Senin, 31 Oktober 2011

Sunan Kalijaga Diusir dari Kadipaten

Kisah islamiah kali ini akan bercerita tentang salah satu punggawa Walisanga yang yaitu Sunan Kalijaga.
Dari manakah asalnya hingga sampai menjadi seorang wali yang sangat dikagumi hingga sekarang. Karena kisahnya sangat panjang, maka akan dipecah-pecah menjadi beberapa judul postingan.


Kisahnya.
Siapa Sunan Kalijaga
Sunan Kalijaga aslinya bernama Raden Said.
Beliau ini adalah putra Adipati Tuban yang bernama Tumenggung Wilatikta. Tumenggung Wilatikta seringkali disebut Raden Sahur.Walaupun dia ini termasuk keturunan Ranggalawe yang beragama Hindu, tapi Raden Sahur sendiri sudah masuk agama Islam.

Sejak kecil Raden Said sudah diperkenalkan dengan agama Islam oleh guru agama Kadipaten Tuban. tetapi karena melihat keadaan sekitar yang kontradiksi dengan kehidupan rakyat jelata, maka jiwa Raden Said berontak.

Gelora jiwa muda Raden Said seakan meledak-ledak manakala melihat praktek oknum pejabat Kadipaten Tuban di saat menarik pajak pada penduduk atau rakyat je;lata.

Rakyat yang pada waktu itu sudah sangat menderita dikarenakan adanya musim kemarau panjang, semakin sengsara, mereka harus membayar pajak yang kadangl kala tidak sesuai dengan ketentuan yang ada. Bahkan jauh dari kemampuan mereka. Seringkali jatah untuk persediaan menghadapi musim panen berikutnya sudah disita para penarik pajak.

Walaupun Raden Said putra seorang bangsawan, dia lebih menyukai kehidupan yang bebas, yang tidak terikat oleh adat istiadat kebangsawanan. Dia gemar bergaul dengan rakyat jelata atau dengan segala lapisan masyarakat, dari yang paling bawah hingga paling atas. Justru karena pergaulannya yang supel itulah dia banyak mengetahui seluk beluk kehidupan rakyat Tuban.

Berniat Mengurangi Penderitaan Rakyat.
Nait dari Raden Said untuk mengurangi penderitaan rakyat sudah disampaikan kepada ayahnya, tapi agaknya ayahnya tidak bisa berbuat banyak. Dia cukup memahaminya karena posisi ayahnya sebagai adipati bawahan Majapahit.Tapi, niat itu tak pernah padam. Jika malam-malam sebelumnya dia sering berada didalam kamarnya sambil membaca Al Qur'an, maka sekarang dia sering keluar rumah.

Pada saat penjega gudang Kadipaten tertidur lelap, Raden Said mengambil sebagian hasil bumi yang ditarik dari rakyat untuk disetorkan ke Majapahit. Bahan makanan itu dibagi-bagikan kepada rakyat yang sangat membutuhkannya. Hal ini dilakukan tanpa sepengetahuan mereka.
Tentu saja rakyat yang tidak tahu apa-apa itu menjadi kaget bercampur gembira karena telah menerima rezeki yang tak terduga. Walaupun mereka tak pernah tahu siapa gerangan yang memberikan rezeki itu sebab Raden Said melakukannya di malam hari secara sembunyi-sembunyi.

Bukan hanya rakyat jelata yang terkejut atas rezeki yang seakan turun dari langit itu. Penjaga gudang kadipaten juga merasa kaget, hatinya gundah karena semakin hari barang-barang yang hendak disetorkan ke pusat kerajaan Majapahit itu semakin berkurang.

Ia ingin mengetahui siapakah pencuri barang hasil bumi di gudang itu. Pada suatu malam, ia sengaja mengintip dari kejauhan, dari balik sebuah rumah, tak jauh dari gudang Kadipaten.
Dugaannya benar, ada seorang yang membuka pintu gudang, hampir tak berkedip penjaga pintu itu memperhatikan pencuri itu. Dia hampir tak percaya kalau pencuri itu adalah Raden Said, putra junjungannya sendiri.

Raden Said Dilaporkan.
Untuk melaporkannya sendiri kepada Adipati Wilatikta ia tak berani, karena kuatir dainggap telah membuat fitnah. Maka penjaga gudang itu akhirnya meminta dua orang saksi dari sang adipati untuk memergoki pencuri yang mengambil hasil bumi rakyat yang tersimpan di gudang.

Raden Said tak pernah menyangka bahwa malam itu perbuatannya bakal ketahuan. Ketika hendak keluar dari gudang sambi membawa bahan-bahan makanan, tiga orang prajurit kadipaten menangkapnya beserta barang bukti yang dibawanya. Raden Said dibawa ke hadapan ayahnya.
Adipati Wilatikta sangat marah melihat perbuatan anaknya itu. Raden Said tidak menjawab untuk apakah dia mencuri barang-barang hasil bumi yang hendak disetorkan ke Majapahit itu.

Untuk itulah Raden Said harus mendapat hukuman.
Karena kejahatan mencuri itu baru pertama kali dilakukan oleh Raden Said, maka dia hanya mendapat hukuman cambuk sebanyak 200 kali pada tangannya, kemudian Raden Said disekap selama beberapa hari tak boleh keluar rumah.
Jerakah Raden Said atas hukuman yang sudah diterimanya?

Ternyata tidak.
Sesudah kelar hukuman yang diterimanya, dia benar-benar keluar dari lingkungan istana. Tak pernah pulang sehingga membuat cemas ibu dan adiknya.
Apakah yang dilakukan Raden Said selanjutnya?

Dia mengenakan topeng khusus, berpakaian serba hitam dan kemudian merampok harta orang-orang kaya di Kadipaten Tuban, terutama orang kaya yang pelit dan para pejabat kadipaten yang curang.
Harta hasil rampokan itu pun diberikannya kepada fakir miskin dan orang-orang yang menderita lainnya. Tapi, kemudian perbuatannya ini mencapai titik jenuh setelah ada saja orang yang bermaksud mencelakakannya.

Ada seorang pimpinan perampok sejati (asli perampok) yang mengetahui aksi Raden Said menjarah harta pejabat kata. Pemimpin perampok itu mengenakan pakaian serupa dengan pakaian Raden Said bahkan juga mengenakan topeng seperti topeng Raden Said.

Pada suatu malam, Raden Said yang baru saja menyelesaikan shalat isyak, mendengar jerit tangis para penduduk desa yang kampungnya sedang dijarah perampok. Dia segera mendatangi tempat kejadian tiu. Begitu mengetahui kedatangan Raden Said, kawanan perampok itu segera berhamburan melarikan diri. Tinggal pemimpin perampok saja yang sedang tengah terlihat menodai seorang gadis.


Raden Said pun mendobrak pintu ruamh itu dan di dalam kamar terlihat seseorang yang berpakaian seperti dirinya, juga mengenakan topeng serupa sedang mengenakan pakaiannya kembali. Rupanya dia telah selesai menodai si gadis itu.

Raden Said berusaha menangkap perampok itu, namun pemimpin perampok itu berhasil melarikan diri. Tiba-tiba saja terdengar suara kentongan dipukul bertalu--talu hingga penduduk dari kampung lain pun berdatangan ke tempat itu. Pada saat itulah si gadis itu memegang erat-erat tangan Raden Said.
Raden Said pun menjadi panik dan kebingunagan . Para pemuda dari kampung menerobos masuk dengan senjata terhunus. Raden Said ditangkap dan dibawa ke rumah kepala desa.

Kepala desa yang merasa penasaran, mencoba membuka topeng yang ada di wajah Raden Said. Begitu mengetahui siapa orang dibalik topeng itu, si kepala desa menjadi diam seribu bahasa.
Sama sekali dia tak menyangka bahwa perampok itu adalah putra Adipati Wilatikta, Raden Said. Gegerlah masyarakat pada saat itu, Raden Said dianggap perampok dan pemerkosa. Si gadis yang diperkosa itu adalah bukti kuat dan saksi hidup atas kejahatannya.

Sang kepala desa masih berusaha menutupi aib junjungannya. Dian-diam ia membawa Raden Said ke istana kadipaten Tuban tanpa diketahui oleh orang banyak.
Tentu saja sanga Adipati menjadi murka. Raden Said yang selama ini selalu  dia sayang dan selalu dia bela, kali ini telah membuat hati ayahnya marah.

RadenSaid diusir dari Kadipaten.
Raden Said pun akhirnya diusir oleh ayahnya dari kadipaten Tuban.
"Pergilah dari Kadipaten Tuban ini!!! Engkau telah mencoreng nama baik keluarganmu sendiri. Pergi!!! Jangan pernah kembali sebelum engkau dapat menggetarkan dinding-dinding istana Kadipaten Tuban ini dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang sering engkau baca di malam hari," usir Adipati WIlatikta.

Sang Adipati Wilatikta juga sangat terpukul atas kejadian itu. Raden Said yang diharapkan dapat menggantikan kedudukannya selaku Adipati Tuban, ternyata telah menutup kemungkinan ke arah itu. Sirna sudah segala harapan sang Adipati.

Hanya ada satu orang saja yang tak dapat mempercayai perrbuatan Raden Said., yaitu Dewi Rasawulan, adik kandung Raden Said sendiri.
Dewi Rasawulan berpendapat bahwa kejadian itu merupakan fitnah yang ditujukan kepada kakanya. Ia berpendapat bahwa Raden Said itu berjiwa bersih, luhur dan sangat tidak mungkin melakukan perbuatan keji seperti itu.

Dewi Rasawulan yang sangat menyayangi kakaknya itu merasa kasiha, dan tanpa sepengetahuan ayah dan ibunya, dia meninggalkan istana kadipaten Tuban untuk mencari Raden Said untuk diajak pulang.

Minggu, 30 Oktober 2011

Bertobat Setelah Mendengar Lantunan Al-Qur'an

Kisah Islamiah kali ini tentang Taubatan Nasuha.
Seorang penjahat pun hatinya bisa bergetar dan bertobat saat mendengar seseorang yang melantunkan ayat suci Al-Qur'an. Bahkan ketika sudah bertobat, ia bisa mengubah tanah yang ia genggam menjadi emas.


Kisahnya.
Fudhail adalah seornag penjahat yang sangat terkenal. Semua warga takut kepadanya. Suatu hari, ia melihat seorang gadis yang berjalan sambil membawa air. Fudhail langsung memerintahkan anak buahnya untuk mengikuti kemana gadis itu pergi.

"Ikutilah dia dan cari tahu di mana rumahnya. Setelah itu bilang kepada orang tuanya bahwa Fudhail menginginkan putrinya dan mereka harus mengosongkan rumahnya nanti malam," perintah Fudhail kepada anak buahnya.

Setelah sampai di rumahnya, gadis pembawa air itu masuk. Tak lama kemudian anak buah Fudhail mendatangi rumah itu dengan kasar.
"Buka pintu!!! Kami anak buah Fudhail. Dia menginginkan anakmu. Nanti malam engkau harus mengosongkan rumahmu untuk dia dan putrimu," bentak para penjahat itu.


Membaca Al Qur'an.
Ayah gadis itu kontan saja ketakutan. ia lalu menceritakan peristiwa itu kepada istrinya,. Sang istri pun tak kalah takutnya, sebab mereka sama-sama telah mendengar kejahatan Fudhail. Kedua orangtua itu bingung, namun saking takutnya, dengan berat hati kedua orang tua gadis itu terpaksa merelakan buah hatinya.

Pada malam harinya, Fudhail benar-benar datang. Sesampainya di depan rumah gadis itu, Fudhail memerintahkan anak buahnya untuk bersiaga. Ia pun masuk ke dalam rumah.
Setelah mengamati ke seluruh sudut rumah, Fudhail pun menemukan sebuah pintu kamar. Dia yakin itu adalah kamar si gadis. Ia pun berjalan mendekat, namun sayup-sayup didengarnya sebuah suara yang dia yakin itu adalah suara si gadis.
Ternyata itu suara ayat suci Al Qur'an yang menggambarkan tentang tobat.

Mendengar ayat itu, hati Fudhail tiba-tiba bergetar dengan hebatnya. Untuk pertama kalinya dia merasa takut kepada Allah SWT. Hatinya tersentuh dan ingin kembali ke jalan-Nya. Dia pun mengurungkan niatnya untuk menodai gadis itu.

