Monday, October 17, 2011

Petunjuk dari Seekor Burung

Berkat petunjuk dari seekor burung, Syaqiq al-Balkhi menjadi lebih mengetahui hubungan antara ibadah dan rezeki. Kisah ini terdapat dalam kitab Ar-Risalah al Qusyayriyyah fi 'Ilm al Tashawwuf.


Berikut Kisahnya.
Syaqiq al-Balkhi adalah seorang pengusaha yang memiliki orang tua yang juga pengusaha kaya. Suatu ketika, ia keluar daerah untuk melakukan perjalanan dagang. Di tengah perjalanan, ia beristirahat disebuah tempat ibadah milik agama penyembah berhala, dan di sana ia menjumpai penjaga tempat ibadah itu sedang mencukur rambut dan jenggotnya, lalu mengenakan pakaian sembahyang.

Syaqiqi ini adalah seorang muslim yang taat, baginya, berhala adalah benda mati yang tidak patut dijadikan sesembahan.
"Kau memiliki Pencipta Yang Maha Hidup, Maha Tahu, Maha Kuasa. Dialah Allah yang seharusnya engkau sembah, bukan benda mati bernama berhala yang tak bisa berbuat apa-apa itu," kata Syaqiq kepada penjaga itu.
"Jika benar Dia Maha Kuasa, kenapa Dia tak berkuasa memberimu harta di daerahmu sendiri agar engkau tidak perlu jauh-jauh berniaga mencarinya di daerah orang? Kenapa pula engkau capek-capek mencari harta jika Dia berkuasa memberikannya untukmu?" kata si penjaga tempat ibadah itu.

Petunjuk Burung.
Rupanya tanggapan yang tak terduga itu telah menghujam jantung hati Syaqiq. Syaqiq terdiam seribu bahasa, merenung. Ia kemudian memutuskan kembali ke daerahnya sehingga tidak jadi melanjutkan perjalanan dagang.
Ia bernia menjalani hidup zuhud dan meninggalkan segala kemewahan, menghabiskan waktu untuk beribadah.

Keyakinan Syaqiq untuk menempuh hidup zuhud semakin bertambah kuat setelah mendapatkan pelajaran dari seekor burung.
Suatu ketika, ia melihat seekor burung yang tak lagi sempurna sayapnya, dan burung itu sendirian di atas tanah. Syaqiq bertanya dalam hati,
"Bagaimana burung ini bisa bertahan hidup jika tidak punya sayap yang sempurna untuk terbang dan mencari makan?"

Tak lama kemudian datanglah seekor burung lain terbang merendah membawa makanan di paruhnya mendekati burung bersayap tak sempurna itu. Lalu ia menyuapinya.
"Hmmm...begitukah?" kata Syaqiq dalam hati.

Sadar.Suatu hari, Syaqiq berada di tempat ia biasa menghabiskan waktunya untuk beribadah. Sampai kemudian, Ibrahim ibn Adham mendatanginya. Ibrahim ibn Adham ini juga merupakan orang yang kaya raya, dia juga berasal dari daerah Balakh, bagian dari wilayah Khurasan. Ibrahim ini juga memilih menjalani hidup zuhud.
"Kenapa engkau memilih hidup seperti ini?" tanya Ibrahim.

Syaqiq lalu menceritakan perihal burung itu, burung yang ditunjukkan kepadanya seolah untuk memberikan ilham.
"Burung itu tak lagi punya sayap yang sempurna, namun ia tetap bisa mendapatkan makanan," kata Syaqiq.

"Dia yang memberi rezeki untuk burung yang memiliki sayap tak sempurna itu dan Dia pula yang akan memberikan rezeki untukku. Burung itu telah mengajariku bertawakal. Maka, waktuku akan kuhabiskan untuk beribdah kepada Allah SWT," lanjut Syaqiq.

