil kaumnya,
"Wahai kaum Anshar, kalian jangan berpikir kembali ke Madinah! Tidak ada lagi Madinah setelah hari ini. Ingatlah Allah, Ingatlah surga!".
Setelah berkata demikian, dia maju mendesak kaum musyrikin diikuti prajurit Anshar. Pedangnya berkelebat menebas musuh-musuh Allah yang datang mendekat.

Mengalami Luka-Luka.
Melihat prajuritnya berguguran, Musailamah dan kawan-kawannya menjadi gentar. Mereka lari tunggang langgang dan berlinding disebuah benteng yang terkenal dalam sejarah dengan nama Kebun Maut.
Kebun Maut adalah benteng terakhir bagi Musailamah dan pasukannya. Pagarnya tinggi dan kokoh. Sang pendusta dan pengikutnya mengunci gerbang benteng rapat-rapat dari dalam. Dari puncak benteng, mereka menghujani kaum muslimin yang mencoba masuk dengan panah.

Menghadapi keadaan yang demikian, kaum muslimin sempat kebingungan. Dalam benak Al Barra' muncul ide. Ia pun berteriak,
"Angkat tubuhku dengan galah dan lindungi dengan perisai dari panah-panah musuh. Lalu leparkan aku ke dalam benteng musuh, biarkanlah aku mati syahid untuk membukakan pintu, agar kalian bisa menerobos masuk."
Dalam sekejap, tubuh kerempeng Al Barra' telah dilemparkan ke dalam benteng. Begitu mendarat di benteng bagian dalam, ia langsung membuka pintu gerbang. Kaum muslimin pun banjir menerobos masuk, pedang mereka berkelebat menyambar tubuh dan kepala musuh. Lebih dari 20 ribu orang murtad tewas, termasuk pimpinan mereka, Musilamah Al Kadzdzab.

Berdoa Mati Syahid.
Sebenarnya Al Barra' bin Malik sangat merindukan mati syahid. Dia kecewa karena gagal memperolehnya di Kebun Maut. Sejak itu ia selalu menceburkan diri ke kancahpeperangan. Ia sangat rindu bertemu Rasulullah SAW.
Tatkala Perang Tustar melawan Persia berlangsung, Al Barra' bin Malik tidak mau ketinggalan. Kala itu pasukan musuh terdesak dan berlindung di sebuah benteng yang kokoh dan kuat. Temboknya tinggi besar, namun kaum muslimin mengepunng benteng tersebut dengan ketat.

Dalam keadaan demikian, pasukan Persia menggunakan berbagai car untuk menaklukkan kaum muslimin. Mereka menggunakan pengait-pengait yang diikatkan ke ujung antai besi yang dipanaskan. Rantai tersebut mereka lemparkan kepada kaum muslimin sehingga sebagian dari mereka tersambar pengait panas itu.
Banyak pasukan islam yang tersambar pengait, diantaranya adalah Anas bin Malik, saudara Al Barra' bin Malik. Selama beberapa saat, Anas tidak mampu melepaskan diri dari besi panas yang mengaitnya. Melihat hal itu, Al Barra' bin Malik segera melompat ke dinding benteng dan melepaskan pengait dari tubuh saudaranya.

Tangan Al Barra' bin Malik otomatis melepuh dan terbakar karena memegang pengait yang panas membara. Namun demikian ia tidak mempedulikannya, yang penting baginya adalah keselamatan saudaranya. Akhirnya ia berhasil menyelamatkan Anas walaupun kedua telapak tangannya lepas. Daging kedua lengannya melepuh dan hanya tinggal kerangka.
Sungguh pengorbanan yang luar biasa dahsyatnya.
Dalam Perang Tustar ini juga, Al Barra' bin Malik memohon kepada Allah SWT agar gugur sebagai syahid. Doanya dikabulkan, ia pun gugur sebagai syahid dengan wajah tersenyum bahagia.
(Sampai menetes air mata kala mendengar kata "Sangat rindu bertemu Rasulullah SAW" gan. Selamat Al Barra' doamu dikabulkan Allah SWT berkat sabar dan semangat yang membara).

Saturday, July 16, 2011

Kisah Anak Muslim Pertama

Meskipun masih berdakwah diam-diam, banyak orang yang menyatakan ingin menikmati indahnya Islam. Islam memang indah kawan, bisa menyentuh hati yang paling dalam. Sungguh tiada benar bila Islam identik dengan kekerasan dan lain sebagainya (ma'af).
Islam selalu mengajarkan kebenaran, santun dan selalu menghormati manusia lain tak pandang agama yang dipeluk oleh orang tersebut.


Kisahnya.
Di antara sekian anak yang pertama masuk islam adalah Ali bin Abi Thalib dan Zaid.
Sungguh beruntung kedua anak itu. Mereka bisa tingal di rumah Nabi Muhammad SAW, seorang manusia yang selalu dipuji baik di langit maupun di bumi. Tak semua orang bisa seberuntung mereka.

Anak pertama yang masuk islam adalah Ali, kemudian diikuti oleh Zaid. Mereka menikmati kebahagiaan menjadi anak-anak muslim pertama, mempelajari islam, ajaran terbaik yang paling indah langsung bersama Rasulullah SAW.
Ali tidak pernah terpisah dari Rasulullah SAW meski hanya sebentar. Ali selalu mengikuti kemana saja Rasulullah SAW pergi, bahkan ke gunung dan ke padang pasir.
Mereka selalu shalat bersama, Ali terlihat begitu bahagia dengan apa yang dia lakukan bersama Rasulullah SAW.

Berita tentang perubahan sikap Ali semenjak dekat dengan Nabi Muhammad SAW terdengar ibunya. Ibu Ali mendengar jika putranya itu tidak pernah terpisah dari Rasulullah SAW, shalat bersama dan sebagainya.
Karena tidak tahu seperti apa ajaran islam, ibu Ali pun menjadi khawatir (hal yang lumrah bila seorang ibu khawatir karena belum mengetahui apakah diajari kebenaran atau sebaliknya).

Hingga suatu hari, ia berkata kepada suaminya, Abu Thalib,
"Berhati-hatilah! Anakmu kurasa sudah menghabiskan terlalu banyak waktu bersama Muhammad. Aku takut sesuatu yang membahayakan akan terjadi padanya," ujar Ibu Ali.
Abu Thalib memang tipe orang yang tidak suka menilai seseorang dari satu sisi saja, ia pun tak suka mendengarkan penjelasan dari satu pihak. Abu Thalib pun berusaha mencari kebenarannya dengan caranya sendiri.

Untuk itu, tanpa sepengetahuan istrinya, ia selalu pergi meninggalkan rumah untuk mengetahui apa yang terjadi. Ia pun mencari tahu dimana keponakan dan putranya itu berada.