Dengan gemetar, ia pun berlari keluar rumah. Ia terus berlari sampai dia tiba di sebuah gubuk dan berhenti di sana. Pada saat itulah dia mendengar perbincangan para musafir yang sedang beristirahat.
"Aduh, saat ini Fudhail tahu tidak ya kita di sini? Kalau dia sampai tahu, pasti akan merampas barang-barang kita" ujar salah seorang dari mereka.

Hati Fudhail sedih mendengar ucapan para musafir itu. Dia baru sadar kalau dirinya telah menjadi teror bagi masyarakat.



Emas dalamGenggaman Tangan.
Sejak saat itulah Fudhail menjalai pertobatan dan menempuh jalan zuhud. Karena sudah bertobat, Fudhail mempunyai keinginan untuk meminta maaf kepada korban-korban kejahatannya dulu. Ada satu orang yang membuatnya tertegun, yakni meminta maaf pada seorang Yahdi yang pernah ia rampok kala itu.

Ia berulang kali memohon maaf, tapi si Yahudi masih tetap saja menolak permohonan maafnya. Namun Fudhail tidak putus asa dan terus berusaha. Karena terus menerus didesak, akhirnya si Yahudi bersedia memaafkan tapi dengan satu syarat.

"Aku berjanji tidak akan memaafkan perampas uangku. Untuk menebus nazar itu, ambillah emas dan uang yang ada di bawah kasurku dan berikan kepadaku. Maka, akan aku anggap itu sebagai ganti rugi harta yang pernah engkau rampas dulu," kata si Yahudi.



Fudhail pun memenuhi syarat itu. Dia menuju temnpat tidur yang dimaksudkan lalu dirogohkan tangannya ke bawah kasur. Sesaat kemudian ditarik tangannya dari bawah kasur dan tampaklah beberapa kepingan emas dan uang ditelapak tangannya. Fudhail segera menyerahkan kepingan emas dan uang itu kepada orang Yahudi tersebut.

Si Yahudi Masuk Islam.
Namun, tiba-tiba saja si Yahusi menyalaminya sambil berkata,
"Sekarang ajarilah aku kalimat syahadat, sebab aku sekarang telah percaya kepada Tuhan Muhammad dan Muhammad Rasul-Nya."

Fudhail pun sangat heran mendegar penuturan Yahudi itu.
Namun, segera saja si Yahudi menambahi kalimatnya,
"Ketahuilah, aku telah membaca dalam kitab suciku bahwa salah satu sifat umat nabi terakhir adalah ketika mereka bertobat dari hati yang paling dalam, maka tanah di tangan mereka akan berubah menjadi emas atas Kuasa Allah."

Terjawab sudah keheranan Fudhail, teryata yang ada di bawah tempat tidur orang Yahudi itu tidak ada emas atau uang, namun hanya sebongkah tanah yang kemudian berubah menjadi emas atas Kuasa-Nya.

Kamis, 27 Oktober 2011

Dialog Rasulullah dengan Onta

Sebagai utusan Allah SWT, banyak sekali mukjizat yang dimiliki oleh Rasul SAW. Dan kali ini salah satunya adalah Rasulullah SAW mampu berdialog dengan seekor onta yang akan disembelih oleh pemiliknya.

Kisahnya.
Ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang bernama Uqa'il bin Abu Thalib. Dia ini seorang yang baru saja masuk islam. Rasul tahu kalau Uqa'il masih memiliki keraguan terhadap Rasul SAW. Sehingga, jika Rasulullah melakukan perjalanan, beliau selalu mengajak Uqa'il untuk menjadi teman selama perjalanan.
Salah satunya adalah ketika Rasulullah berniat berkeliling Ngeri Arab, beliau mengajak Uqa'il untuk menemaninya salama perjalanan.

Selama dalam perjalanan itu, sifat Rasulullah SAW yang begitu ramah dan baik hati sangat terlihat. Hampir di setiap perjalanan, beliau berhenti sejenak untuk beristirahat dan mencoba untuk lebih dekat dengan penduduk Arab. Beliau pun selalu berkomunikasi dan menolong mereka yan membutuhkan pertolongan.

Uqa'il dan para penduduk Arab merasa sangat kagum dengan sosok Rasulullah SAW yang begitu santun dengan siapapun, termasuk kepada orang miskin bahkan seorang pengemis, sehingga para penduduk Arab tidak ragu lagi untuk berbicara, bertanya dan mengadu tentang segala sesuatu yang mereka alami kepada Rasululah SAW. Tidak hanya manusia yang mengadu dan bercerita tentang suatu masalah, bahkan seekor onta pun mendatangi beliau dan menceritakan perihal yang dialami.


Pengaduan Onta.
Di tengah perjalanan, Nabi Muhammad SAW dan Uqa'il melihat seekor onta yang berlari seperti dikejar sesuatu. Beliau akhirnya berhenti untuk memastikan apa yang tengah terjadi pada onta tersebut. Di saat Rasul SAW berhenti, tiba-tiba onta tersebut berlari dan meloncat menuju ke hadapan Rasul SAW, sampai hampir menabrak tubuh Raulullah.

Rasulullah SAW sangat terkejut dengan kehadiran onta itu ke depannya secara tiba-tiba. Beliau bertanya,
"Apa yang engkau alami, sampai engkau meloncat sejauh itu hingga di depanku?" tanya Rasul SAW.
Onta yang terlihat ketakutan itu langsung menjawab,
"Ya, Rasulullah, aku minta perlindungan darimu."
Uqa'il yang melihat dan mendengar Rasulullah SAW berkomunikasi dengan seekor onta itu, ia merasa sangat keheranan dan hampir tak percaya dengan apa yang telah dilihatnya. Namun, hal itu benar-benar terjadi di depannya.

Akhirnya, Uqa'il yang semula tidak yakin dengan mukjizat utusan Allah SWT tersebut, sekarang menjadi yakin.
"Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini karena sempat meragukan kemuliaan utusan-Mu. Mulai sekarang, aku akan selalu tunduk kepada Rasululah SAW dan akan selalu mematuhi perintahnya," ucap Uqa'il dalam hati.

Selang waktu beberapa saat, datanglah seorang Arab yang membawa pedang tajam. Nabi SAW sangat heran dengan orang Arab tersebut.
"Hendak apakah engkau, terhadapku atau dengan onta ini?" tanya Rasululah SAW.
"Wahai Rasul Allah, aku telah membelinya dengan harga yang sangat mahal, akan tetapi dia tidak mau taat dan tidak mau jinak kepadaku, maka akan aku potong saja dan akan aku berikan dagingnya kepada orang-orang yang memerlukannya," jawab orang Arab itu.

Penyelesaian Bijaksana.
Nabi Muhammad SAW bertanya kepada onta,
"Mengapa engaku mendurhakai dia?" tanya Rasul SAW.

Onta itu pun menjawab,
"Wahai Rasulullah, aku mendurhakainya karena perbuatannya yang buruk. Ia terus menerus tidur, meninggalkan shalat Isya. Seandainya dia mau berjanji kepada engkau untuk mengerjakan shalat Isya, maka aku berjanji pula untuk tidak mendurhakainya, sebab aku sangat takut kalau Allah SWT menurunkan siksaan-Nya kepadaku," jelas onta itu.

Setelah mendengar penuturan onta yang panjang lebar itu, Nabi Muhammad SAW pun mempercayainya, dan orang Arab itu tidak bisa berkelit lagi karena sudah ada bukti dari onta miliknya.
"Aku akan mengembalikan onta ini kepadamu, asalkan engkau berjanji untuk tidak meninggalkan shalat Isya. Akan tetapi jika engkau tidak mau, maka aku akan membawa onta ini," tutur Rasul SAW.
"Ya Rasululah, aku berjanji tidak akan meninggalkan shalat Isya lagi dan berjanji pula tidak melakukan maksiat. Jika aku melakukannya, maka onta itu akan aku berikan kepadamu," jawab orang Arab itu dengan sungguh-sungguh.

Setelah emndengar pernyataan orang Arab itu, akhirnya Rasululah SAW menyerahkan onta itu kepada pemiliknya. Rasulullah SAW pun kembali meneruskan perjalanan dengan Uqa'il yang semakin kagum dengan Nabi Muhammad SAW.

Rabu, 26 Oktober 2011

Dialog Ulama dan Setan yang Merasuki Pemuda

Adalah Ayat Kursi memiliki banyak Fadhilah atau keutamaan dan salah satunya adalah dapat mengusir setan.
Kisah islami ini dikisahkan oleh Syeikh Ibnu Taimiyah mengenai salah satu ulama yang mampu membebaskan seseorang dari kesurupan.


Kisahnya.
Di zaman dahulu, ada seseorang yang kesurupan dengan hebatnya. Orang tersebut kerasukan setan hingga tak sadar apa yang dilakukannya. Warga setempat kemudian melaporkan hal ini kepada Syeikh Ibnu Taimiyah.

"Wahai Syeikh, ada seorang pemuda yang kesurupan, apa yang harus kami lakukan?" lapor para warga.
Mendapatkan laporan itu, Syeikh Ibnu Taimiyah mengirim salah seorang ulama yang masih tercatat sebagai muridnya untuk menyadarkan kembali pemuda yang kesurupan tersebut sehingga terbebas dari setan yang merasukinya.

Maka, berangkatlah sang ulama tersebut dengan diantar warga. Sesampainya di tempat, ulama itu melihat seorang pemuda yang tengah kesurupan dengan mata melotot dan suara lantang sekali.

Kerasukan Setan.
Ulama itu kemudian membacakan ayat kursi lalu disambung dengan bacaan ayat Al Qur'an lain surat Al-Mu'minun ayat 115.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ

Artinya:
Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?

Usai membaca ayat-ayat tersebut, ulama itu kemudian berdialog dengan setan yang bersemayam di tubuh pemuda itu.
"Keluarlah, jasad ini tidak halal bagimu," perintah ulama itu.
Namun, setan yang merasuki pemuda itu masih saja membandel. ia tidak mau menuruti perintah sang ulama.
"Keluarlah, jika tidak, maka aku akan memukulmu," ucap sang ulama itu lagi.
Tiba-tiba saja setan tersebut menjawab,
"Ya, aku akan keluar."




Namun, setelah ditunggu beberapa lama, setan itu tidak juga keluar dari tubuh si pemuda. Maka ulama tersebut mengambil sebatang tongkat dan dipukulkan ke urat leher belakang kepala si pemuda dengan kerasnya.

Begitu kerasnya pukulan itu, membuat tangan sang ulama terasa sakit usai memukulnya. Orang-orang yang melihat kejadian itu tampak terheran-heran dengan apa yang dilakukan sang ulama.
Saat dipikul, setan mengerang kesakitan kemudain berkata,
"Aku menyukainya."
"Ya, akan tetapi dia tidak menyukaimu," ujar sang ulama.
"Aku ingin pergi haji bersama pemuda ini," kata setan lagi.
"Ya, tapi pemuda ini tidak mau pergi haji bersamamu," jawab sang ulama.

Setan itu akhirnya mengalah dan bersedia keluar dari raga si pemuda.
"Kalau begitu, aku akan meninggalkannya sebagai penghormatan kepadamu," kata setan.
"Tidak, engkau haru meninggalkannya demi mentaati Allah dan Rasul-Nya," sergah sang ulama.
"Baiklah, aku akan keluar," kata setan yang kali ini menepati perkataannya.

Dibenarkan oleh Rasulullah SAW.
Selepas dari pengaruh setan, pemuda itu tampak duduk sambil menoleh ke kiri dan ke kanan sambil berusaha memulihkan kesadarannya. Ia sangat terkejut kenapa banyak orang yang berkerumun yang mengitarinya.

"Loh, kenapa kau di sini?" tanya si pemuda.
"Engkau ini dipukuli sedemikian rupa apakah engkau merasakan sakit sedikit?" tanya orang-orang di sekitarnya.
"Aku tidak merasakan apapun, tapi mengapa aku kok dipukuli?" tanya si pemuda balik.
"Engkau baru saja dirasuki oleh setan, tetapi setan itu telah berhasil diusir oleh ulama itu," jelas orang-orang di sekitarnya.