"Syaqiq, kenapa engkau memilih burung dengan sayap tak sempurna, yang hanya bisa menengadahkan paruhnya untuk mendapatkan makanan? Kenapa engkau tidak memilih menjadi burng dengan sayap yang sempurna agar engkau mampu mencari rezeki sendiri bahkan membantu yang lain untuk mendapatkan rezekinya?" kata Ibrahim.
Hati Syaqiq terhujam untuk kedua kalinya. Syaqiq segera saja meraih tangah Ibrahim seraya berkata,
"Engkaulah guruku," kata Syaqiq seraya menciumi tangan Ibrahim berkali-kali.

Saturday, October 15, 2011

Kebaikan Akhlak Cicit Rasulullah

Jakfar Al Mansur adalah salah seorang khalifah dari dinasti Abbasiyah, dan ternyata dia memiliki dendam kepada Hisyam bin Abdul Malik.
Suatu saat ia bertemu dengan Muhammad bin Hisyam, Jakfar pun ingin membalas dendam. Hal ini membuat Hisyam cemas, namun pada akhirnya Hisyam diselamatkan oleh Muhammad bin Zaid, cicit Rasulullah SAW.


Kisahnya.
Pada suatu hari, Jakfar menunaikan ibadah haji. Ketika sedang menjalankan ibadah di Masjidil Haram, tiba-tiba ia melihat ada seseorang yang memperlihatkan mutiara indah yang bernilai sangat mahal. Langsung saja ia teringat bahwa mutiara itu milik Hisyam bin Abdul Malik bin Marwan Al-Umawi.

"Aku sekarang ingat, mutiara itu milik pembunuh ayahku," katanya dalam hati.
Karena pemegang mutiara itu adalah anak muda, maka ia berfikir bahwa anak muda itu pastilah anak Hisyam.
Menurut orang yang duduk di sebelahnya, anak muda itu bernama Muhammad bin Hisyam. Setelah mengetahui pemilik mutiara itu, darah Jakfar langsung tersirap di sekujur tubuhnya, dendamnya terhadap keturunan Dinasti Umayyah bangkit.
Karena itulah ia berniat mengambil mutiara itu dengan kekerasan, dan tak lama kemudian ia memanggil ajudannya yang bernama Rabi.

"Besok pagi aku akan melaksanakan shalat berjamaah di Masjidil Haram. Kalau seluruh hadirin sudah berkumpul, maka kuncilah seluruh pintu dan panggillah sekelompok orang kepercayaan untuk menjaga pintu keluar. Pintu yang dibuka hanya satu saja serta perhatikan pula setiap orang yang keluar dari pintu itu, dan jika kamu menemukan orang yang bernama Muhammad bin Hisyam, segeralah dia kamu bawa ke hadapanku," pesan Jakfar kepada Rabi.

Akan Dibunuh.
Pada pagi harinya, perintah Jakfar ini langsung dikerjakan oleh Rabi.
Semua pintu Makkah ditutup, dan menyisakan hanya satu pintu saja yang dibuka. Muhammad bin Hisyam merasa terancam, namun tanpa diduga, ada seseorang yang mendekati, beliaulah Muhammad bin Zaid bin Ali bin Husein bin Ali (cucu Fatimah Az-Zahra, Puteri Rasulullah SAW).




Setelah duduk dan berdekatan, cucu Fatimah ini membuka pembicaraan,
"Ada apa Tuan?" tanya cucu Fatimah.
"Oh, tidak, tidak ada apa-apa," sahut Muhammad bin Hisyam dengan muka pucat.
"Ceritakanlah kepadaku dengan terus terang, engkau akan aku lindungi," ujar cucu Fatimah lagi.
"Siapakah Anda, saya belum pernah mengenal Anda?" tanya Muhammad bin Hisyam.
"Aku adalah Muhammad bin Zaid bin Ali bin Husein, cucu Fatimah binti Rasulullah SAW.