Dukungan Orang Tua.
Setelah mendapat informasi tentang keberadaan Rasulullah SAW dan anaknya, Abu Thalib pun kemudian pergi ke sana. Ternyata keponakan dan anaknya sedang shalat bersama di sebuah lembah di luar kota Makkah. Abu Thalib mengawasinya dari kejauhan, ia pun mengamati mereka beberapa lama.
Setelah Rasulullah SAW dan Ali selesai menjalankan shalat, Abu Thalib pun mendekati mereka.

Abu Thalib menyapa Nabi Muhammad SAW dan bertanya,
"Muhammad, ajaran apakah yang kau jalankan ini?"
Seperti biasa, Rasulullah SAW mengatakan dengan jujur tentang ajaran yang sedang Beliau anut,
"Paman, ini adalah ajaran yang paling indah, Islam namanya. Kau ada dalam daftar teratas orang yang akan aku ajak masuk Islam. Kau berhak memeluk Islam melebihi dari siapa pun. Berhentilah menyembah berhala dan berdoalah kepada Allah Yang Esa."

Abu Thalib paham betul dengan karakter dan watak keponakannya itu. Muhammad dari kecil terkenal jujur dan tak akan pernah berbohong. Abu Thalib diam sejenak, memikirkan apa yang diucapkan Rasulullah SAW.
"Apa yang akan dikatakan orang-orang kalau aku, seorang pemuka di Makkah melakukan apa yang diminta keponakannya?" bisiknya dalam hati.

Karena khawatir pendapat orang-orang tentangnya, Abu Thalib berkata,
"Aku tidak bisa meninggalkan ajaran amaku. Tapi, kamu teruskan saja menjalankan ajaran barumu. Aku bersumpah, selama aku masih hidup, tidak akan ada orang yang bisa menyakitimu," kata Abu Thalib.
Kemudian ia berpaling kepada anaknya,
"Anakku, bagaimana pendapatmu?"

"Ayah..," kata Ali.
"Aku sudah beriman kepada Allah dan Rasul yang diutus-Nya. Aku sudah menjadi pengikut Muhammad SAW, aku pun sudah shalat bersamanya," kata Ali.
"Memang itulah yang tepat untuk kau lakukan, anakku," kata Abu Thalib.
"Ia akan mengajakmu kepada kebaikan. Lakukan semua yang dikatakannya kepadamu dan jangan pernah meninggalkannya," tambahnya.
Akhirnya Ali pun merasa lega mendengar perkataan ayahnya. Sekarang Ali benar-benar merasa tenang dan tanpa rasa takut lagi kalau diketahui oleh orang tauanya.

(Abu Thalib ini adalah paman dari Rasulullah SAW yang selalu setia melindungi dan mengayomi keponakannya hingga akhir hayatnya, namun sayang paman Nabi yang satu ini belum masuk Islam sampai meninggalnya, hingga turunlah sebuah ayat yang menyatakan hal itu terhadap Rasulullah dan paman Nabi. Mungkin lain kali akan dikisahkan).

Asal Mula Kalimat Syahadat






Dalam rukun Islam, kalimat syahadat ini berada pada urutan pertama. Di dalam Al Qur'an surat AliImran ayat 18 disebutkan bahwa sebab turunnya ayat (Asbabul Nuzul), dimana dua orang ahli kitab yang akhirnya beriman kepada Allah SWT setelah bertemu dengan Rasulullah SAW yang mengajarkan kalimat syahadat kepada mereka .


Berikut Kisahnya.
Pada saat Rasulullah SAW sudah berhijrah dan tinggal di Madinah, Islam berkembang dengan cepat. Banyak orang jahiliyah yang kemudian masuk islam begitu tersentuh dengan dakwah Islam Rasulullah SAW.

Nama besar Rasulullah SAW di Madinah dengan cepat dikenal oleh banyak orang. Bahkan dua orang ahli kitab yang berasal dari negeri Syam sengaja datang ke Madinah untuk bertemu dengan Rasulullah SAW. Kedatangan dua ahli kitab itu karena penasaran terhadap isi al kitab yang mereka pelajari, menyebutkan bahwa di kota itu telah datang seorang nabi akhir zaman. Tentu saja informasi itu membuat keduanya penasaran dan ingin segera membuktikannya.

Dua Ahli Kitab.
Berbekal ciri-ciri yang mereka ketahui tentang Nabi Muhammad SAW yang disebut-sebut sebagai nabi akhir zaman dan mereka berkeliling kota Madinah.
Mereka tidak segan menanyakan keberadaan Nabi Muhammad SAW kepada setiap orang yang mereka jumpai.

Mereka pun meperhatikan setiap orang yang berpapasan dengan mereka. Siapa tahu diantara mereka yang ditemui adalah Nabi Muhammad SAW.

Setelah lama berkeliling dan bertanya kepada setiap orang, akhirnya mereka bertemu dengan Rasulullah SAW.
Dengan pandangan yang menyelidik, ditatapnya Rasulullah SAW dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Apakah engkau yang bernama Muhammad?" tanya salah satu ahli kitab itu.
Rasulullah SAW mengangguk.
"Apakah engkau yang benar-benar bernama Ahmad?" tanya ahli kitab lainnya, seolah tak percaya dengan orang yang berada di depannya.

Rasulullah SAW pun kembali mengiyakan.

Kesempatan itu digunakan sebaik-baiknya oleh dua orang ahli kitab itu untuk menanyakan hal-hal yang ingin mereka ketahui.
"Wahai Muhammad, kami ingin mengetahui sesuatu tentang kalimat syahadat, apakah engkau bisa menjelaskannya dengan baik dan hati kami tergugah karenanya, kami akan beriman dan mengikuti semua perintah dan ajakan engkau," kata mereka.


"Apa sebenarnya yang ingin kalian ketahui?" ujar Rasulullah.
"Kesaksian apakah yang paling hebat dalam Al Qur'an?" tanya mereka lagi.
Kedua ahli kitab itu bukan orang sembarangan. Mereka sudah mempelajari banyak kitab suci yang diturunkan sebelum Al Qur'an seperti kitab Zabur, Taurat dan Injil.

Turun Ayat.
Pada saat itulah, Allah SWT menurunkan ayat Al Qur'an di Surat Ali Imran seperti berikut ini.

شَهِدَ اللَّهُ أَنَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ وَالْمَلائِكَةُ وَأُولُو الْعِلْمِ قَائِمًا بِالْقِسْطِ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

Artinya:
"Allah menyatakan bahwasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu( juga menyatakan yang demikian itu). Tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana."
(QS. Ali Imran: 18)

Melalui ayat itulah kedua ahli kitab itu disadarkan atas keagungan dan kebesaran Allah SWT. Firman Allah SWT yang disampaikan oelh Rasulullah SAW tersebut begitu menyentuh keimanan mereka. Meskipun singkat, mereka merasakan kebenaran atas ayat tersebut.