Setan ini memang mengakui bahwa mereka sangat takut dengan ayat kursi. Pengakuan ini pernah dikatakannya di hadapan sahabat yang menunggu kurma.
Rasulullah SAW membenarkan pengakuan setan itu. Akan tetapi, Rasul SAW menegaskan bahwa setan itu tetaplah makhluk yang pendusta.
(Masih ingat kan postingan tentang kisah pencurian bahan makanan pokok yang dilakukan oleh setan).

Berikut Ayat Kursi yang dimaksud:

اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الأرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ وَلا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

Artinya:
"Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. tiada yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha besar."
(QS. Al-Baqarah: 255).

Kursi dalam ayat ini oleh sebagian mufassirin diartikan dengan ilmu Allah dan ada pula yang mengartikan dengan kekuasaan-Nya.

Surat Al-Mu'minun ayat 115.

أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّمَا خَلَقْنَاكُمْ عَبَثًا وَأَنَّكُمْ إِلَيْنَا لا تُرْجَعُونَ

Artinya:
"Maka Apakah kamu mengira, bahwa Sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada kami?"
(QS. Al-Mu'minun: 115).

Kedua ayat tersebut terkenal sebagai ayat untuk mengusir setan yang merasuki manusia.

Selasa, 25 Oktober 2011

Rasulullah Membelah Bulan

Tiada habisnya orang-orang kafir mengzalimi Rasulullah SAW.
Mulai dari memfitnah hingga menyuruh Rasul melakukan sesuatu yang menurut mereka hal yang mustahi, yaitu membelah bulan.
Namun, dengan izin Allah SWT, Rasulullah SAW dapat melaluinya dengan sabar.



Kisahnya.
Jumlah orang-orang mukmin terus bertambah seiring berjalannya waktu.
Sementara itu, orang-orang jahat tidak juga menghentikan kekejaman mereka. Mereka bahkan terus menantang Rasulullah SAW.

Pada suatu hari, orang-orang kafir kembali mengelilingi Rasulullah SAW. Mereka punya rencana baru untuk menyudutkan beliau. Mereka meminta Rasul SAW melakukan sesuatu yang menurut mereka mustahil untuk dilakukan. Nanti saat melihat beliau tidak bisa melakukannya, mereka akan mengolok-olok beliau.

Dengan pemikiran seperti itu, mereka berkata,
"Kalau engkau memang seorang nabi, tunjukkan mukjizat kepada kamu. Misalnya, belahlah bulan purnama di atas kepala kita menjadi dua. Letakkan yang sebelah di atas gunung ini dan sebelah lagi di atas gunung itu," kata orang-orang kafir.
"Kalau aku dapat melakukannya apakah kalian akan percaya padaku?" tanya Rasul SAW.

Bulan Terbelah Menjadi Dua.
Allah Yang Maha Tinggi memberikan kekuasaan kepada Rasulullah SAW untuk menunjukkan mukjizat seperti yang telah Dia berikan kepada nabi-nabinya terdahulu. Jika Rasulullah SAW mau, beliau bisa berdoa kepada Allah SWT dan atas izin-Nya, banyak peristiwa luar biasa yang akan terjadi. Namun, beliau ingin agar orang-orang berfikir dan menemukan jalan yang benar dengan pikiran mereka sendiri.

Saat itu, Rasulullah SAW yang terlihat semakin rupawan di bawah sinar rembulan, terlebih dahulu berdoa agar orang-orang sesat itu menemukan jalan yang benar. Kemudian beliau mengarahkan telunjuknya ke bulan. Sinar perak dengan cahaya bintang terlihat membentang diatas mereka. Rasulullah SAW membuat garis dari bagian atas bulan hingga ke bawah.

Kala itu, tak seorang pun terlihat percaya atau memperhatikan secara penuh apa yang sedang terjadi. Setelah ditunjuk oleh Rasul SAW, bulan pun terbelah menjadi dua.
Subhanallah.....Sungguh luar biasa.

Setengah dari bulan itu berada di atas gunung yang satu dan setengahnya lagi di atas gunung yang lainnya. Allah Maha Besar. Allah Maha Tinggi sudah membelah bulan untuk Nabi kesayangan-Nya itu.

Nabi pun berulang-ulang mengatakan kepada orang-orang kafir,
"Saksikanlah!!, Saksikanlah!!!."
Orang kafir pun terbelalak.
Mereka tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Mereka saling pandang setelah mengetahui hal itu. Bibir Rasulullah SAW terus menerus berzikir, bersyukur kepada Allah SWT yang sudah memberikan mukjizat itu. Saat kedua bagian bulan itu kembali menyatu, orang-orang kafir sangat terkejut dan takut.
Mereka hanya berkata,
"Ini Sihir !!!, Ini Sihir !!!"

Kesaksian Seorang Musafir.
Pagi hari setelah kejadian itu, negeri Makkah gempar.
Semua orang membicarakan peristiwa ajaib tadi malam. Saat kaum muslim membicarakan keindahan peristiwa itu, orang-orang kafir malah mengatakan bahwa yang mereka lihat tadi malam adalah tidak nyata.

beberapa orang di antara mereka berkata,
"Kita bilang saja kepadanya kalau dia hanya menunjukkan sihir kepada kita."
Orang-orang kafir mengetahui bahwa pengaruh sihir itu tidak akan sampai jauh pengaruhnya. Jadi mereka pun memutuskan untuk bertanya kepada musafir yang datang dari jauh,apakah mereka juga melihat peristiwa bulan terbelah tadi malam.
Mereka pun menunggu datangnya para musafir.

Begitu para musafir datang, para orang kafir langsung mendekati mereka dan bertanya apakah mereka juga melihat bulan terbelah menjadi dua tadi malam. Ternyata mereka juga melihat bulan terbelah menjadi dua kemudian menyatu kembali. Dengan semangat, para musafir itu menceritakan secara terperinci apa yang mereka lihat tadi malam.

Meskipun mereka sudah mendengar kesaksian para musafir, namun tetap saja orang-orang kafir tidak percaya.
mereka mengatakan,
"Sihir Muhammad bahkan sudah mencapai langit," kata orang-orang kafir.
Orang-orang kafir itu telah dikunci mata hatinya, meskipun sudah melihat hal yang benar-benar nyata, masih saja dia berpaling, mungkir.

Dan inilah hebatnya Rasulullah SAW, Beliau tidak pernah sombong, bahkan selalu bersyukur atas mukjizat yan terjadi, beliau tetap penuh kasih, tetap medoakan agarorang-orang kafir itu tidak keras kepala dan bersedia mengikuti ajaran yang beliau sampaikan.

(Alhamdulillah, selesai juga akhirnya, meski jari tangan rasanya panas ketika mengetik).
Selamat membaca kawan-kawan.

Senin, 24 Oktober 2011

Mantan Pendeta Mati saat Sujud

Setelah memluk agama Islam, mantan pendeta dan juga raja ini meraih kesempurnaan saat nyawa meninggalkan tubuhnya. Malaikat maut mencabut nyawa raja itu ketika ia tengah sujud dalam Shalat.


Kisahnya.
Kisah pendeta ini diriwayatkan oleh Wahab bin Munabbin.
Dikisahkan, ketika itu ada seorang pendeta Yahudi yang kemudian masuk Islam. Pendeta itu kemudian menjabat sebagai raja yang memiliki pengaruh besar terhadap rakyatnya. Pada suatu hari, raja yang agung tersebut ingin berkuda ke seluruh pelosok kerajaannya.

Ia ingin menunjukkan kehebatan dan keindahannya kepada seluruh rakyatnya. Rupanya saat itu datang iblis yang membisikkan sesuatu ke telinganya.
Iblis itu merayu agar raja bersikap sombong dan memandang rendah orang lain. Kemudian raja itu memerintahkan para pejabat, pengawal dan pembesar kerajaan untuk menyiapkan kuda tunggangan agar masyarakat melihat kekuasaannya.

Dalam sekejap saja, pakaian kebesaran dan kuda terbaik bernama As Sabak telah siap di pintu kerajaan. Kuda As Sabak tersebut terkenal dengan kuda yang kuat dan cepat larinya. Dengan menegakkan dadanya, raja memacu kuda itu di depan pasukan. Dia merasa bangga dan sombong dengan kehebatan dan kekuasaannya.
"Siapa yang dapat menyamai aku di dunia ini?" ujar raja menyombongkan diri kepada rakyatnya dengan suara lantang.

Malaikat Maut Datang.
Raja tak melihat seorang pun yang hebat di hadapannya.
Namun, tiba-tiba saja dihadapannya muncullah seorang laki-laki yang berpakaian compang-camping memberi salam,
"Assalamu'alaikum wahai raja," kata laki-laki itu.

Raja tidak membalas salam itu, bahkan ia tidak menggubris sama sekali kehadiran laki-laki berpakaian lusuh itu.
Karena merasa tidak mendapatkan respon, laki-laki itu kemudian memegang tali kuda sang raja.
"Lepaskan tanganmu dari tali kuda ini. Engkau tidak tahukah tali kuda siapa yang engkau pegang ini?" kata sang raja dengan angkuhnya.
"Aku mempunyai keperluan denganmu," ujar laki-laki itu.



"Baiklah, sabarlah, tunggu aku turun dari kuda dulu," jawab sang raja.
Namun, sebelum raja itu turun, laki-laki itu kembali mencegahnya.
"Keperluanku adalah saat ini juga, bukan saat engkau turun dari kudamu," kata laki-laki misterius itu.
"Baiklah, katakan apa keperluanmu," ucap raja.

Laki-laki misterius itu kemudian membisikkan sesuatu ke telinga sang raja.
"Aku adalah Malaikat Maut. Aku hendak mencabut nyawamu," ucap laki-laki yang ternyata dalah malaikat maut itu.

Diambil Nyawa Saat Sujud.
Begitu mendengar bisikan itu, raja menjadi cemas dan tegang seketika. Ia meminta kepada Malaikat Maut untuk menangguhkan pencabutan nyawanya sampai ia pulang untuk berpamitan dengan istri dan anak-anaknya.
"TIdak, engkau tidak akan melihat mereka lagi untuk selamanya karena jatah umurmu sudah habis sekarang juga," ujar Malaikat Maut lagi.

Raja yang sombong itu kemudian bertobat di tempat, meyesali kesombongan yang telah dia lakukan.
Sungguh sangat beruntung, tobat sang raja ini akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT, hingga akhirnya Malaikat Maut bertanya,
"Cara seperti apa yang engkau sukai ketika aku mencabut nyawamu? Aku diperintahkan mencabut nyawamu dengan cara yang engkau pilih dan engkau inginkan," kata Malaikat Maut.

"Izinkanlah aku mengambil air wudhu dan melaksanakan shalat. Ketika aku sujud, maka cabutlah nyawaku," ujar raja yang baru memeluk agama islam itu.
Maka Malaikat memberikan kesempatan kepada raja untuk berwudhu dan melaksanakan shalat. Ketika tengah sujud, Malaikat Maut mencabut nyawa raja yang juga mantan pendeta yang baru saja masuk islam itu.
Kemudian malaikat Maut membawa ruhnya kepada Rahmat Allah SWT.

Minggu, 23 Oktober 2011

Istri Nabi difitnah Selingkuh

Ummul Mukminin, Siti Aisyah ra pernah difitnah berselingkuh dengan salah seorang sahabat.
Fitnah itu sempat mengubah sikap Rasulullah SAW kepada Aisyah hingga turunlah surat An-Nur ayat 11-26 yang menyatakan Aisyah terbebas dari selingkuh.
Sungguh fitnah yang sangat keji, Rasulullah SAW adalah orang yang paling baik, maka pastilah wanita yang baik pula yang emnjadi istri Beliau.
Ingat Surat An-Nur ayat 26. Jadi, tidaklah mungkin Wanita Teladan kaum muslimin Siti Aisyah ra berselingkuh.

Kisahnya.
Dalam menerima wahyu,ada kalanya wahyu yang berupa ayat-ayatAL Qur'an itu turun untuk menjawab berbagai pertanyaan para sahabat. Ada juga kisah-kisah umat terdahulu, masalah hukum, ibadah, pergaulan sehari-hari sampai persoalan rumah tangga/

Namun, ternyata Rasulullah SAW pernah tidak menerima wahyu sama sekali dalam waktu sekitar satu bulan. Salah satunya adalah pada saat adanya fitnah oelh salah seorang munafik yang ingin merusak rumah tangga beliau dengan istrinya, SIti Aisyah ra.