Mendengar jawaban itu, tubuh Muhammad bin Hisyam langsung menggigil ketakutan. Keringat dingin langsung bercucuran membasahi pakaiannya. Muhammad bin Hisyam mengira bahwa tamatlah riwayatnya kali ini, karena ayahnyalah yang membunuh ayah cucu Fatimah ini. Namun semua perasaan Muhammad bin Hisyam sebenarnya keliru, cucu Fatimah ini sungguh mulia dan baik hatinya. Muhammad bin Hisyam mengira pula bahwa cucu Fatimah ini akan membalas dendam, namun dugaannya salah.

Setelah melihat hal yang demikian, cucu Fatimah ini berusaha menghibur,
"Janganlah engkau takut dan khawatir, kamu bukanlah pembunuh bapak dan kakekku. Demikian itu tidak beralasan jika aku merasa dendam kepadamu. Namun Insya Allah aku akan berusaha melepaskanmu dari bahaya yang tengah engkau hadapi ini," jelas cucu Fatimah.

"Alhamdulillah, terserah kepada Anda, akan aku terima segala perlakuanmu kepadaku," sahut Muhammad bin Hisyam yang mulai agak tenang.

Akhirnya Selamat.
Setelah itu, segera saja cucu Fatimah Az-Zahra ini membebatkan baju luarnya ke muka Muhammad bin Hisyam. Dengan siasat tertentu, kepala Muhammad bin Hisyam ditundukkan kemudian diseret keluar dengan kasar. Dan setelah sampai di depan pintu, ajudan Jakfar memperhatikan keduanya.

Namun, cucu Fatimah ini segera membuat siasat baru lagi. Muhammad bin Hisyam segera saja ditempelng berulang kali seraya berkata,
"Wahai Rabi, orang jahat ini pemilik unta sewaan dari Kuffah. Di saat ini aku telah membayar uang sewa kepadanya, dia malah kabur dan menyewakannya kepada orang lain, yaitu orang Kurasan. Sekarang dia baru aku jumpai dan akan aku tahan," begitu ucap cucu Fatimah ini.




Kemudian cucu Fatimah ini langsung membebatkan kembali bajunya ke kepala Muhammad bin Hisyam sehingga mukanya tertutup kembali.
Setelah jauh dari pandangan Rabi, cucu Fatimah ini melepaskan Muhammad bin Hisyam.
"Segeralah kamu pergi dan mencari tempat berlindung," kata cucu Fatimah.

"Wahai cucu Fatimah Puteri Rasulullah SAW, aku sangat berterima kasih atas jasa Anda, jika Anda berkenan, terimalah benda ini sebagai cinderamata dan kenangan atas kebajikan yang telah Anda berikan kepadaku," ujar Muhammad bin Hisyam sambil menyodorkan mutiara yang dipunyainya.

"Ambillah kembali, dan bawalah kekayaanmu itu. Kami merupakan Ahlul Bait Rasulullah SAW, tidak boleh menerima atas kebajikan yang telah kami lakukan. Jagalah dirimu dari orang yang kini berusaha menangkapmu," kata cucu Fatimah.
Maka pergilah Muhammad bin Hisyam dengan penuh keharuan. Dia bersyukur atas nikmat Allah SWT yang telah diberikan karena baru saja telah ditolong dan dipertemukan dengan anak turun Nabi dan Rasul akhir zaman, Cicit Nabi Muhammad SAW.

Friday, October 14, 2011

Ludah Rasulullah Penawar Bisa Ular

Rasulullah SAW memiliki banyak mukjizat dan kali ini salah satunya adalah ludah Rasulullah SAW yang bisa menjadi obat penawar bisa ular.
Mukjizat itu dibuktikan sendiri oleh sahabatnya, Abu Bakar ketika menemani Rasulullah SAW bersembunyi di Gua Tsur.

Kisahnya.
Ketika Rasululah SAW diburu orang kafir Quraisy dan hendak dibunuh, beliau bersembunyi di Gua Tsur dengan ditemani Abu Bakar. Sebelum masuk gua, Abu Bakar meminta izin masuk terlebih dahulu supaya dapat membersihkan gua itu serta menutup lubang-lubang yang ada di gua itu.