Luluhlah hati mereka, sehingga tanpa keraguan lagi mereka akhirnya mengucapkan kalimat syahadat sebagai pengakuan atas keesaan Allah SWT dan penunjukan Nabi Muhammad SAW sebagai Rasul-Nya.

Seluruh nabi yang dipilih oelh Allah SWT sama-sama menyerukan kalimat syahadat untuk mengajak seluruh umatnya mempercayai keesaan Allah SWT dan meyakini bahwa Nabi Muhammad SAW adalah utusan Allah.

Oleh karena itu, kalimat syahadat ditempatkan pada urutan pertama dalam rukun Islam. Setelah meyakini keesaan Allah SWT dan meyakini Nabi Muhammad SAW sebagai utusan Allah, rukun islam dilanjutkan dengan shalata, puasa, zakat dan ibadah haji bagi yang mampu ke Baitullah.

Thursday, July 14, 2011

Meninggalnya Makmum Shalat

Kematian memang menjadi rahasia Allah SWT. Jika disuruh memilih, semua orang pasti memilih mati dalam kondisi Khusnul Khatimah, akhir yang baik.
Seperti yang dialami oleh sahabat Amir bin Abdillah bin Zubair, ia menghembuskan nafas terakhirnya pada saat menjadi makmum shalat.

Kisahnya.
Dalam kitab Taarikh Al-Islaam disebutkan bahwa Mush'ab bin Abdillah bercerita tentang Amir bin Abdillah bin Zubair, yang merupakan pemuda yang ahli ibadah. Betapa tidak, setiap kali terdengar kumandang azan, dirinya langsung meninggalkan semua pekerjaan saat itu dan bergegas menuju masjid untuk menunaikan ibadah shalat berjamaah.

Bahkan, dalam kondisi sakit parah sekalipun, dirinya masih istikhamah untuk menjalankan shalat secara berjamaah di masjid terdekat. Amir lebih senang menunaikan shalat secara berjamaah dibandingkan harus menjalankannya seorang diri di rumah karena nilai pahalanya lebih sedikit bila di rumah.

Terserang Penyakit.
Sungguh sikapnya ini patut dijadikan teladan bagi setiap pemuda yang ada di sekitar tempat tinggalnya. Seperti halnya pemuda lain di tempat tinggalnya, Amir pun juga seorang pemuda yang mempunyai cita-cita untuk membahagiakan kedua orang tuanya.
Oleh karena itu, selain belajar, dirinya pun mendapat pelajaran banyak dari cara berdagang yang dilakukan oleh orang tuanya.

Hanya saja, perjalanan kehidupan Amir tak sebahagia yang dibayangkan.
Dalam usia yang masih cukup muda, dirinya sudah terserang suatu penyakit yang cukup aneh. Bahkan penyakit itu membuatnya tak mampu menjalankan rutinitasnya sehari-hari. Amir pun tergolek lemah tak berdaya di atas tempat tidurnya.

Namun demikian, semangat ibadah Amir pantas diacungi jempol dan patutu dicontoh.
Dalam kondisi sedang sakit yang sangat parah, ia yang mendengar muazin mengumandangkan azan utnuk shalat maghrib langsung meminta untuk dibawa ke masjid.
"Pegang tanganku dan antarkan aku menuju masjid," ujar Amir kepada sahabatnya.
"Wahai Amir, engkau dalam kondisi sakit, shalatlah di rumah saja," kata sahabatnya.
"Aku mendengar muazin mengumandangkan azan, sedangkan aku tidak menjawab panggilan-Nya? pegang tanganku dan antarkan aku ke masjid," tutur Amir.

Shalat Maghrib Berjamaah.
"Allah SWT pasti tahu akan keadaanmu saat ini dan memakluminya, shalatlah di rumah saja sehingga engkau tak perlu berjalan jauh ke masjid," kata sahabatnya lagi.

Namun Amir bersikeras meminta diantarkan ke masjid. Maka sahabatnya pun memapahnya ke masjid, kemudian Amir shalat maghrib bersama imam secara berjamaah.
Tak lama berselang, setelah satu rakaat, Amir menghembuskan nafas terakhirnya lalu meninggal dunia dalam keadaan suci.

Seusai shalat, para jamaah saling berebut untuk memuliakan jenazah Amir. Mereka sungguh sangat mengagumi keistikhamahan Amir untuk melakukan shalat berjamaah meskipun dalam kondisi sakit sekalipun.

Amir merupakan seorang alim dan senantiasa mengisi kehidupannya dengan beribadah sesegera mungkin. Bahkan dalam kondisi sekarat tetap ingin segera bisa shalat berjamaah.
Subhanallah...

Godaan Iblis Kepada Nabi Ayub

Kesabaran Nabi Ayub a.s tidak perlu diragukan lagi. Iblis yang mencoba mengikis kesabarannya pun gagal total. Semua jenis jurus dan siasat Iblis sudah dikerahkan, namun tetap saja keimanan Nabi Ayub tak tergoyahkan.
Sungguh kesabaran yang sulit untuk ditiru manusia untuk saat ini.

Beliaulah Nabi Ayyub.
Nabi Ayyub hidup dalam keadaan yang serba ada dan mewah dengan harta kekayaan yang banyak, hidup rukun dengan anak dan istrinya. Namun begitu Nabi Ayyub tidak terlena sedikit pun dengan kekayaan, anak serta istrinya itu. Siang dan malam bibirnya tidak lepas dari mengingat Allah SWT, bersujud dan bersyukur kepada-Nya.

Dengan tingkah laku yang demikian, membuat Iblis sedih dan berusaha untuk menggoda Nabi Ayyub. Iblis tak pernah putus asa menggodanya siang dan malam, namun masih gagal juga.
Kemudian Iblis pergi menghadap Allah dan berkata,
"Wahai Tuhan, sesungguhnya Ayyub tidak beribadah dengan ikhlas, ia hanya takut kehilangan semua hartanya. Andaikan ia ditimpa musibah sehingga hartanya musnah, tentu ia akan berpaling dari-Mu," kata Iblis.



Siasat Iblis.
Ujian Pertama.
Allah mengizinkan keinginan Iblis itu. Maka iblis mengumpulkan kawan-kawannya untuk menguji dan memalingkan keimanan Nabi Ayyub. Untuk pertama kali ia berusaha menghancurkan harta benda Nabi Ayyub. Dengan berbagai cara, akhirnya Iblis berhasil memusnahkan binatang ternak, ladang-ladang serta bangunan-bangunan milik Nabi Ayyub.

Dalam waktu singkat saja, Nabi Ayyub yang sebelumnya kaya raya sekarang menjadi mskin. Setelah itu Iblis pun datang menemui Nabi Ayyub dengan menyamar sebagai orang tua dan berkata,
"Sesungguhnya musibah yang menimpamu ini sangat mengerikan."
Kemudian Nabi Ayyub berkata,
"Ketahuilah, Allah Maha Kuasa yang dapat berbuat sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagai hamba, kita harus menerima takdir-Nya."