Fitnah itu terjadi saat berakhirnya perang antara kaum muslimin dengan Bani Musthakiq pada bulan Sya'ban tahun 5 hijriyah. Peperangan ini diikuti oelh sejumlah kaum munafik, istri Rasul SAW, Siti Aisyah turut pua dengan Rasulullah SAW.

Kehilangan Kalung.
Dalam perjalanan pulang saat kembali dari peperangan, rombongan kaum muslimin berhenti di suatu tempat di dekat Kota Madinah. Saat itulah Siti Aisyah menyadari bahwa kalungnya telah putus dan hilang. Maka, Siti Aisyah yang biasanya ditandu, segera kembali ke tendanya untuk mencari kalung yang hilang tersebut. Sementara, orang-orang yang membawa tandu Siti Aisyah tidak menyadari bahwa beliau tidak berada di dalamnya.

Setelah sekian lama ia mencari kalung tersebut,namun kalung itu tak ditemukannya. Karena itulah Siti Aisyah kembali emnuju tandunya. Namun, ketika sampai ia telah ditinggalkan rombongannya. Maka, Siti Aisyah hanya bisa pasrah. Ia berharap ada rombongan kaum muslimin yang kembali.
Terlalu lama menungu, akhirnya Siti Aisyah terserang kantuk hingga akhirnya tertidur.

Tanpa diduga, di saat itu muncullah salah seorang anggota rombongan yang bernama Shafwan bin Mu'athal as-Sulami adz-Dzakwani ra lewat. Shafwan ini bertugas sebagai anggota pasukan paling belakang. Melihat ada orang yang tertinggal, Shafwan segera menjenguknya. Namun, setelah mengetahui yang tertinggal itu adalah Ummul Mukminin, Siti Aisyah ra, Shafwan pun berkata,
"Innalillahi Wa inna Ilaihi Roji'un," kata Shafwan dengan terkejut.

Shafwan pun segera memberikan tunggangan untanya kepada Siti Aisyah ra. Sedangkan Shafwan sendiri berjalan kaki sambil menuntun unta yang ditunggangi oleh Siti Aisyah ra.
Mereka berdua kahirnya berhasil menyusul rombongan kaum muslimin yang sedang beristirahat.

Wahyu dari Allah SWT.
Orang-orang yang menyaksikan kedatangan Ummul Mukminin bersama Shafwan, muncullah desas-desus terhadap hubungan keduanya.
Orang munafik seperti Abdullah bin Ubay bin Salul memfitnah bahwa Siti Aisyah telah berselingkuh dengan Shafwan. Fitnahitu dengan cepat beredar hingga di Madinah sehingga menimbulkan kegoncangan di kalanagn kaum Muslimin.

Karena tuduhan berselingkuh tersebut, sampai-sampai Rasululah SAW menunjukkan perubahan sikap atas diri Aisyah.Diceritakan Aisyah, karena peristiwa itu dirinya akhirnya jatuh sakit.

"Saat itu yang membuatku bingung ketika aku sakit,aku tidak melihat kelembutan dari Nabi SAW seperti biasa yang aku lihat ketika aku sakit. Beliau hanya mengucapkan salam, lalu bertanya,"Bagaimana keadaanmu," kemudian pergi," kata Siti Aisyah yang terdapat pada kitab An-Nihayah fi Gharib al-Hadits.

Kondisi fitnah itu tentu menyebar hingga mencapai satu bulan lamanya.
Dan selama itu pula, tak ada wahyu yang diterima Nabi Muhammad SAW.Sampai kemudian, Allah SWT mengabarkan berita gembira kepada Nabi SAW yang menyatakan bahwa Aisyah ra terbebas dari segala tuduhan perselingkuhan dan fitnah itu.

Penegasan Allah SWT itu ternagkum dalam Al Qur'an, Surat An-Nur ayat 11-26.
Dengan turunnya ayat tersebut, terbebaslah Siti Aisyah ra dari tuduhan keji itu, hingga berbahagialah Rasululah SAW beserta sahabat-sahabat setianya.




Dalil tentang kisah di atas adalah Surat An-Nur: 11--26 berikut ini:


إِنَّ الَّذِينَ جَاءُوا بِالإفْكِ عُصْبَةٌ مِنْكُمْ لا تَحْسَبُوهُ شَرًّا لَكُمْ بَلْ هُوَ خَيْرٌ لَكُمْ لِكُلِّ امْرِئٍ مِنْهُمْ مَا اكْتَسَبَ مِنَ الإثْمِ وَالَّذِي تَوَلَّى كِبْرَهُ مِنْهُمْ لَهُ عَذَابٌ عَظِيمٌ ١١
لَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ ظَنَّ الْمُؤْمِنُونَ وَالْمُؤْمِنَاتُ بِأَنْفُسِهِمْ خَيْرًا وَقَالُوا هَذَا إِفْكٌ مُبِينٌ ١٢
لَوْلا جَاءُوا عَلَيْهِ بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَإِذْ لَمْ يَأْتُوا بِالشُّهَدَاءِ فَأُولَئِكَ عِنْدَ اللَّهِ هُمُ الْكَاذِبُونَ ١٣
وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ لَمَسَّكُمْ فِي مَا أَفَضْتُمْ فِيهِ عَذَابٌ عَظِيمٌ ١٤
إِذْ تَلَقَّوْنَهُ بِأَلْسِنَتِكُمْ وَتَقُولُونَ بِأَفْوَاهِكُمْ مَا لَيْسَ لَكُمْ بِهِ عِلْمٌ وَتَحْسَبُونَهُ هَيِّنًا وَهُوَ عِنْدَ اللَّهِ عَظِيمٌ ١٥
وَلَوْلا إِذْ سَمِعْتُمُوهُ قُلْتُمْ مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ ١٦)
يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ ١٧)
وَيُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الآيَاتِ وَاللَّهُ عَلِيمٌ حَكِيمٌ ١٨)
إِنَّ الَّذِينَ يُحِبُّونَ أَنْ تَشِيعَ الْفَاحِشَةُ فِي الَّذِينَ آمَنُوا لَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ ١٩)
وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ وَأَنَّ اللَّهَ رَءُوفٌ رَحِيمٌ ٢٠)
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ وَمَنْ يَتَّبِعْ خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ فَإِنَّهُ يَأْمُرُ بِالْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَلَوْلا فَضْلُ اللَّهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهُ مَا زَكَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ أَبَدًا وَلَكِنَّ اللَّهَ يُزَكِّي مَنْ يَشَاءُ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ ٢١)
وَلا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ ٢٢)
إِنَّ الَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ الْغَافِلاتِ الْمُؤْمِنَاتِ لُعِنُوا فِي الدُّنْيَا وَالآخِرَةِ وَلَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ ٢٣
يَوْمَ تَشْهَدُ عَلَيْهِمْ أَلْسِنَتُهُمْ وَأَيْدِيهِمْ وَأَرْجُلُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ ٢٤)
يَوْمَئِذٍ يُوَفِّيهِمُ اللَّهُ دِينَهُمُ الْحَقَّ وَيَعْلَمُونَ أَنَّ اللَّهَ هُوَ الْحَقُّ الْمُبِينُ ٢٥)
الْخَبِيثَاتُ لِلْخَبِيثِينَ وَالْخَبِيثُونَ لِلْخَبِيثَاتِ وَالطَّيِّبَاتُ لِلطَّيِّبِينَ وَالطَّيِّبُونَ لِلطَّيِّبَاتِ أُولَئِكَ مُبَرَّءُونَ مِمَّا يَقُولُونَ لَهُمْ مَغْفِرَةٌ وَرِزْقٌ كَرِيمٌ ٢٦)

Artinya:
11. Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat Balasan dari dosa yang dikerjakannya. dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar[1031].

12. mengapa di waktu kamu mendengar berita bohon itu orang-orang mukminin dan mukminat tidak bersangka baik terhadap diri mereka sendiri, dan (mengapa tidak) berkata: "Ini adalah suatu berita bohong yang nyata."

13. mengapa mereka (yang menuduh itu) tidak mendatangkan empat orang saksi atas berita bohong itu? Olah karena mereka tidak mendatangkan saksi-saksi Maka mereka Itulah pada sisi Allah orang- orang yang dusta.

14. Sekiranya tidak ada kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua di dunia dan di akhirat, niscaya kamu ditimpa azab yang besar, karena pembicaraan kamu tentang berita bohong itu.

15. (ingatlah) di waktu kamu menerima berita bohong itu dari mulut ke mulut dan kamu katakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikit juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal Dia pada sisi Allah adalah besar.

16. dan mengapa kamu tidak berkata, diwaktu mendengar berita bohong itu: "Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha suci Engkau (ya Tuhan kami), ini adalah Dusta yang besar."

17. Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.

18. dan Allah menerangkan ayat-ayatNya kepada kamu. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.

19. Sesungguhnya orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang Amat keji itu tersiar di kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak mengetahui.

20. dan Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu semua, dan Allah Maha Penyantun dan Maha Penyayang, (niscaya kamu akan ditimpa azab yang besar).

21. Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah- langkah syaitan. Barangsiapa yang mengikuti langkah-langkah syaitan, Maka Sesungguhnya syaitan itu menyuruh mengerjakan perbuatan yang keji dan yang mungkar. Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorangpun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.

22. dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka mema'afkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang[1032],

23. Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanita yang baik-baik, yang lengah[1033] lagi beriman (berbuat zina), mereka kena la'nat di dunia dan akhirat, dan bagi mereka azab yang besar,

24. pada hari (ketika), lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.

25. di hari itu, Allah akan memberi mereka Balasan yag setimpal menurut semestinya, dan tahulah mereka bahwa Allah-lah yang benar, lagi yang menjelaskan (segala sesutatu menurut hakikat yang sebenarnya).

26. wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki- laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula). mereka (yang dituduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka (yang menuduh itu). bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (surga)[1034].

Keterangan ayat:
[1031] Berita bohong ini mengenai istri Rasulullah s.a.w. 'Aisyah r.a. Ummul Mu'minin, sehabis perang dengan Bani Mushtaliq bulan Sya'ban 5 H. Perperangan ini diikuti oleh kaum munafik, dan turut pula 'Aisyah dengan Nabi berdasarkan undian yang diadakan antara istri-istri beliau. dalam perjalanan mereka kembali dari peperangan, mereka berhenti pada suatu tempat. 'Aisyah keluar dari sekedupnya untuk suatu keperluan, kemudian kembali. tiba-tiba Dia merasa kalungnya hilang, lalu Dia pergi lagi mencarinya. Sementara itu, rombongan berangkat dengan persangkaan bahwa 'Aisyah masih ada dalam sekedup. setelah 'Aisyah mengetahui, sekedupnya sudah berangkat Dia duduk di tempatnya dan mengaharapkan sekedup itu akan kembali menjemputnya. Kebetulan, lewat ditempat itu seorang sahabat Nabi, Shafwan Ibnu Mu'aththal, diketemukannya seseorang sedang tidur sendirian dan Dia terkejut seraya mengucapkan: "Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un, isteri Rasul!" 'Aisyah terbangun. lalu Dia dipersilahkan oleh Shafwan mengendarai untanya. Syafwan berjalan menuntun unta sampai mereka tiba di Madinah. orang-orang yang melihat mereka membicarakannya menurut Pendapat masing-masing. mulailah timbul desas-desus. kemudian kaum munafik membesar- besarkannya, Maka fitnahan atas 'Aisyah r.a. itupun bertambah luas, sehingga menimbulkan kegoncangan di kalangan kaum muslimin.

[1032] Ayat ini berhubungan dengan sumpah Abu Bakar r.a. bahwa Dia tidak akan memberi apa-apa kepada kerabatnya ataupun orang lain yang terlibat dalam menyiarkan berita bohong tentang diri 'Aisyah. Maka turunlah ayat ini melarang beliau melaksanakan sumpahnya itu dan menyuruh mema'afkan dan berlapang dada terhadap mereka sesudah mendapat hukuman atas perbuatan mereka itu.