Tak lama kemudian, setalah gua menjadi bersih, Rasulullah SAW masuk dan membaringkan tubuhnya di atas tanah dengan kepalanya berbantalkan paha Abu Bakar. Karena terlihat cukup letih, Rasulullah SAW tertidur di gua itu. Abu Bakar duduk dan tidak berani bergerak karena tidak ingin mengganggu tidur Rasulullah SAW. Abu Bakar memilih tetap waspada dari kejaran kafir Quraisy.

Namun, tak lama berselang, Abu Bakar melihat seekor ular berbisa hendak keluar dari salah satu lubang yang tidak sempat ditutup. Dengan cekatan, Abu Bakar menutup lubang itu dengan salah satu kakinya. Tiba-tiba saja ular itu menggigit kaki Abu Bakar, dan dalam waktu sekejap saja bisa ular itu menjalar ke seluruh tubuh Abu Bakar.


Gigitan Ular Mematikan.
Meskipun demikian, Abu Bakar tidak menjerit. Ia tidak ingin Rasulullah akan terbangun dari tudur akibat jeritannya. Semakin lama bisa ular itu melemahkan tubuh Abu Bakar dan membuatnya menangis. Secara tidak sengaja, tetesan air matanya jatuh mengenai tubuh Rasulullah SAW.




"Mengapa engkau menangis wahai Abu Bakar? Apakah kamu merasa takut dengan orang kafir Quraisy yang mengancam nyawamu?" tanya Rasulullah yang terbangun akibat tetesan air mata Abu Bakar.
"Ya Rasulullah, aku tidak pernah takut mati demi membela agama Allah," jawab Abu Bakar dengan suara melemah.

"Lalu apa yang terjadi hingga kamu menangis?" tanya Rasulullah lagi.
"Kakiku telah digigit ular, tubuhku lemas, aku menangis karena takut tidak akan bisa menjagamu lagi," kata Abu Bakar yang kemudian bersimpuh di hadapan Rasulullah SAW.

Rasululah SAW segera memeriksa telapak kaki Abu Bakar. Setelah melihat adanya bekas gigitan ular, beliau langsung meludahinya.
Ajaib...serta merta rasa sakit di kaki Abu Bakar langsung sirna, hilang serta merta. Tidak lama kemudian Abu Bakar sudah merasa bugar lagi seperti sedia kala.

Sementara itu, para pemuda kafir Quraisy yanmg mencari Rasulullah SAW dan Abu Bakar, akhirnya tiba juga di Gua Tsur. Akan tetapi Allah SWT membantu dengan mengarahkan laba-laba untuk menutupi mulut gua dengan sarangnya. Keadaan sarang laba-laba yang utuh tidak terusik itu menyebabkan mereka yang memburu Rasulullah SAW berpikir, tidak mungkin ada orang di dalam gua itu.

"Janganlah berduka wahai sahabatku, sesungguhnya Allah SWT bersama kita," kata Rasulullah SAW kepada Abu Bakar.
Itulah rangkuman kisahnya kawan.

Tepati Nazar Selamat dari Musibah

Karena menepati nazarnya yang tidak akan memakan daging gajah, akhirnya Abu Abdillah Alqalanisi selamat dari tenggelamnya kapal yang ditumpanginya.
Ahli zikir ini selamat pula dari kelaparan karena ditolong oleh seekor gajah.

Kisahnya.
Dalam kitab Hilyatul Awliya' diceritakan bahwa pada suatu saat Abu Abdillah Alqalanisi dalam sebuah perjalanan ke negeri seberang. Tidak ada transportasi lain selain naik kapal. Akan tetapi pada malam harinya cuaca di tengah lautan tidak bersahabat. Angin kencang tiba-tiba saja datang bersamaan dengan ombak yang begitu besar menghantam kapal tersebut berkali-kali. Seluruh penumpang pun berdoa dengan khusyuk demi keselamatan mereka sambil mengucap nazar.

"Kamu semua sudah bernazar agar Allah SWT menyelamatkan kami. Maka hendaknya kamu juga bernazar kepada Allah," kata salah seorang penumpang kepada Abdillah.
"Aku ini orang yang tidak peduli dengan dunia, aku tidak perlu bernazar," jawab Abdilah singkat.