Ujian Kedua.
Iblis segera meninggalkan rumah Nabi Ayyub dengan rasa kecewa dan hampa. Namun begitu, dia masih berhasrat untuk mencelakakan Nabi Ayyub a.s.
Kembali ia menghadap Allah SWT dan meminta izin untuk meneruskan usahanya.
Iblis berkata,
"Wahai Tuhan, Ayyub tidak mau menerima hasutanku. Tetapi jika anak-anaknya mati, ia pasti berpaling dari-Mu."




Allah SWT mengizinkan Iblis untuk menggoda lagi Nabi Ayyub. Akhirnya rumah yang dihuni oleh putra-putra Nabi Ayyub menjadi hancur dan putra-putranya meninggal semuanya.

Kemudian Iblis pun pergi ke rumah Nabi Ayyub dengan menyamar sebagai sahabat Nabi Ayyub.
Iblis berkata,
"Hai Ayyub, sudahkah engkau melihat putra-putramu mati? Sudah jelas hai Ayyub, bahwa Tuhan tidak menerima ibadahmu selama ini."

Mendengar ucapan iblis itu, menagislah Nabi Ayyub dengan tersedu-sedu sambil berkata,
"Allah yang memberi dan Dia pulalah yang mengambil kembali."

Ujian Ketiga.
Iblis pergi meninggalkan Nabi Ayyub yang sedang dalam keadaan sujud kepada Allah SWT. Kemudian Iblis kembali menghadap Allah SWT dan berkata,
"Wahai Tuhan, izinkan aku ya Tuhan untuk menguji sekali lagi terhadap kesehatannya."

Allah mengizinkan kehendak iblis tersebut.
Iblis memerintahkan kepada pengikut-pengikutnya supaya menaburkan benih-benih penyakit ke dalam tubuh Nabi Ayyub sehingga Nabi Ayyub menderita sakit parah.

Semua orang menjauhinya karena takut tertular dan hanya tinggal istrinya yang setia menjaga dan merawatnya. Namun demikian dalam keadaan yang tidak berdaya itu, Nabi Ayyub masih tetap beribadah kepada Allah SWT dengan biirnya yang terus menyebut Asma Allah.

Kegagalan Iblis.
Iblis pun akhirnya menjadi kesal dengan sikap Nabi Ayyub tersebut.
Iblis gagal dalam menggoda seorang hamba Allah yang selalu taat dan percaya akan Qada dan Qadar Allah, apapun yang terjadi, apa pun yang dialami di dunia ini Nabi Ayyub tetap sabar dan sabar.
Sungguh Nabi yang sangat sabar dalam menerima cobaan, menerima dengan ikhlas cobaan yang diberikan Allah SWT.

Akhirnya iblis pun menyerah karena tak bisa menggoda lagi Nabi Ayyub. Apapun bentuk godaan yang dilayangkan, tetap saja Nabi Ayyub beriman, tak goyah walau hanya sedikitpun.
Berkat kesabaran dan menerima cobaan dengan selalu beribadah, Allah akhirnya memberikan kesembuhan dan semua nikmat-Nya kepada Nabi Ayyub.
Subhanallah.

Jenazah Ulama Bisa Mengaji

Kisah yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi kita dengar. Dulu mungkin kita sering mendengar cerita ini melalui media radio yang diceritakan oleh Da'i Sejuta Umat, Ustad kondang, Almarhum KH Zainuddin MZ.
Sungguh luar biasa, jenazah bisa mengaji.
Itulah yang terjadi pada kematian Sa'id bin Jubair. Setelah dia divonis mati oleh penguasa zalim dan kepalanya dipenggal, dengan izin Allah SWT mulutnya tetap bisa mengaji, menyebut Asma Allah.


Kisahnya.
Dalam kitab At-Tahrim disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Bani Umayyah ada seorang wakil gubernur yang zalim bernama Hajjaj bin Yusuf. Selama berkuasa, Hajjaj justru menghukum orang yang membela kebenaran, bahkan ia telah memfitnah seorang ulama bernama Sa'id bin Jubair sebagai pemberontak. Akhirnya ia menyuruh pengawalnya untuk menangkap Sa'id.

Setelah beberapa hari dalam pencarian, akhirnya Sa'id dapat ditemukan dan dibawa ke Baghdad untuk dihadapkan kepada penguasa yang lalim itu. Setibanya di istana, terjadi dialog antara Sa'id bin Jubair dan Hajjaj bin Yusuf.

"Siapa nama Anda?" tanya Hajjaj.
"Sa'id bin Jubair (yang bahagia anak orang yang teguh)," jawab Sa'id.
"Tidak, nama yang layak untukmu adalah Syaqiy bin Kusair (Si celaka anak si pecah)," hardik wakil gubernur zalim itu.

"Wahai penguasa, yang memberi nama adalah orang tua, Anda tidak berhak mengubahnya," protes Sa'id.
"Kalau begitu, celakalah kamu dan ibu bapakmu yang memberi nama seperti itu, kamu semua pengkhianat dan wajib dihukum pancung," kata Hajjaj yang mulai terpancing emosi.

"Saya bukan pengkhianat, Anda tidak dapat mencela seperti itu, hanya Allah Yang Maha Kuasa," ujar Sa'id.
"Diam..!! jangan banyak bicara, sekarang ini juga aku akan mengirimmu ke neraka," bentak Hajjaj dengan marah.
"Jika saya tahu bahwa Anda berkuasa menentukan tempatku di akhirat, maka tentu sejak dari dulu saya menyembah Anda," tegas Sa'id.

Penguasa Zalim.
Pernyataan Sa'id membuat Hajjaj makin geram. Lalu Hajjaj menyuruh salah seorang prajuritnya supaya mengeluarkan permata dan mutiara untuk diletakkan di hadapan Sa'id.
"Apakah kamu sudi meminta ampunanku dan menerima permata itu?" kata Hajjaj.
"Tidak, saya hanya mau meminta ampunan kepada Allah, tidak kepada Anda, harta itu tidak dapat menyelamatkan diri Anda dari dahsyatnya hari kiamat," kata Sa'id.

Karena kesal tidak dapat membujuk Sa'id, akhirnya Hajjaj memanggil beberapa pengawal. Hajjaj menyuruh untuk membawa dan membunuh Sa'id. Para pengawal dengan sigap memenuhi titah Hajjaj. Namun ketika mendekati pintu, Sa'id tersenyum. Seorang pengawal memberitahukan hal itu kepada Hajjaj.
"Mengapa kamu tersenyum?" tanya Hajjaj."
"Saya tersenyum karena heran melihat Anda yang berani melawan Allah," ujar Sa'id.

Selanjutnya para prajurit sibuk meyiapkan pedang, hamparan kulit kerbau yang biasa digunakan untuk menampung darah dan bangkai orang yang dihukum pancung di hadapan khalayak ramai.
Sa'id dipegang kuat-kuat, namun ia tidak melawan, malahan dengan tenang ia hadapkan wajahnya ke langit, sedangkan bibirnya tidak henti-hentinya meyebut Asma Allah.