[1033] Yang dimaksud dengan wanita-wanita yang lengah ialah wanita-wanita yang tidak pernah sekali juga teringat oleh mereka akan melakukan perbuatan yang keji itu.

[1034] Ayat ini menunjukkan kesucian 'Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik Maka pastilah wanita yang baik pula yang menjadi istri beliau.

Sabtu, 22 Oktober 2011

Tak Sakit saat Tertembus Panah

Ketika sedang khusyuk shalat tahajud, tiba-tiba tubuh Abbad bin Bisyr ditembus beberapa anak panah. Anehnya, ia tidak merasakan sakit sama sekali. Dalam keadaan shalat, ia mencabut beberapa anak panah lantas melanjutkan shalatnya hingga malam usai.

Kisahnya.
Beliau adalah Abbad bin Bisyr yang termasuk di antara ahli ibadah, tetapi juga termasuk golongan para pahlawan yang gagah berani dalam menegakkan Islam. Ketika Islam mulai tersiar di Madinah, usia Abbad bin Bisyr belum mencapai 25 tahun.

Dia mendekatkan diri kepada seorang da'i dari Makkah yang bernama Mush'ab bin Umair. Dalam tempo singkat saja, hati keduanya telah terikat dalam ikatan iman yang kokoh. Abbad mulai belajar membaca Al Qur'an kepada Mush'ab. Suaranya merdu, menyejukkan hati serta menawan.
Oleh karena itu, ia terkenal di kalangan para sahabat sebagai imam dan pembaca Al Qur'an.

Abbad bin Bisyr turut berperang bersama Rasulullah SAW dalam tiap peperangan yang beliau pimpin. Dalam peperangan-peperangan itu, dia bertugas sebagai pemabawa Al Qur'an.
Ketika Rasulullah SAW kembali dari perang Dzatur Riqa', beliau beristirahat dengan seluruh pasukan muslim di lereng sebuah bukit. Setibanya di tempat peristirahatan di atas bukit, Rasulullah SAW bertanya,
"Siapa yang bertugas jaga malam ini?"
"Kami ya Rasulullah," kata Abbad bin Bisyr dan Amar bin Yasir seraya berdiri.

Terkena Anak Panah.
Rasululah SAW telah menjadikan keduanya bersaudara ketika kaum Muhajirin baru tiba di Madinah. Ketika keduanya keluar ke pos penjagaan, Abbad bertanya kepada Ammar,
"Siapa di antara kita yang berjaga terlebih dahulu?"
"Aku yang tidur lebih dahulu," jawab Ammar yang bersiap untuk berbaring tak jauh dari tempat penjagaan.

Dalam suasana malam yang tenang dan hening, Abbad shalat malam dan larut dalam manisnya ayat-ayat Al Qur'an yang dibacanya. Dalam shalat itu ia membaca surat Al Kahfi dengan suara memilukan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Ketika Abbad tenggelam dalam kekhusyukan shalat Tahajud, seorang musuh datang menyelinap. Musuh itu yakin bahwa Rasulullah SAW ada di tempat itu dan orang yang sedang shalat itu adalah pengawal yang bertugas jaga.




Enggan Menghentikan Shalat.
Orang itu menyiapkan anak panah dan memanah Abbad dengan tepat mengenai tubuhnya. Abbad mencabut anak panah yang bersarang di tubuhnya sambil meneruskan bacaan dan tenggelam dalam shalat. Orang itu memanah lagi dan mengenai tubuh Abbad dengan jitu lagi. Abbad kembali mencabut anak panah dari tubuhnya dan kembali meneruskan ibadahnya.
Kemudian orang itu memanah lagi dan Abbad mencabut lagi anak panahnya seperti dua anak panah sebelumnya.

Kini giliran jaga diemban oleh Ammar bin Yasir pun tiba..
Abbad merangkak ke dekat saudaranya yang tidur lalu membangunkannya seraya berkata,
"Bangunlah saudaraku, aku terluka parah dan lemas," kata Abbad.

Sementara itu, si pemanah tadi yang mengetahui melihat pasangan saudara itu, buru-buru melarikan diri. Ammar menoleh ke arah Abbad dan melihat darah bercucuran dari tiga luka di tubuhnya.
'Subhanallah, mengapa engkau tidak membangunkan aku ketika panah pertama mengenai tubuhmu saudaraku?" kata Ammar.
"Aku sedang membaca Al Qur'an dalam shalat. Aku tidak ingin memutuskan bacaanku hingga selesai. Demi Allah, kalaulah tidak karena takut akan menyia-nyiakan tugas jaga yang dibebankan oleh Rasulullah SAW untuk menjaga pos perkemahan kaum muslimin, biarlah tubuhku putus daripada harus menghentikan bacaan Al Qur'an dalam shalat," jawab Abbad.

Inilah salah satu kisah heroik dari sahabat yang bernama Abbad bin Bisyr dan ini merupakan salah satu dari karomah yang Allah SWT berikan kepadanya.
(Wah kalau saya pasti sudah menjerit-jerit sob karena terkena panah tiga kali.)

Jumat, 21 Oktober 2011

Orang yang Pernah Beribadah 1000 Bulan

Ternyata di muka bumi pernah terjadi orang yang beribadah selama 1000 bulan lamanya. Dialah Sya'mun Al Ghozi, seorang utusan Nabi Isa a.s.
Berkat pertolongan Allah SWT,, Sya'mun beribadah seribu bulan lamanya.
Kisah ini menjadi kisah tersendiri pada masa lalu. Khususnya terkait dengan yang namanya malam Lailatul Qadar, malam yang lebih baik daripada 1000 bulan.


Kisahnya.
Lailatul Qadar adalah hadiah besar yang diberikan Allah SWT kepada umat Nabi Muhammad SAW, junjungan kita semua. Secara fisik dan umur umat Nabi Muhammad lebih pendek dibandingkan dengan umat-umat terdahulu.

Katakanlah umat Nabi Nuh yang rata-rata berusia 950 tahun, umat Nabi Musa as hingga 500 tahun baru dibilang tua. Coba kalau kita bandingkan dengan rata-rata umur umat Nabi Muhammad SAW yang hanya 60 tahun saja.

Karena kecintaan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, berakibat pula membiasnya kecintaan terhadap umatnya, termasuk kita. Dari kecintaan tersebut, maka setiap tahun Allah SWT memberikan hadiah besar terhadap umat Nabi Muhammad yang bernama Lailatul Qadar.

Siapa saja yang menemukan Lailatul Qadar dan beribadah di malam itu, maka nilai ibadahnya lebih baik daripada 1000 bulan atau 68 tahun bagi umat terdahulu.
Artinya, kalau dalam waktu 10 tahun seseorang dari umat Nabi Muhammad SAW memperoleh Lailatul Qadar, maka nilai ibadahnya lebih baik daripada 680 tahun. Artinya lagi kalau 20 tahun menemukan Lailatul Qadar, maka ia bak beribadah selama 1360 tahun. Hal ini melampaui batas ibadah yang telah dilakukan oleh utusan Nabi Isa as yang bernama Sya'mun tersebut.



Pada Masa Nabi Isa as.
Pada masa Nabi Isa as, ada kampung yang bernama Anthokiah. Negeri itu memiliki Raja yang bernama Al Thoikis, dimana rakyat di sana hidup mempersekutukan Allah dengan berhala-berhala.

Mendengar hal tersebut, Nabi Isa as mengutus 2 orang mubaligh untuk menyampaikan risalah Allah SWT dengan tidak mempersekutukan-Nya.
Namun, masyarakat di sana menolak mentah-mentah ajakan dari mubaligh ini. Perdebatan terjadi, dan didengar oleh Raja Al Thoikis. Karena khawatir akan kekuasaannya diganggu dengan adanya ajaran baru, maka utusan Nabi Isa as tersebut ditangkap dan dipenjara.

Berita pengakapan tersebut terdengar juga oleh Nabi Isa as, hingga akhirnya diutuslah utusan ketiga yang bernama Sya'mun Al Ghozi.
Sya'mun menghadap raja agar membebaskan para utusan Nabi Isa as. Dengan diplomasi yang cantik dan juga dengan pembuktian medis melalui misi kemanusiaan, pengobatan massal, maka dua utusan tersebut berhasil dibebaskan. Kepada 2 rekannya Sya'mun berpesan agar dalam menjalankan dakwah haruslah dengan kesabaran. Karena sabarlah yang mengundang datangnya pertolongan Allah SWT.

Pengkhianatan Istri.
Setelah perjuangan dakwah ketiga utusan itu sukses, memperoleh kemenangan gemilang di daerah Anthokiah, ditambah lagi dengan Mukjizat Nabi Isa as yang mampu menyembuhkan penyakit yang tidak dapat disembuhkan secara medis, maka pengikut Nabi Isa as menjadi sangat meluas.

Bahkan ketika Nabi Isa as mampu menghidupkan orang yang telah mati (ada pendapat mengatakan seminggu dari kematian, ada yang mengatakan 11 hari dan ada yang 40 hari), maka dimulailah babak baru kehidupan di negeri Anthokiah.

Namun sayang, ada seorang pemgusaha yang kaya raya sangat iri akan kehadiran ajaran baru yang dibawa oleh Nabi Isa as.
Pengusaha itu khawatir kalau kekayaannya akan direbut. Maka disebarkanlah fitnah kepada Sya'mun Al Ghozi dan rekan-rekannya. Kali ini datangnya dari para istri-istri mereka yang tergiur dengan iming-iming limpahan harta dari pengusaha kaya raya tersebut.
Syarat dapat limpahan harta adalah dengan membunuh suami-suami mereka. Hingga akhirnya Sya'mun tertangkap dan diikat di satu tiang di tengah alun-alun kota.

Seluruh bagian tubuh Sya'mun dikuliti dan disaksikan oleh banyak orang agar tidak terpengaruh dengan ajaran yang dibawa Nabi Isa as.
Dalam keadaan dikuliti tersebut, Sya'mun berdoa kepada Allah SWT,
"Ya Allah, kembalikanlah aku seperti sedia kala. Jikalau Engkau kabulkan permohonanku ini, maka aku akan mengabdi dan beribadah kepadaMu selama 1000 bulan," doa Sya'mun.

Akhirnya Allah SWT mengabulkan doa tersebut, Sya'mun Al Ghozi diberikan kehidupan kembali selama 1000 bulan. Selama itu pula, dirinya tidak lupa beribadah kepada Allah SWT. Atas perjuangan gigih dan kecintaannya itu, Sya'mun Al Ghozi dinyatakan sebagai ahli surga Jannatun Na'im.

Wallahu A'lam.

Ahli Ibadah Masuk Neraka

Walaupun sudah beribadah selama ratusan tahun, ternyata Allah memutuskan laki-laki ahli ibadah itu harus masuk neraka. Walau sedih, laki-laki tersebut tetap ikhlas dan justru karena keikhlasannya menerima neraka, ia justru mendapat surga.

Kisahnya.
Suatu saat, Nabi Musa as sedang berjalan-jalan melihat keadaan umatnya. Tak lama kemudian, beliau memutuskan untuk singgah ke sebuah tempat yang biasa digunakan untuk shalat bagi masyarakat setempat. Di tempat itu, Nabi Musa as melihat seseorang sedang beribadah dengan khusyuknya.

Nabi Musa as penasaran, siapakah laki-laki yang sudah menarik perhatiannya itu. Nabi Musa pun akhirnya menanyakan perihal tersebut kepada warga setempat. Menurut beberapa warga, orang tersebut adalah orang yang ahli ibadah.

Nabi Musa a.s. kagum melihat orang tua renta yang masih tetap khusyuk beribadah. Dengan segera, Nabi Musa as mendekatinya dan menyapa,
"Wahai hamba AAllah, apa yang hendak engkau pinta dari Allah sehingga engkau begitu khusyuk dalam beribadah," sapa nabi Musa a.s.

"Wahai Nabiyullah, umurku lebih dari 500 tahun dan aku telah 350 tahun beribadah kepada Allah tanpa melakukan dosa sedikitpun," kata ahli ibadah yang sudah tua itu.