Kapal Tenggelam.
Penolakan Abdillah ini nampaknya diprotes oleh seluruh penumpang kapal. Mereka takut penolakan itu benar-benar akan mendatangkan bencana bagi mereka. Dengan berbagai alasan, akhirnya mereka memaksa Abdillah untuk bernazar.
"Baiklah, Demi Allah, sekiranya Allah SWT menyelamatkanku dari musibah yang menimpaku ini, maka aku tidak akan makan daging gajah," kata Abdilah sekenanya bernazar.

Semua penumpang kapal heran dengan nazar yang diucapkan oleh Abdillah, karena nazar tesebut sangat asing bagi mereka.
"Apakah boleh bernazar seperti itu? Apakah ada orang yang mau makan daging gajah?" tanya mereka.
"Itulah pilihanku, semoga Allah memberi ganjaran atas lisanku yang mengucapkan kata-kata itu," ucap Abdillah.

Tak lama kemudian, kapal yang mereka tumpangi pecah, tapi anehnya para penumpang semuanya selamat dan terdampar di sebuah pantai yang tanpa ada sesuatu pun yang bisa dimakan.
Ketika semua penumpang merasakan lapar yang amat sangat, tiba-tiba ada seekor anak gajah yang melintas. Mereka langsung menangkap anak gajah itu lalu disembelih. Dagingnya dipotong kecil-kecil lalu disantap beramai-ramai kecuali Abdillah.

Penumpang lainnya mengajukan alasan, bahwa Abdillah dalam keadaan terpaksa, sehingga diperbolehkan untuk membatalkan nazarnya. Namun Abdillah tetap menolak alasan mereka dan Abdillah bersikukuh untuk memenuhi sumpahnya. Setelah makan, para penumpang yang terdampar itu merasa kenyang lalu mereka dapat tidur dengan pulas.




Diselamatkan Gajah.
Pada saat mereka tidur, induk gajah datang mencari anaknya, ia berjalan mengikuti jejak anaknya sambil mengendus-endus. Hingga akhirnya ia menemukan potongan tulang anaknya. Induk gajah itu pun sampai di tempat Abdillah dan para penumpang kapal yang terdampar itu.
Satu orang demi satu orang dia ciumi, dan setiap kali ia mencium bau daging anaknya pada orang itu, maka orang itu diinjak dengan kakinya sampai mati. Akibatnya mereka semua mati dan hanya menyisakan Abdillah.

Tiba saatnya induk gajah mendekati Abdillah. Tetapi karena Abdillah tidak memakan daging gajah, tubuhnya tidak diinjak oleh induk gajah itu. Anehnya, induk gajah itu menggerakkan tubuh bagian belakangnya dan memberi isyarat, kemudian mengangkat ekor dan kakinya.

Dari gerakan tubuh gajah itu, Abdillah mengerti bahwa ia menghendaki dirinya untuk menungganginya. Lalu Abdillah pun naik, duduk di di atasnya. Kemudian gajah itu berlari kencang menuju sebuah perkebunan lalu menurunkannya. Kemudian gajah itu berlari menuju tengah hutan lagi.

Di pagi hari, Abdillah menyaksikan hamparan sawah, perkebunan dan sekelompok orang. Orang-orang tersebut lantas membawanya ke rumah kepala suku. Juru bicara suku itu memintanya untuk bercerita tentang yang dialaminya.
"Tahukah kamu, berapa jauh jarak perjalananmu dengan seekor gajah?" tanya kepala suku.
"Tidak tahu," jawab Abdillah.
"Sejauh perjalanan selama 8 hari, sementara gajah itu membawamu lari hanya dalam satu malam saja," jelas kepala suku.
Selanjutnya Abdillah diperkenankan tinggal bersama penduduk di desa tersebut sehingga ia mendapat pekerjaan. Setelah itu, ia pun pulang ke kampungnya.