Melihat demikian, Hajjaj semakin geram.
"Tundukkan dan tekan kepalanya," katanya.


Mati Khusnul Khatimah.
Sa'id tidak peduli lagi dengan ocehan Hajjaj. Ketika ia memalingkan wajahnya ke kiblat, Hajjaj menyuruh para pengawal untuk memutar wajahnya sehingga membelakangi kiblat.
Kendati demikian, ia masih saja membaca ayat Al Qur'an,

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya,
"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[1]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui."

Makna [1].
Disitulah wajah Allah, maksudnya kekuasaan Allah meliputi seluruh alam, sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, karena ia selalu berhadapan dengan Allah.
(QS. Al Baqarah: 115).

"Cepat potong lehernya," teriak Hajjaj.
Pedang itupun dengan cepat memotong lehernya, dan Sa'id meninggal dunia setelah mengucap dua kalimat syahadat.
Namun ada sebuah kejadian aneh tatkala kepala Sa'id terpisah dari badannya. Semua yang hadir tercengang karena menyaksikan kepala Sa'id yang terpisah dari badannya tersebut masih sempat menyebut Asma Allah dengan senyuman yang mengejek dunia.
سبحا ن الله

Beberapa hari kemudian, Hajjaj semakin tersiksa batinnya dan mengalami penyakit gila. Dan tak lama kemudian pula, Hajjaj pun mati.

Wednesday, July 13, 2011

Alim Tapi Mati Su'ul Khatimah

Sungguh di luar dugaan, seorang murid paling alim ini ternyata ahli maksiat. Dalam kondisi sakaratul maut, dirinya pun menolak dibacakan Yasin bahkan syahadat, sehingga membuatnya meninggal dalam keadaan Su'ul Khatimah.

Kisahnya.
Fadhil bin 'Iyadh adalah salah seorang tokoh syeikh tarekat, ia mempunyai seorang murid kesayangan. Muridnya tersebut tergolong salah satu murid yang paling alim di antara murid-murid lainnya. Dalam kesahariannya, murid Fadhil tersebut sangat santun dalam bertutur kata dan sopan dalam menjaga sikapnya.
Oleh karena itu, dirinya pun mengajarkan semua yang diketahui olehnya kepada sang murid dengan harapan muridnya kelak mampu menurunkan ilmu yang dimilikinya.

Sakit Keras.
Namun semua itu tak disangka oleh sang guru ketika dalam usia yang masih cukup muda muridnya terserang suatu penyakit yang cukup ganas. Bahkan oleh dokter yang memeriksa kala itu, si murid divonis tak akan bisa sembuh dari penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

Dalam kondisi yang serba kebingungan tersebut, si murid lantas diberi saran oleh sang dokter. Bahwa jika dirinya ingin sembuh dari penyakit ganas tersebut, maka hendaklah minum khamr.
"Berarti saya harus meminum minuman yang memabukkan itu?" tanya si murid.
"Hanya itu yang bisa menyembuhkan penyakitmu," jawab sang dokter.

Tanpa diketahui oelh sang guru, si murid pun mulai meminum khamr demi kesembuhan penyakit yang dideritanya. Akibat perbuatannya tersebut, dirinya lantas ketagihan dan mulai mabuk-mabukan setiap harinya.
Kini, si murid pun juga mulai berani menghasut teman-temannya. Bahkan dirinya juga sampai berani mengadu domba hingga menyebabkan permusuhan diantara para teman-temannya. Hanya saja dirinya mampu menutupi semua perbuatannya itu di depan gurunya sehingga dirinya masih mendapatkan citra yang positif di mata gurunya.

Berbuat Dosa.
Tahun berganti tahun, penyakit yang diderita oleh si murid pun semakin parah sehingga dirinya mengalami sakaratul maut. Menjelang kematiannya, sang guru pun datang kepadanya dan duduk di dekat kepalanya.
Ketika sang guru hendak membacakan surat Yasin, tiba-tiba si murid berkata,
"Wahai guruku, jangan bacakan surat ini."

Sang guru terdiam, lalu dirinya m,embimbing murid yang dicintainya itu agar membaca لا اله الله. Sekali lagi sang murid juga menolak dan berkata,
"Aku tidak mau membacanya, karena aku tidak menyukainya."
Akhirnya sang murid menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sang guru merasa heran menyaksikan keadaan murid kesayangannya.

Kemudian sang guru pulang dan masuk ke kamarnya, ia berdiam diri di kamarnya, lalu ia bermimpi bahwa muridnya dicampakkan ke neraka Jahannam. Dalam mimpinya ia bertanya kepada muridnya,
"Mengapa Allah mencabut makrifat darimu, padahal kamu termasuk muridku yang paling alim?"
"Allah mencabut makrifatku karena 3 hal:
Pertama, karena namimah (mengadu domba).
Kedua karena hasut, aku dengki kepada sahabat-sahabatku, 
dan yang ketiga, demi kesembuhan penyakitku, aku ikuti nasehat dokter dengan meminum khamr. Itulah tiga hal yang menyebabkan aku Su'ul Khatimah, mengakhiri hidup dengan keburukan," jawab sang murid dalam mimpi gurunya.

Jari Rasulullah Bercahaya

Mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sangat banyak jumlahnya, ada yang sudah terkenal dan banyak didengar oleh kebanyakan kaum muslimin.
Salah satu dari sekian banyak mukjizat itu adalah jari tangan Rasulullah SAW bisa mengeluarkan cahaya.


Berikut Kisahnya.
Dirawikan dari Hamzah bin 'amr al-Aslami, ia bercerita bahwa pada suatu saat di malam hari ia berjalan bersama Rasulullah SAW. Kondisi saat itu gelap gulita tanpa penerangan sedikitpun. Kemudian keduanya berpencar di ujung jalam, dan saat berpencar itulah Hamzah mengetahui bahwa jari jemari Rasulullah SAW bersinar sangat terang.

Begitu terangnya sinar itu hingga beberapa sahabat Rasulullah SAW yang lain bisa mengumpulkan hewan tunggangan mereka serta tak ada seorang pun yang tersesat.

Keistimewaan jari jemari Rasulullah SAW lainnya juga bisa memancarkann air.
"Aku pernah melihat Rasulullah pada saat waktu shalat ashar tiba, orang-orang mencari air wudhu, tapi mereka tak menemukan air. Kemudian Rasulullah datang dengan membawa sebuah wadah berisi air wudhu. Rasulullah SAW lalu memasukkan tangannya ke dalam wadah itu, lalu Beliau menyuruh orang-orang berwudhu dari wadah itu. Saat itu Anas bin Malik menyaksikan air memancar dari bawah jari jemari Rasulullah SAW.
(HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa'i, dan Tirmidzi).

