Minggu, 11 September 2011

Anak Kecil Pencari Tuhan

Kisah islami teladan kali ini tentang seorang anak kecil yang mencari Tuhan.
Anak kecil ini mencari tahu siapakah pencipta langit dan bumi tempatnya berpijak, dialah Nabi Ibrahim a.s.


Kisahnya.
Kisah perjalanan Nabi Ibrahim saat masih kecil dalam mencari Tuhan ini disebutkan dalam ayat suci Al Qur'an, surat Al-An'am ayat 75.

وَكَذَلِكَ نُرِي إِبْرَاهِيمَ مَلَكُوتَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَلِيَكُونَ مِنَ الْمُوقِنِينَ

Artinya:
"Dan demikianlah Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan (kami yang terdapat) di langit dan bumi dan (kami memperlihatkannya) agar dia termasuk orang yang yakin."

Dikisahkan pada masa Raja Namrud menguasai wilayah Babilonia, lahirlah Nabi Ibrahim dari seorang wanita yang bernama Litsa binti Karbita dan ayahnya bernama Tarah. Tarah sendiri berprofesi sebagai pembuat patung untuk kemudian disembah sebagai Tuhan oleh rakyat Babilonia.




Bayi Ibrahim kemudian disembunyikan di gua tempat kelahirannya. Orang tuanya takut jika diketahui pasukan Raja Namrud, maka bayinya pasti akan dibunuh. Sebab pada masa itu ada perintah dari raja Namrud untuk membunuh semua bayi laki-laki. Di setiap kesempatan, Litsa datang ke gua itu secara sembunyi-sembunyi untuk memberi makan dan minum kepada putranya. Tanpa diketahui oleh prajurit Babilonia dan warga Babilonia, Ibrahim tumbuh dengan cepatnya.

Patung Tuli.
Ibrahim tumbuh dalam hidayah Allah SWT. Ibrahim merasa heran dengan perilaku masyarakat di sekitarnya. Mereka menyembah patung berhala. Ibrahim sudah mengerti jika patung tersebut mustahil bisa mengabulkan permohonan orang yang menyembahnya. Patung itu hanyalah benda mati yang bisu dan tuli, terlebih lagi patung-patung itu adalah buatan ayahnya sendiri.

Suatu hari Ibrahim bertanya kepada ibunya tentang Tuhan.
"Wahai ibuku, siapakah Tuhanku?" kata ibrahim.
"Akulah tuhanmu," jawab sang ibu.
"Kemudian siapakah tuhan ibu?" tanya Ibrahim lagi.
"Ayahmu adalah tuhanku," jawab ibunya lagi.
"Jika demikian, siapakah tuhan ayah?" ujar Ibrahim penasaran.
"Tuhan ayahmu adalah Raja Namrud, dialah tuhan kita semua," jelas ibunya.
"Lalu siapakah sebenarnya tuhan dari Raja Namrud?" kata Ibrahim yang terus bertanya.
Litsa hanya diam membisu. Ia tidak bisa menjawab pertanyaan anaknya. Ibrahim akhirnya mencari dan menemukan tuhan yang pantas ia sembah.


Hidayah Allah SWT.
Pada suatu malam, Ibrahim melihat bintang di langit yang besar. Ia kemudian menganggap bintang itu sebagai Tuhan. Namun, ktika bintang itu tenggelam, Ibrahim tidak lagi menganggapnya sebagai tuhan karena musathil Tuhan dapat tenggelam.
Keesokan malamnya, Ibrahim melihat bulan yang bersinar terang dan kemudian menganggap bulan itu sebagai tuhan. Namun setelah pagi hari, bulan itu tidak terlihat lagi maka Ibrahim menyebut bulan tak pantas di sembah.


Lalu pada pagi itu, Ibrahim mendapati matahari yang menyinari alam, ia pun lantas menganggap matahari sebagai tuhan.
Namun lagi-lagi Ibrahim sangat kecewa karena matahari menghilang jika malam datang.
Pencarian Ibrahim berakhir ketika Allah SWT memberikan pengertian serta keyakinan yang benar kepadanya. Sehingga Ibrahim beriman kepada Allah SWT.

"Sesungguhnya aku mendapatkan diriku kepada Tuhan yang telah menciptakan langit dan bumi, dan aku cenderung kepada agama yang benar. Sesungguhnya aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan," katanya dengan penuh rasa syukur.
Ibrahim telah menemukan Tuhan yang sesungguhnya. Dengan keyakinan dan keimanan yang mantap, Ibrahim berani mengungkapkan kebenaran.

nb:
Gambar hanya ilustrasi saja.