"Subhanallah, apa yang kamu harapkan dari ibadahmu yang sedemikian lama itu?" tanya Nabi Musa a.s lagi.
"Aku hanya ingin tahu, di surga manakah Allah SWT akan meletakkan aku kelak di akhirat?" kata ahli ibadah itu.
"Apakah sudah engkau temukan jawabannya?" tanya Nabi Musa a.s.
"Belum Nabi, tolong sampaikan pertanyaanku ini kepada Allah SWT," pinta ahli ibadah itu.

Ikhlas.
Karena kagum dengan ibadah yang dilakukan orang tersebut, Nabi Musa as akhirnya mengabulkan permintaan ahli ibadah itu. Nabi Musa as kemudian bermunajat memohon kepada Allah SWT agar memberitahukan kepadanya dimana umatnya ini akan ditempatkan di akhirat kelak.
Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, sampaikanlah kepadanya bahwa Aku akan meletakkannya di dasar neraku-Ku yang paling dalam."

Meski dengan berat hati, Nabi Musa as tetap mengabarkan kepada orang tersebut apa yang telah Allah Firmankan kepadanya. Saat ahli ibadah itu mendengarkan perkataan Nabi Musa, ahli ibadah itu terkejut. Ia kaget atas apa yang dikatakan oleh Nabi Musa as. Dengan perasaan sedih, ia pun beranjak dari hadapan Nabi Musa as.



Pada malamnya, ahli ibadah itu terus menerus berfikir mengenai keadaan dirinya. Walaupun sedih, tapi ia ikhlas atas takdirnya. Ia tidak ingin menuntut apa-apa atas ibadahnya yang sudah 300 tahun itu. Namun, tiba-tiba terlintas di pikiran mengenai saudara-saudaranya, teman-temannya dan orang lain yang mana mereka baru beribadah selama 100 tahun, 200 tahun dan mereka yang belum beribadah sebanyak dirinya. Ahli ibadah itu berfikir, dimana kelak mereka akan di tempatkan. Ia merasa iba pada mereka, mungkin saja tempat mereka juga di neraka.

Masuk Surga.
Keesokan harinya, ia menjumpai Nabi Musa a.s kembali. Ia kemudian berkata,
"Wahai Nabi Musa as, aku rela kalau Allah SWT memasukkan akau ke dalam neraka-Nya, akan tetapi aku meminta satu permohonan. Aku mohon agar setelah tubuhku ini dimasukkan ke dalam neraka, maka jadikanlah tubuhku ini sebesar-besarnya sehingga seluruh pintu neraka tertutup oleh tubuhku dan tidak akan ada seorangpun yang akan masuk ke dalamnya karena tubuhku menutupi pintu neraka," pintanya.

Nabi Musa as. lalu menyampaikan permohonan orang itu kepada Allah SWT. Setelah mendengar apa yang disampaikan oleh Nabi Musa as, maka Allah SWT berfirman,
"Wahai Musa, sampaikanlah kepada umatmu itu bahwa sekarang Aku akan menempatkannya di surga-Ku yang paling tinggi."

Karena keikhlasan ahli ibadah itu, akhirnya ia mendapatkan surga. Nabi Musa as pun memberitahukan kabar ini kepada ahli ibadah yang sudah tua itu. Begitu mendengar berita yang menyenangkan itu, si ahli ibadah langsung bersyukur kepada Allah SWT. Ia semakin meningkatkan kualitas ibadahnya dengan ikhlas di sisa hidupnya.

Kamis, 20 Oktober 2011

Jin pun Bersyahadat

Ketika mendengar lantunan ayat suci Al Qur'an yang diucapkan oleh Rasulullah SAW, sekelompok jin langsung beriman kepada Allah SWT. Mereka dibaiat oleh Rasul di Masjid Jin Makkah.


Kisahnya.
Diriwayatkan bahwa suatu saat ada sekumpulan bangsa jin tengah mencuri kabar dari langit, tapi tiba-tiba saja ada api yang menyala mengarah kepada mereka. Para jin itu terkejut dan kemudian pergi menemui kaumnya.

"Apa yang terjadi denganmu?" tanya jin lainnya.
"Sebuah rintangan telah ditempatkan di antara kami dan kabar dari langit, api yang menyala dilemparkan kepada kami," jelas sekumpulan jin itu.
"Kalau begitu pasti ada sesuatu yang baru terjadi. Pergilah ke arah timur dan arah barat dan lihat apa yang telah ditempatkan sebagi rintangan antara kalian dengan kabar dari langit," suruh jin tersbut.

Sekumpulan bangsa jin itu lantas pergi menuju Tihama dan berpapasan dengan Nabi Muhammad SAW di sebuah tempat bernama Nakhla. Tempat itu terdapat di jalan yang menuju Suq Ukazh. Kala itu Nabi Muhammad SAW tengan mengerjakan shalat subuh berjamaah dengan para sahabatnya. Ketika mereka mendengar lantunan Al Qur'an, mereka memperhatikannya dan berkata,
"Demi Allah, inilah rintangan yang telah menghalangi kita dengan kabar dari langit."


Bacaan Al Qur'an.
Pada saat shalat subuh itu, Rasul SAW membaca surat Ar-Rahman ayat 1-78. Dalam surat ini terdapat beberapa ayat yang berbunyi,

فَبِأَيِّ آلاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

"Maka, nikmat Tuhan kamu manakah yang kamu dustakan?"

Ketika ayat itu dibacakan, para jin yang hadir saat itu langsung menjawabnya dengan kalimat,
"Wahai Tuhan kami, sesungguhnya kami tidak mendustakan nikmat-Mu sedikitpun. Segala puji hanya bagi-Mu yang telah memberikan nikmat lahir dan batin kepada kami."




Kemudian para jin itu kembali kepada kaumnya dan berkata,
"Wahai kaumku, sungguh kami telah mendengar bacaan yang menakjubkan. Bacaan itu menuntun ke jalan yang lurus dan disanalah kami beriman dan kami tidak akan pernah mempersekutukan sesuatu pun dengan Tuhan kami."

Setelah itu para jin lantas berdialog dengan Nabi Muhammad SAW. Mereka menyatakan dirinya beriman kepada Allah SWT. Penegasan keimanan jin ini terdapat dalam Surat Al-Jin ayat 1-2.


قُلْ أُوحِيَ إِلَيَّ أَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِنَ الْجِنِّ فَقَالُوا إِنَّا سَمِعْنَا قُرْآنًا عَجَبًا
يَهْدِي إِلَى الرُّشْدِ فَآمَنَّا بِهِ وَلَنْ نُشْرِكَ بِرَبِّنَا أَحَدًا

Artinya:
1. Katakanlah (hai Muhammad): "Telah diwahyukan kepadamu bahwasanya: telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya Kami telah mendengarkan Al Quran yang menakjubkan,
2. (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang benar, lalu Kami beriman kepadanya. dan Kami sekali-kali tidak akan mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan Kami,

Masjid Jin.
Melalui kisah tersebut, Allah SWT ingin menegaskan bahwa syariat yang dibawa Nabi Muhammad SAW itu tidak hanya berlaku pada manusia saja, namun juga untuk makhluk lain seperti jin ini.

Allah SWT berfiman dalam Surat Adz-Dzariyat ayat 56.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Artinya:
"Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku."

Peristiwa dibaiatnya sekumpulan jin ini terjadi di sebuah masjid yang terletak di kampung Ma'la, tak jauh dari pemakaman kaum muslim di kota Makkah. kini masjid itu dinamakan dengan Masjid Al-Jin atau Masjid Al-Bai'ah, karena di tempat itulah para jin berbaiat atau menyatakan keislaman mereka kepada Rasulullah SAW untuk beriman kepada Allah SWT dan kitab-Nya.

Rabu, 19 Oktober 2011

Upaya Setan Melelapkan Orang Tidur

Segala cara akan dilakukan setan untuk menjauhkan manusia dari jalan Allah SWT. Salah satunya adalah dengan mempengaruhi manusia agar menyukai tidur dan melelapkannya hingga manusia tersebut meninggalkan ibadah.



Kisahnya.
Dalam sebuah riwayat dari Imam Bukhari dan Imam Muslim dikisahkan bahwa Rasulullah SAW pada suatu saat mengetahui seorang pemuda yang gemar tidur. Pemuda tersebut selalu memperbanyak waktu tidurnya sehingga meninggalkan banyak ibadah kepada Allah SWT. Ketika Rasulullah mengetahui bahwa pemuda itu tidur sepanjang malam hingga subuh, bahkan pemuda itu tidak melaksanakan shalat malam, Rasul pun bersabda kepada para sahabat-sahabatnya.
"Sesungguhnya pemuda itu telah dikencingi setan di kedua telinganya," sabda Rasulullah SAW.

Dalam riwayat lain juga diceritakan bahwa setan selalu memberikan tiga ikatan di kepala orang yang tidur. Ketiga ikatan itu berfungsi agar orang tersebut terlelap tidur sehingga banyak meninggalkan ibadah.

Diikat Setan.
Jika orang itu bangun, kemudian teringat kepada Allah SWT, maka lepaslah satu ikatan.
Jika ia bangkit dan berwudhu, maka lepaslah ikatan yang kedua, lalu jika orang tersebut melakukan shalat, maka lepaslah semua ikatan itu.
Pada pagi harinya, orang itu akan terlihat giat dan berseri-seri. Namun, apabila ketiga ikatan itu tidak terlepas, maka pagi harinya orang tersebut terlihat kusut dan bermalas-malasan.




Iblis sangat serius melelapkan setiap manusia dalam tidur yang panjang.
Bahkan iblis memiliki anak buah yang khusus untuk menjalankan misinya tesebut. Anak buah iblis tersebut bernama Haz. Tiap malam setan Haz bekerja dengan mengelilingi barat dan timur demi mendatangi orang yang tidur sembari membisikkan rayuan.
"Tenanglah, tenanglah, malam masih panjang, tidurlah," ucap setan Haz mempengaruhi orang yang tidur.

Namun, agama islam memiliki cara untuk menghindari godaan setan Haz tersbut.
Pertama dengan berwudhu sebelum tidur. Menurut Imam Al Ghazali dalam kitabnya Maraqiy Al Ubudiyyah disebutkan bahwa barang siapa yang tidur dalam keadaan suci, maka ia akan ditunggui malaikat di atas kepalanya. Apabila ia terbangun dari tidurnya, malaikat itu akan berdoa kepada Allah SWT agar memberikan ampunan kepada hamba-Nya yang tidur dalam keadaan suci.

Serdadu Iblis.
Langkah kedua untuk menghindari godaan iblis dan anak buahnya adalah jangan lupa berdoa sebelum tidur, karena barang siapa yang membaca doa sebelum tidur, maka Allah SWT akan mengampuni dosa-dosanya.

Doa sebelum tidur sudah pada tahu semua kan.
Ini ada doa sebelum tidur yang diambil dari tafsir Al Mansub Ilayh.
"La hawla wala quwwata illa billah al 'aliyyil 'adzim, wa shalallahu 'alamuhammadin wa alihi."

Dalam tafsir tersebut dikisahkan bahwa barang siapa yang berlindung kepada Allah denga membaca kalimat doa tersebut, maka para setan akan lari dan melapor kepada iblis.

Dijaga Ratusan Ribu Malaikat.
Ketika iblis dengan serdadunya menggoda orang tersebut, maka Allah SWT segera memerintahkan kepada ratusan ribu malaikat untuk melawan iblis-iblis itu. Para malaikat itu dilengkapi dengan persenjataan yang lengkap seperti kuda api, pedang, panah dan senjata lain yang semuanya berasal dari api untuk memerangi iblis.

Selanjutnya, iblis dan anak buahnya kalah dan tertangkap. Iblis ditinggal dengan banyak luka. Luka tersebut tidak akan sembuh, kecuali orang yang digoda tersebut berbuat maksiat. Iblis serta setan akan menunggangi punggung orang tersebut untuk terus menggoda supaya berbuat maksiat, dan kalau sudah berbuat maksiat, maka sembuhlah iblis itu.

Jika iblis atau setan berhasil menjerumuskan manusia untuk berbuat dosa, ia akan lari sembari tertawa penuh kemenangan.