Bersinar Terang.
Bukan hanya jari jemari Beliau saja yang bersinar, dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa tongkat Beliau serta setandan kurma pemberian Beliau juga mampu mengeluarkan cahaya.

Dirawikan dari Maimun bin Zaid Abas bahwa Rasulullah SAW sutu saat memberikan sebuah tongkat pada Abu Abas setelah ia mengalami kebutaan. Rasulullah SAW berkata kepada Abu Abas,
"Gunakanlah tongkat ini sebagai penerang jalanmu."

Kemudia Abas menerima tongkat itu, anehnya, tongkat dari kayu itu tiba-tiba bisa mengeluarkan cahaya sehingga menerangi jalan Abas.

Dalam riwayat lainnya sisebutkan bahwa Abu Abas shalat lima waktu bersama Rasulullah SAW. Kemudian ia pulang ke perkampungan Bani Haritsah. Di suatu malam yang gelap gulita dan hujan sedang turun dengan derasnya, Abas keluar lalu tongkat pemberian Rasulullah SAW itu ia gunakan untuk menerangi jalan. Akhirnya Abas selamat hingga sampai di rumah Bani Haritsah.

Setandan Kurma.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Na'im dijelaskan bahwa pada suatu malam, Rasulullah SAW keluar dari rumah menuju masjid untuk menunaikan shalat Isyak. Ketepatan malam itu juga hujan turun dengan derasnya dan disahuti petir. Saat sinar petir menerangi malam, Rasulullah SAW melihat Qatadah bin Nu'man.

"Hai Qatadah, setelah Anda selesai shalat, tetaplah duduk di tempatmu hingga aku menyuruhmu," ucap Rasulullah SAW.
Seusai shalat, Rasulullah SAW menemui Qatadah dan memberikan sebuah tandan kurma.
"Ambillah tandan kurma ini, ia akan menerangi jalan di depanmu sepuluh langkah dan dibelakangmu sepuluh langkah," tutur Nabi Muhammad SAW seraya memberikan setandan kurma itu.

Qatadah menerimanya.
Lalu saat pulang ke rumahnya, setandan kurma itu benar-benar menerangi jalannya sampai di rumah.
Subhanallah.

Tuesday, July 12, 2011

Asiyah Rela Mati Demi Iman

Meskipun bersuamikan Fir'aun, Asiyah binti Muzahim tak terpengaruh dengan tabiat buruk suaminya yang mengaku sebagai Tuhan. Ia justru beriman kepada Allah SWT dan rela mati di tangan suaminya sendiri demi keyakinannya itu.
عسيه
Cuplikan Kisahnya.
Kisah keimanan Asiyah binti Muzahim ini diabadikan dalam Al Qur'an, Allah SWT berfirman,

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya:
"Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim."
(QS. At-Tahrim: 11).

Asiyah binti Muzahim termasuk sedikit diantara manusia yang namanya terukir dalam Al Qur'an. Tidak hanya itu, ia pun juga termasuk satu diantara empat wanita terbaik di alam semesta, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
"Sebaik-baik wanita di semesta alam ada empat, yaitu Asiyah istri Fir'aun, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad."
(HR. Bukhari dan Tirmidzi).

Bayi Musa.
Peristiwa mengenai perjuangan Asiyah binti Muzahim yang menemukan bayi Musa di sungai. Atas persetujuan Fir'aun, lantas Musa diangkat sebagai anak angkat di kerajaan itu. Asiyah sendiri pada waktu itu belum dikarunia seorang anak pun sehingga besar keinginan untuk mengadopsi Musa. Padahal kala itu Fir'aun telah memutuskan percaya anjuran para ahli nujum istananya untuk membunuh semua bayi yang terlahir berjenis kelamin laki-laki. Konon menurut ahli nujum, kekuasaan Fir'aun akan jatuh oleh seorang laki-laki yang lahir di zaman itu.

وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٩)

Artinya:
dan berkatalah isteri Fir'aun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedang mereka tiada menyadari.
(QS. Al Qashas: 9).

Bujukan Asiyah untuk menggagalkan pembunuhan bayi Musa itu pun membawa hasil. Fir'aun mengabulkan permintaan istrinya. Sejak saat itu hiduplah bayi Musa dalam lingkungan istana Fir'aun dan dibawah asuhan Asiyah binti Muzahim.
Asiyah memang belum dikarunia putra, sehingga kehadiran Musa memiliki arti penting baginya. Kerinduan seorang wanita yang ingin menimang bayi telah terobati.

Singkat cerita, ketika bayi Musa tersebut telah tumbuh dewasa dan semua orang berbondong-bondong menyatakan pengakuan terhadap Fir'aun, Asiyah malah sebaliknya. Ia terang-terangan menolak Fir'aun sebagai Tuhan. Betapa pun besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami, ia tidak bisa menerima pengakuan itu. Ia tetap memegang teguh keyakinannya bahwa Tuhan yang patut disembah adalah Allah SWT.

Asiyah Relakan Nyawa.
Sikapnya itu membuat Fir'aun marah. Asiyah terus-menerus mendapat tekanan agar meninggalkan keyakinannya itu. Tetapi usaha itu sia-sia.
Meskipun hidup di bawah tekanan dan ancaman, ia tak takut sedikit pun untuk mempertahankan keyakinannya. Ia sabar menghadapi perilaku buruk suaminya dan hanya pasrah kepada Allah.

Asiyah tetap teguh mengikuti ajaran Musa a.s walaupun nayawa sebagai taruhannya. Ketika Fir'aun masuk ke dalam kamarnya setelah membakar keluarga Masyitoh, Fir'aun berkata,"Kuharap kamu telah menyaksikan apa yang terjadi atas perempuan yang ingkar kepada tuhannya yang agung, Fir'aun."
Dengan cepat Asiyah menyela,"Celaka engkau, hai Fir'aun dengan azab Allah."

Seketika perkataannya itu telah membuat Fir'aun marah besar. Fir'aun segera memerintahkan para pengawal untuk mengikatnya di empat tiang kebun istana, kemudian para pengawal mengambil cambuk dan menderakan ke tubuh Asiyah.
Sementara Fir'aun memerintahkan untuk memperkeras siksaan itu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Asiyah selain munajat kepada Allah SWT.

Akhirnya Asiyah binti Muzahim rela kehilangan nyawa di tangan suaminya sendiri demi mempertahankan keimanannya kepada Allah SWT.
Subhanallah.

Sunday, July 10, 2011

Nabi Sulaiman Menangkap Iblis

Nabi Sulaiman a.s pernah mengkap Iblis dan memenjaraknnya selama beberapa hari, namuk kemudian dilepaskan lagi karena mendapat teguran Allah SWT dan karena banyak rakyatnya mengeluh karena kelaparan.

Seperti banyak diketahui, bahwa Nabi Sulaiman memiliki kerajaan yang besar sekali, wilayah kekuasaannya sangat luas dan banyak musuh yang tunduk kepadanya dari berbagai golongan, dari golongan manusia, binatang, jin dan bahkan iblis pun tunduk pula kepadanya.




Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Sulaiman a.s memohon kepada Allah SWT,
"Ya Allah, Engkau telah menundukkan kepadaku manusia, jin, binatang buas, burung-burung dan para malaikat. Ya Allah, aku ingin menangkap iblis dan memenjarakannya, merantai dan mengikatnya, sehingga manusia tidak berbuat dosa dan maksiat lagi.
Allah SWT kemudian mewahyukan kepada Sulaiman a.s,"
Wahai Sulaiman, tidak ada kebaikannya jika iblis ditangkap."

Nabi Sulaiman a.s tetap memohon,
"Ya Allah, keberadaan makhluk terkutuk itu tidak memiliki kebaikan di dalamnya."
Allah berfirman,
"Jika iblis tidak ada, maka banyak pekerjaan manusia yang akan ditinggalkan."

Nabi Sulaiman Memenjarakan Iblis.
Nabi Sulaiman berkata,
"Ya Allah, aku ingin menangkap iblis selama beberapa hari saja."
Allah SWT berfirman,
"Bismillah, tangkaplah iblis."

Kemudian Nabi Sulaiman a.s menangkap iblis dan merantai serta memenjarakannya. Nabi Sulaiman tampak puas setelah memenjarakan iblis laknatullah itu.
Sementara itu, Nabi Sulaiman a.s merajut tas untuk dijual ke pasar setiap harinya.
Beliau memang memiliki kerajaan yang sangat besar, namun untuk keperluan makan, Beliau mencari sendiri dari hasil jerih payahnya.

Suatu hari, Beliau pergi ke pasar untuk menjual tas hasil rajutannya, karena dari hasil penjualan tas itu bisa dibelikan gandum untuk dibuat roti sebagai makanan hari itu juga.
Padahal dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa dapur kerjaan Nabi Sulaiman telah dimasak 4000 unta, 5000 sapi dan 6000 kambing. Meski demikian, Nabi Sulaiman a.s tetap menjual tas dan menjualnya ke pasar untuk mencari makan.

Keesokan harinya, Nabi Sulaiman a.s mengutus anak buahnya untuk menjual tasnya ke pasar, namun mereka melihat pasar itu tutup dan tak ada yang berdagang sama sekali. Akhirnya mereka kembali pulang dengan tangan hampa sekaligus mengabarkan hal ini kepada Nabi Sulaiman.




Nabi Sulaiman bertanya,
"Apa yang terjadi?"
Mereka menjawab,
"Kami tidak tahu."
Pada hari berikutnya sama saja, anak buahnya membawa kabar bahwa pasar telah tutup dan semua orang pergi ke makam, sibuk menangis dan meratap. Semua orang siap-siap melakukan perjalanan ke akhirat.

Iblis Dilepaskan.
Nabi SUlaiman a.s bertanya kepada Allah SWT,
"Ya Allah, apa sebenarnya yang telah terjadi? Mengapa orang-orang tidak bekerja mencari makan?"
Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Sulaiman a.s,
"Wahai Sulaiman, engkau telah menangkap iblis itu, sehingga akibatnya manusia tidak ada gairah lagi untuk mencari nafkah. Bukankah sebelumnya telah Aku katakan kepadamu bahwa menagkap iblis itu tidak mendatangkan kebaikan?"

Mendengar wahyu Allah SWT tersebut, Nabi Sulaiman a.s segera membebaskan iblis. Keesokan harinya, orang-orang sudah terlihat seperti biasanya lagi, pergi ke pasar dan mencari nafkah. Mereka sibuk bekerja dan mencari nafkah.
Jadi, jika iblis tidak ada, pekerjaan manusia akan kacau balau.

Wednesday, July 6, 2011

Tuanku Tambusai Mengislamkan Batak

Tuanku Tambusai asalah salah seorang ulama yang berjuang mengislamkan masyarakat Batak. Gaya bahasanya yang santun, adab dan kepribadiannya yang lembut membuatnya mudah diterima oleh masyarakat kala itu.
Kelahiran Tuanku Tambusai.
Beliau lahir di Dalu-dalu, nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau pada 5 November 1784. Beliau sejak kecil hingga remaja tinggal di sebuah desa yang sebagian besar dihuni para pedagang Minangkabau, lokasinya berada di tepi Sungai Sosak, anak Rokan.

Beliau memiliki nama kecil Muhammad Saleh, anak dari pasangan Ibrahim dan Munah.
Ayahnya seorang ulama besar di Tambusai, Riau. Sewaktu kecil Muhammad Saleh telah diajarkan ayahnya ilmu bela diri, termasuk ketangkasan menunggang kuda dan tata cara bernegara.

Belajar Agama Islam.
Untuk memperdalam ilmu agama, Tuanku Tambusai pergi belajar ke Bonjol dan Rao di Sumatera Barat. Di sana Beliau banyak belajar dengan ulama-ulama Islam yang berpaham Paderi, hingga dia mendapatkan fakih, artinya seorang ahli fikih yang luas pengetahuan hukum Islamnya.



Ajaran Paderi begitu melekat pada dirinya, karena dianggap sebagai permurnian terhadap ajaran-ajaran islam yang selama ini telah diselewengkan. Semangatnya memperdalam ajaran agama begitu besar, hingga kemudian hari ajaran itu disebarkan pula di tanah kelahirannya, yaitu Tambusai.
Di sini ajarannya dengan cepat diterima oleh masyarakat sehingga banyak yang menjadi pengikutnya.
Semangatnya untuk menyebarkan dan melakukan pemurnian islam mengantarkannya untuk mengislamkan masyarakat di tanah Batak yang masih banyak menganut Pelbegu, yaitu agama nenek moyang.


Dakwah Islam.
Upaya untuk mengislamkan masyartakat Batak berhasil dengan sukses. Orang-orang Batak yang awalnya sulit memeluk agama Islam akhirnya banyak yang masuk islam, padahal masyarakat Batak karakteristiknya keras dan sulit diatur. Tetapi berkat strategi dakwah yang santun akhirnya msayarakat Batak banyak yang bersedia masuk Islam.

Orang-orang Batak yang beragama Islam adalah hasil dakwah dari Tuanku Tambusai, sedangkan yang beragama kristen itu adalah pengikut dan bekas kaki tangan Belanda.
Meski demikian kedua agama itu saling hidup rukun sebagai rakyat Batak yang mencintai tanah kelahirannya.

Tuanku Tambusai Membantu Tuanku Imam Bonjol.
Di tengah-tengah Beliau berdakwah, terdengar kabar bahwa Tuanku Imam Bonjol memimpin perang melawan Belanda. Tuanku Tambusai tidak tinggal diam begitu saja, kemudian Beliau ikut berperaang melwan tentara Belanda dengan perjuangannya di mulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di Benteng Dalu-dalu.