Kaum yang Dihujani Api

Meskipun sudah dikarunia tanah yang subur dan hidup makmur, namun kaum Madyan enggan menyembah Allah SWT. Nabi Syu'aib pun juga telah mengingatkan, tapi mereka lebih memilih menyembah pohon besar. Akibatnya, azab Allah berupa hujan api datang menimpa mereka.

Kisahnya.
Kisah ini dicuplik dari Ayat Al Qur'an Surat At-Taubah ayat 70.

أَلَمْ يَأْتِهِمْ نَبَأُ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ قَوْمِ نُوحٍ وَعَادٍ وَثَمُودَ وَقَوْمِ إِبْرَاهِيمَ وَأَصْحَابِ مَدْيَنَ وَالْمُؤْتَفِكَاتِ أَتَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ

Artinya:
Belumkah datang kepada mereka berita penting tentang orang-orang yang sebelum mereka, (yaitu) kaum Nuh, 'Aad, Tsamud, kaum Ibrahim, penduduk Madyan dan negeri-negeri yang telah musnah?. Telah datang kepada mereka Rasul-rasul dengan membawa keterangan yang nyata, Maka Allah tidaklah sekali-kali Menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang Menganiaya diri mereka sendiri.

Dikisahkan, pada saat itu terdapat suatu kaum yang memiliki wilayah yang subur dan hidup makmur. Kaum tersebut adalah Kaum Madyan. Penduduk Madyan juga terkenal pintar dalam berdagang. Pertanian dan perdagangan yang dilakukan penduduk Madyan membuat mereka hidup makmur. Namun sayang, dalam hal urusan ibadah, mereka meninggalkan ajaran yang pernah diajarkan Nabi Ibrahim a.s untuk menyembah Allah SWT.




Mereka menyembah Al-Aikah, yaitu nama sebatang pohon besar dengan cabang dan rantingnya yang rimbun. Burung-burung pun banyak yang mendatangi pohon yang dikeramatkan penduduk Madyan tersebut. Mereka beranggapan bahwa kemakmuran hidup yang mereka dapatkan adalah kemurahan Al-Aikah, bukan datang dari Allah SWT.


Akhlak Tercela.
Tak hanya itu, akhlak kaum Madyan kian tercela. Mereka membenarkan penipuan, perampokan, bahkan pemerkosaan. Mereka tak lagi punya kejujuran dan hati nurani terhadap sesama manusia.
Al-Aikah sesungguhnya tidak berbeda dengan pohon-pohon lainnya. Burung-burung yang berdatangan dan hinggap di Al-Aikah juga burung-burung biasa. Ia mengoceh karena memang begitulah perilakunya, bukan karena diperintah Al-Aikah.

Kerusakan akhlak dan tauhid yang demikian parah, menyebabkan Allah SWT mengutus Nabi Syu'aib a.s untuk menyadarkan Kaum Madyan. Nabi Syu'aib yang keturunan Nabi Luth dengan suara lantang mengingatkan kekeliruan kaum Madyan tersebut. Nabi Syu'aib menyeru agar penduduk Madyan meninggalkan penyembahan kepada Al-Aikah dan kembali menyembah Allah SWT.

"Ingatlah baik-baik, bukankah kalian dulu hanya berjumlah sedikit? Perhatikanlah baik-baik pula bagaimana akhir hidup bagi orang-orang yang berbuat kerusakan di muka bumi ini. Untuk itu, tinggalkan Al-Aikah dan sembahlah Allah," kata Nabi Syu'aib a.s.
"Kami tidak gentar dengan ancaman tersebut dan tetap akan menyembah Al-Aikah," kata seorang pemimpin Madyan.

Mendapati kekerasan hati dan penolakan penduduk Madyan, Nabi Syu;'aib lantas berdoa kepada Allah SWT,
"Ya Allah, Ya Tuhan Kami, berilah keputusan antara kami dan kaum kami dengan adil, karena Engkaulah pemberi keputusan yang sebaik-baiknya," doa Nabi Syu'aib a.s.

Udara Panas.
Nabi Syu'aib beserta pengiktunya bergegas meninggalkan daerah Madyan setelah mendapat kepastian akan segera datang azab. Akhirnya azab Allah kepada penduduk Madyan pun datang. Wilayah Madyan diguncang gempa maha dahsyat. Tidak hanya itu saja, penduduk Madyan didera dengan udara yang panas selama 7 hari 7 malam, panas yang menyengat. Meski mereka telah berusaha sekuat tenaga menanggulangi udara panas itu, usaha mereka tetap gagal.

Tak lama kemudian, muncul awan hitam dari langit. Penduduk Ashabul Aikah bersuka cita karenanya. Namun, ternyata yang datang bukanlah air hujan, melainkan hujan api dan bara yang menyala-nyala. Dalam waktu siingkat saja, seluruh penduduk Madyan mati mengenaskan karena kekafiran serta kemusyrikan mereka kepada Allah SWT.

Datangnya azab Allah sesungguhnya bukan karena keinginan Allah menyiksa mereka, tetapi semua itu karena kaum Madyan yang ingin menyiksa dirinya sendiri dan tidak mau bertobat.
Allah SWT adalah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

Selasa, 18 Oktober 2011

Lewati Malam Pengantin dengan Shalat

Sebagai seorang wanita, Muadzah binti Abdullah termasuk seorang yang ahli ibadah, bahkan ketika menjalani malam pertama untuk pengantin baru, ia dan suaminya melaluinya dengan shalat semalam penuh.

Berikut Kisahnya.
Muadzah binti Abdullah merupakan wanita teladan dalam sejarah islam. Ia tumbuh dekat dengan para sahabat dan mendapatkan banyak ilmu dari mereka. Muadzah termasuk wanita yang sangat gemar membaca Al Qur'an, terutama setelah shalat Shubuh.
Dirinya selalu membaca Al Qur'an di pagi hari dan sore hari. Hatinya selalu melantunkan zikir kepada Allah SWT. Tak ada rutnitas pun yang bisa menghalanginya untuk beribadah, bahkan hingga hari pernikahannya.

Rajin Beribadah.
Muadzah ini menikah dengan Shilah bin Asyyam yang juga merupakan salah seorang yang terhormat, pemimpin teladan, pemilik kemuliaan, zuhud dan rajin beribadah. Pasangan suami istri ini bagaikan lautan ilmu dan ahli fiqih, serta memiliki sikap wara' dan zuhud.

Salah satu kisahnya yang terkenal dari pernikahan Muadzah adalah saat malam pegantinnya.
Setelah keduanya berada dalam satu rumah, Shilah lantas mengucapkan salam kepada Muadzah, kemudian suaminya berdiri untuik shalat, lalu Muadzah pun berdiri mengikutinya shalat.

Keduanya larut dalam shalat hingga fajar menyingsing keesokan paginya. Mereka berdua terus beribadah hingga keduanya lupa bahwa mereka sedang menjalani malam pengantin. Muadzah dan suaminya pun menjalani kehidupan dalam rangka mencari keridhaan Allah SWT.




Muadzah mengambil teladan dari suaminya dalam hal beribadah, sehingga dirinya menjadi salah satu wanita yang menjadi simbol dalam ibadah. Ia menjadi seorang mukmin yang ikhlas karena Allah SWT. Ia menghidupkan semua malamnya untuk beribadah, sehingga sifat bijaksananya mengalir dari setiap kata yang terucap dan sikap dari perbuatannya.

Segala ucapan Muadzah tak pernah lepas dari nasehat dan peringatan tentang dunia. Salah satu ucapannya yang terkenal adalah,
"Wahai anakku, jadikanlah pertemuan denganAllah SWT dengan diiringi sikap waspada dan pengharapan. Sebab, saya melihat orang yang berharap mendapatkan hak dengan kebaikan tempat kembali di hari ia menghadap-Nya. Saya melihat orang yang takut mendapatkan angannya, akan keselamatan di hari dimana orang-orang berdiri menghadap Tuhan semesta alam."

Wanita Teladan.
Sepeninggal suaminya, Muadzah masih hidup lebih dari 20 tahun. Setiap hari selalu ia lewati akan persiapan diri bertemu dengan Allah SWT. Ia berharap dapat berkumpul kembali dengan suami dan anaknya dalam naungan kasih sayang-Nya.

Dikisahkan, saat menjelang ajalnya, Muadzah menangis kemudian tertawa.
"Apa alasan untuk menangis dan apa alasan untuk tertawa?" tanya salah seorang pentakziah kepada Muadzah.
"Adapun tangisanku yang kalian lihat karena saya mengingat perpisahan dengan aktivitas puasa, shalat dan zikir, itulah tangisanku tadi. Adapun senyuman dan tawaku, karena saya melihat almarhum suamiku telah menyambutku di beranda rumah dengan dua kalung berwarna hijau. dan ia bersama dalam rombongan. Sungguh saya tidak melihat mereka mempunyai kalung yang menyamainya. Maka saya tertawa," jawab Muadzah.

Setelah meninggal dunia, nama Muadzah selalu disebut-sebut sebagai ahli ibadah. Semoga Allah SWT merahmati dan melindunginya dari api neraka, membalasnya dengan balasan terbaik dan menggabungkannya dengan orang-orang yang shalih.
Sungguh Seorang Wanita yang Mulia dan Teladan.

Kristiani Masuk Islam berkat Sedekah

Seorang muslim yang kaya raya tidak jadi memperoleh dua istana yang cantik karena menolak bersedekah. Lantas dua istana itu diberikan kepada seorang kristiani karena ia memberikan sedekah yang diinginkan oleh orang miskin, bahkan akhirnya orang kristiani itu masuk Islam.


Berikut Kisahnya.
Al Kisah disebutkan bahwa di kota Array hiduplah seorang pedagang yang kaya raya.
Suatu hari, kebetulan hari Asysyura, datanglah seorang miskin meminta sedekah. Ia tahu bahwa pemilik rumah
itu adalah pedagang yang terkenal, karena itu si miskin itu berniat meminta sedikit sedekah.

Setelah mengetuk pintu, berkatalah si miskin,
"Wahai Tuan Pedagang, saya adalah seorang miskin yang mempunyai tanggungan keluarga. Demi kehormatan dan kemuliaan hari ini, saya meminta pertolongan dari Tuan, maka berilah saya sedekah sekeadarnya berupa sepuluh keping roti, lima potong daging dan uang 2 dirham."

Setelah melihat sejenak ke arah si miskin, pedagang itu menjawab,
"Datanglah selepas waktu Dzuhur."
Selepas waktu zuhur, si miskin itu pun datang demi memenuhi janjinya. Sayangnya, si pedagang kaya itu tidak menepati janjinya dan menyuruh si miskin datang lagi selepas shalat Ashar.

Si miskin sebenarnya merasa kecewa karena si pedagang tak menepati janjinya. Namun ia menuruti juga apa yang dikatakan si pedagang. Ia kembali lagi ke jalan sampai menunggu Ashar.

Menolak Bersedekah.
Tak lama kemudian, si miskin datang lagi selepas waktu yang dijanjikan untuk kali kedua. Dengan penuh harap agar si pedagang kaya itu memenuhi janjinya dan memberinya sedekah.
"Aku kembali tepat pada waktu yang Anda katakan," ujar si miskin.

Namun, ternyata si pedagang tidak memberikan apa-apa. Sungguh kecewa hati si miskin melihat hal ini. Ia sangat menyayangkan sikap kikir si pedagang, padahal ia sangat kaya dan si miskin itu hanya berniat meminta sedikit saja harta si pedagang.

Dengan membawa kekecewaan, pergilah si miskin ini dari rumah si pedagang kaya. Di waktu si miskin berjalan mencari-cari, ia lewat di depan seorang kristiani sedang duduk-duduk di depan rumahnya. Si miskin sudah tidak tahu lagi harus meminta kepada siapa.

Ia akhirnya meminta kepada orang yang ditemuinya itu. Kepada orang kristiani itu, si miskin meminta sedekah,
"Tuan, demi keagungan dan kebesaran hari ini, berilah saya sedekah untuk menyara keluarga saya," pinta si miskin.
Si kristiani bertanya," Hari apakah ini?"
"Hari ini adalah hari Asy-Syura," kata si miskin sambil menerangkan keutamaan dan kisah-kisah hari Asy-Syura.

Rupanya orang kristiani itu sangat tertarik mendengar cerita si miskin dan hatinya berkenan untuk memberinya sedekah.
Setelah mendengar kisah dan cerita mengenai bulan Asy-Syura, si kristiani bertanya,
"Katakan apa hajatmu padaku."
Berkata si miskin," Saya memerlukan sepuluh keping roti, lima potong daging dan uang dinar 2 dirham saja."

Dengan segera si kristiani itu memberi si miskin sedekah semua keperluan yang dimintanya. Si miskin pun kembali pulang dengan hati yang riang gembira kepada keluarganya.


Dua Istana.
Di lain tempat, si pedagang pelit tersebut kemudian bermimpi dalam tidurnya.
"Angkatlah kepalamu," kata suara dalam mimpinya.
Lalu ia mengangkat kepala, tiba-tiba saja ada gambaran di hadapan matanya dua buah istana cantik. Sebuah bangunan yang dibangun dari batu bata terbuat dari emas dan sebuah lagui dibangun dari batu batuan yang berkilauan warnaya.

Ia bertanya,
"Ya Tuhan, untuk siapakah bangunan yang sangat cantik dan indah itu?"
Lalu terdengar jawaban,
"Semua bangunan ini adalah untuk kamu andai saja kamu mau memenuhi keinginan si miskin yang meminta sedekah ke rumahmu itu. Namun kini bangunan itu dimiliki oleh seorang kristiani yang sebelumnmya beragama Kristen."

Sontak saja si pedagang terbangun dari tidurnya, ia pun segera pergi mencari si kristiani yang dimaksudkan dalam mimpinya itu.
Setelah bertemau, si pedagang bertanya,
"Amal apakah gerangan yang telah engkau perbuat semalam hingga engkau mendaptkan dua buah istamna yang cantik?"

Orang kristiani itu pun menceritakan tentang amal yang diperbuatnya bahwa ia telah bersedekah kepada si miskin yang memerlukannya pada hari Asy-Syura itu.
"Juallah amal itu kepadaku dengan seratus ribu dirham," kata si pedagang.
"Ketahuilah wahai pedagang, sesungguhya amal baik yang diterima oleh Allah SWT itu tidak dapat diperjualbelikan, seklaipun dengan harga bumi dan seisinya," jawab si kristiani.

"Mengapa Anda begitu bersemangat, sedangkan Anda bukan seorang Islam," tanya si pedagang.
"Benar, kemarin aku bukan seorang muslim, tapi setelah mendengar cerita tentang hari Asy-Syura tadi malam saya sudah mengucapkan kalimat syahadat serta mengakui kebenaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Apalagi ditambah oleh penuturanmu yang mengatakan bahwa sedekah akan diganti dengan isatana di surga, maka aku sangat bersemangat," jawab si kristiani ini yang ternyata pada malamnya sudah menjadi seorang muslim.

Senin, 17 Oktober 2011

Enggan Berzakat Mati Ditelan Bumi

Karena enggan membayar zakat dari hartanya, Qarun bin Yashar bin Qahit akhirnya mendapat azab dari Allah SWT. Ia berserta seleuruh harta kekayaannya musnah dan hilang ditelan bumi.

Berikut Kisahnya.
Kisah Qarun dan hartanya yang ditelan bumi ini diabadikan dalam Al Qur'an untuk menjadi pelajaran bagi umat islam dan bahkan umat yang lain.

Allah SWT berfirman,

فَخَسَفْنَا بِهِ وَبِدَارِهِ الأرْضَ فَمَا كَانَ لَهُ مِنْ فِئَةٍ يَنْصُرُونَهُ مِنْ دُونِ اللَّهِ وَمَا كَانَ مِنَ الْمُنْتَصِرِينَ

Artinya:
"Maka Kami benamkanlah Qarun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. dan Tiadalah ia Termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)."

Dikisahkan bahwa pada mulanya Qarun ini hanya manusia yang miskin. Ia bekerja sebagai pegawai kerajaan yang dipimpin oleh Raja Fir'aun. Namun demikian, Qarun termasuk orang yang licik dan munafik. Di depan Raja Fir'aun, ia menyatakan pengabdiannya, namun di depan Nabi Musa a.s ia menyatakan beriman kepada Allah SWT.

Pada suatu kesempatan, ia meminta Nabi Musa untuk mendoakannya kepada Allah SWT agar ia diberi kekayaan. Permintaan tersebut akhirnya dikabulkan oleh Allah SWT. Dalam waktu yang singkat, Qarun menjadi kaya raya. Dia memiliki ribuan gudang harta berisikan emas dan perak. Qarun sangat kaya sehingga kunci-kunci harta bendanya harus dipikul oleh beberapa orang yang kekar.

Menolak Perintah Zakat.
Suatu ketika, Nabi Musa a.s mendapat perintah dari Allah SWT agar orang-orang kaya yang ada di Mesir membayar zakat. Karena sejak lama Qarun menyatakan beriman, maka Musa pun menyampaikan perintah Allah tersebut kepadanya.

Qarun menanggapi aturan zakat itu dengan sinis dan dingin.
Bahkan ia mencoba untuk berkolusi dengan Nabi Musa.
"Aku mau membayar zakat, tetapi 1 dinar untuk 1.000 dinar dari hartaku, bagaiamana?" kata Qarun menawarkan kepada Nabi Musa.
"Aku tidak boleh mengambil keputusan di luar ketentuan Allah SWT. Sebagaimana telah aku sampaikan sebelumnya kepadamu, bahwa Allah mewajibkan kepada kita untuk membayar zakat seperempat dari seluruh harta yang dimiliki," kata Nabi Musa.

"Apa-apaan ini, kalau seperempat dari harta yang ada, alangkah besarnya," keluh Qarun.
Secara tegas, Qarun pun menolak peraturan itu. Semenjak itu, permusuhan Qarun dengan Nabi Musa a.s. mulai muncul ke permukaan. Qarun mulai terang-terangan mengajak orang-orang kafir untuk membangkang dan memusuhi Nabi Musa dan pengikutnya.

Bahkan tidak hanya itu, Qarun sengaja menciptakan fitnah kepada Nabi Musa. Ia membayar mahal seorang wanita untuk mengaku pernah berzina dengan Nabi Musa. Mengetahui dirinya diftnah, Nabi Musa ingin menayakan langsung kepada si wanita tersebut yang disaksikan oleh orang banyak.

"Demi Allah yang telah menciptakanku, katakan yang sebenarnya, apakah aku pernah berzina denganmu?" tanya Nabi Musa.
"Wahai Musa, demi kebenaran, maka akau akan menjawabnya secara jujur. Sesungguhnya tuduhan itu tidak benar. Beberapa waktu yang lalu, Qarun telah mengajakku mengakui bahwa engkau pernah berzina denganku sampai hamil. Lalu dia menjanjikan untuk imbalan seribu dirham. Setelah aku pikir, maka aku lebih memilih takut kepada Allah SWT daripada menuduh utusan-Nya berbuat zina," kata wanita itu.


Bumi Terbelah.
Nabi Musa terharu mendengar pengakuan wanita itu. Ternyata masih ada wanita malam yang berhati jujur dan takut kepada Allah SWT. Ia lalu langsung sujud syukur kepada Allah SWT yang telah menolongnya dari permainan Qarun yang curang dan buruk itu.

Nabi Musa a.s. berdiri kembali.
Ia berkata kepada orang-orang yang ada di sana untuk terus beriman kepada Allah SWT.
"Wahai Bani Israil, barang siapa yang mendukung Qarun, maka tetaplah di sini. Dan barang siapa yang beriman kepada Allah SWT maka marilah pergi dari sini untuk mengikutiku," kata Nabi Musa a.s.

Sebagian orang yang menjadi pengikut Qarun masih tetap bertahan di tempat itu.
Sedangkan Musa dan para pengikutnya pergi meninggalkan mereka. Sesaat setelah meninggalkan mereka, Nabi Musa berdoa kepada Allah SWT agar bumi menelan Qarun dan pengikutnya.
Seketika itu juga bumi menjadi terbelah. Tanah tempat berpijak Qarun dan pengikutnya menelan mereka sampai ke dasar bumi.

Petunjuk dari Seekor Burung

Berkat petunjuk dari seekor burung, Syaqiq al-Balkhi menjadi lebih mengetahui hubungan antara ibadah dan rezeki. Kisah ini terdapat dalam kitab Ar-Risalah al Qusyayriyyah fi 'Ilm al Tashawwuf.


Berikut Kisahnya.
Syaqiq al-Balkhi adalah seorang pengusaha yang memiliki orang tua yang juga pengusaha kaya. Suatu ketika, ia keluar daerah untuk melakukan perjalanan dagang. Di tengah perjalanan, ia beristirahat disebuah tempat ibadah milik agama penyembah berhala, dan di sana ia menjumpai penjaga tempat ibadah itu sedang mencukur rambut dan jenggotnya, lalu mengenakan pakaian sembahyang.

Syaqiqi ini adalah seorang muslim yang taat, baginya, berhala adalah benda mati yang tidak patut dijadikan sesembahan.
"Kau memiliki Pencipta Yang Maha Hidup, Maha Tahu, Maha Kuasa. Dialah Allah yang seharusnya engkau sembah, bukan benda mati bernama berhala yang tak bisa berbuat apa-apa itu," kata Syaqiq kepada penjaga itu.
"Jika benar Dia Maha Kuasa, kenapa Dia tak berkuasa memberimu harta di daerahmu sendiri agar engkau tidak perlu jauh-jauh berniaga mencarinya di daerah orang? Kenapa pula engkau capek-capek mencari harta jika Dia berkuasa memberikannya untukmu?" kata si penjaga tempat ibadah itu.

Petunjuk Burung.
Rupanya tanggapan yang tak terduga itu telah menghujam jantung hati Syaqiq. Syaqiq terdiam seribu bahasa, merenung. Ia kemudian memutuskan kembali ke daerahnya sehingga tidak jadi melanjutkan perjalanan dagang.
Ia bernia menjalani hidup zuhud dan meninggalkan segala kemewahan, menghabiskan waktu untuk beribadah.

Keyakinan Syaqiq untuk menempuh hidup zuhud semakin bertambah kuat setelah mendapatkan pelajaran dari seekor burung.
Suatu ketika, ia melihat seekor burung yang tak lagi sempurna sayapnya, dan burung itu sendirian di atas tanah. Syaqiq bertanya dalam hati,
"Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup jika tidak punya sayap yang sempurna untuk terbang dan mencari makan?"

Tak lama kemudian datanglah seekor burung lain terbang merendah membawa makanan di paruhnya mendekati burung bersayap tak sempurna itu. Lalu ia menyuapinya.
"Hmmm...begitukah?" kata Syaqiq dalam hati.

Sadar.Suatu hari, Syaqiq berada di tempat ia biasa menghabiskan waktunya untuk beribadah. Sampai kemudian, Ibrahim ibn Adham mendatanginya. Ibrahim ibn Adham ini juga merupakan orang yang kaya raya, dia juga berasal dari daerah Balakh, bagian dari wilayah Khurasan. Ibrahim ini juga memilih menjalani hidup zuhud.
"Kenapa engkau memilih hidup seperti ini?" tanya Ibrahim.

Syaqiq lalu menceritakan perihal burung itu, burung yang ditunjukkan kepadanya seolah untuk memberikan ilham.
"Burung itu tak lagi punya sayap yang sempurna, namun ia tetap bisa mendapatkan makanan," kata Syaqiq.

"Dia yang memberi rezeki untuk burung yang memiliki sayap tak sempurna itu dan Dia pula yang akan memberikan rezeki untukku. Burung itu telah mengajariku bertawakal. Maka, waktuku akan kuhabiskan untuk beribdah kepada Allah SWT," lanjut Syaqiq.

"Syaqiq, kenapa engkau memilih burung dengan sayap tak sempurna, yang hanya bisa menengadahkan paruhnya untuk mendapatkan makanan? Kenapa engkau tidak memilih menjadi burng dengan sayap yang sempurna agar engkau mampu mencari rezeki sendiri bahkan membantu yang lain untuk mendapatkan rezekinya?" kata Ibrahim.
Hati Syaqiq terhujam untuk kedua kalinya. Syaqiq segera saja meraih tangah Ibrahim seraya berkata,
"Engkaulah guruku," kata Syaqiq seraya menciumi tangan Ibrahim berkali-kali.