Kemudian Beliau melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823, dan tahun depannya beliau memimpin pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing dan Natal untuk melawan Belanda.
Dia menjadi pemimpin Paderi pada tahun 1832, setelah Belanda mengangkat Tuanku Mudo menjadi regent Bonjol.





Dalam kurun waktu 15 tahun, Tuanku Tambusai cukup merepotkan pasukan Belanda sehingga sering meminta bantuan pasukan dari Batavia. Berkat kecerdikannya, benteng Belanda Fort Amerongen dapat dihancurkan.

Bonjol yang jatuh ke tangan Belanda dapat direbut kembali walupun tidak bertahan lama. Tuanku Tambusai tidak saja menghadapi Belanda, tetapi juga sekaligus pasukan Raja Gedombang (regent Mandailing) dan Tumenggung Kartorejo yang berpihak pada Belanda.
Oleh Belanda, Beliau diberi gelar "De Padrische Tijger Van Rokan" yang artnya Harimau Paderi dari Rokan. Gelar ini diberikan karena Belanda merasa kesulitan untuk menaklukkan Tuanku Tambusai.

Tuanku Tambusai Diangkat Sebagai Pahlawan.
Keteguhan sikapnya diperlihatkan dengan menolak ajakan Kolonel Elaout untuk berdamai.
Pada tanggal 28 Desember 1838, Benteng Dalu-dalu jatuh ke tangan Belanda dan Tuanku Tambusai berhasil lolos melalui pintu rahasia. Ia mengungsi dan wafat di Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia pada tanggal 12 November 1882 pada usia 98 tahun.
Karena jasa-jasanya dalam menentang penjajahan Hindia Belanda, pada tahun 1995 pemrintah Indonesia mengangkat Beliau sebagai Pahlawan Nasional.

Friday, July 1, 2011

Kambing Beranak Tanpa Kawin

Demi menjamu Rasulullah SAW dan Abu Bakar, seorang janda menyerahkan kambing betinanya. Namun kambing itu tak disembelih, melainkan hanya diambil susunya. Berkat doa Rasulullah, kambing itu beranak sangat banyak tanpa melalui proses kawin.

Berikut Kisahnya.
Kisah Islamiah hadir kemabli dan kali ini menceritakan sebuah kisah yang diriwayatkan dari Abu Bakar Ashshiddiq.
Bahwa pada suatu hari dirinya bepergian bersama Rasulullah SAW ke luar kota Makkah. Keduanya melintas di sebuah perkampungan Arab, dan di kampung itu Rasulullah SAW melihat sebuah rumah yang berada di bagian pojok.

Beliau berjalan menuju rumah itu lalu singgah sejenak diluar rumah tersebut.
Keduanya kemudian ditemui oleh penghuni rumah, yang ternyata seorang wanita tua.

"Hai hamaba Allah, aku hanya seorang wanita, karena itu hendaklah kalian menemui pemuka kampung ini biar mendapat jamuan sebagai tamu," ucap wanita tua itu.

Lalu tak lama kemudian, datanglah seekor anak sambil menggembalakan beberapa ekor kambing yang semuanya berjenis kelamin betina.
"Hai anakku, pergilah dengan membawa seekor kambing betina dan pisau ini, lalu berilah kepada kedua orang itu," suruh wanita tua itu.

Doa Nabi.
Si anak menuruti perintah wanita tua itu, yang tak lain adalah ibunya sendiri. Ia membawa kambing betina itu dan pisau untuk diberikan kepada Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ashshiddiq. Si anak ini juga tak mengerti siapa kedua orang itu.
"Ibuku menyuruh agar aku memberikan kambing betina dan pisau ini, sembelihlah dan makanlah dagingnya," ujar anak itu.

Mendapati penawaran tersebut, Rasulullah SAW berkata kepada anak itu,
"Pergi dan bawalah pisau ini, lalu bawalah kemari sebuah bejana (wadah) untuk susu," tutur Rasulullah SAW dengan lemah lembut.
"Ketahuilah, kambing betina ini sudah tidak kawin dan sudah tidak punya susu," ujar anak itu dengan polos.

Rasulullah SAW tetap menyuruh anak itu menuruti perintahnya, dan akhirnya tak lama kemudian si anak kembali lagi dengan membawa sebuah bejana susu.
Rasululah SAW kemudian mengambil posisi berjongkok dan tangannya mengusap kelenjar susu kambing betina itu sambil berdoa. Tak lama kemudian, Beliau juga mulai memerah susu kambing betina itu hingga bejana susu itu penuh.

"Pergilah dengan membawa bejana susu ini, lalu berikanlah kepada ibumu," ucap Rasulullah.
Si anak tersebut patuh, ia memberikan bejana susu kepada ibunya. Sang ibu cukup terkejut karena ia tahu bahwa kambing pemberiannya itu sudah lama sekali tidak memproduksi susu, namun si ibu tetap meminum susu kambing itu hingga kenyang.
"Bawalah kembali bejana ini kepada para tamu itu," ucap wanita tua itu kepada anaknya.

Kambing Beranak Banyak.
Si anak kemudian sampai kepada Rasulullah kembali dan menyerahkan bejana itu.
Namun lagi-lagi Rasulullah SAW memerah susu kambing itu hingga penuhlah bejana dengan susu kambing.
"Pergilah dan bawa bejana susu ini, lalu bawalah bejana yang lain untuk kami," ucap Rasulullah SAW.

Di bejana yang lain, Rasulullah dapat memenuhinya dengan susu kambing, dan di bejana itu Beliau dan Abu Bakar meminum susunya. Pada malam itu, Rasulullah dan Abu Bakar bermalam di tempat itu, dan keesokan harinya mereka meneruskan perjalanan.

Beberapa tahun kemudian, kambing betina yang diperah susunya oleh Rasulullah SAW itu jumlahnya bertambah banyak. Aneh sekali karena kambing itu tak pernah kawin.
Namun itulah salah satu mukjizat Rasulullah SAW.

Wanita tua dan anak itu lantas akan menjual anak kambing ke Madinah.
Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Abu Bakar Ashshiddiq. Wanita tua itu menghampiri Abu Bakar dan bertanya,
"Hai hamba Allah, siapa laki-laki yang dulu bersamamu datang ke rumahku?" tanya wanita tua itu.
"Apakah engkau tidak mengetahuinya? Dialah seorang utusan Allah," ujar Abu Bakar.

Abu Bakar kemudian mempertemukan wanita tua itu dan anaknya ke Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW memberikan jamuan tamunya itu, sedangkan si wanita tua itu memberikan hadiah berupa keju dan barang-barang khas Arab Badui.
Wallahu A'lam.


(Banyak kisah tentang riwayat ini, namun pada intinya adalah sama dengan tutur kata yang berbeda. Maaf bila ada kesalahan menuliskan riwayat dalam bentuk prosa atau cerita ini.)