Saturday, May 7, 2016

Kisah Nyata Keutamaan Shalawat Nabi

Ingin tahukah kisah nyata seperti apa yang membenarkan, true story kalau membaca shalawat memiliki faedah dan keutamaan yang tak seorang pun menyangkanya.

Kisahnya


ada suatu hari, Abu Laits Samarqandi sedang melakukan perjalanan bersama ayahnya. Dalam perjalanan tersebut, ternyata takdir Allah SWT menentukan lain.

Ayahnya jatuh sakit dan tak lama kemudian ayahnya akhirnya meninggal dunia. Lokasi meninggal ayahnya itu sangat jauh dari pemukiman penduduk.

Kini tinggallah Abu Laits seorang diri. Ia sangat sedih dan berharap muncul rombongan kafilah yang bisa ia mintai tolong untuk merawat jenazah ayahnya tersebut.

Kesedihan Abu Laits kian bertambah setelah dalam waktu yang sekejap saja, jenazah ayahnya di bagian wajah tiba-tiba saja menghitam.
"Astaghfirulloh...., ada apa dengan wajah ayahku?" Ya Allah...ampuni dosa dan kesalahan ayahku, "kata Laits dalam hati dengan penuh tanya.


Mimpi Rasulullah SAW


Sambil menunggu rombongan kafilah datang, Abu Laits yang kelelahan dan tak terasa tertidur di samping jenazah ayahnya. Dalam tidurnya tersebut, ia bermimpi didatangi oleh sosok pemuda yang tampan.

Abu Laits bertanya,
"Siapakah Saudara?"
"Aku adalah Muhammad bin Abdullah, "jawab pemuda itu yang ternyata adalah Rasulullah SAW.

Maka mengertilah Abu Laits, bahwa yang hadir dalam mimpinya tersebut adalah utusan Allah SWT. Hatinya merasa sangat gembira sekali.
"Ya Rasulullah SAW, apa yang terjadi dengan jenazah ayahku?" tanyanya.

"Aku datang karena hendak menziarahi jenazah ayahmu, dan izinkan aku untuk membuka kain di wajah ayahmu, "jawab Nabi SAW.

Setelah diizinkan, Rasulullah SAW kemudian berdoa kepada Allah SAW. Seketika itu juga, Abu Laits melihat jenazah pada bagian wajah ayahnya yang semula gelap menjadi putih bercahaya.

Karena penasaran, Abu Laits kemudian memberanikan diri untuk bertanya kepada Rasulullah SAW.

"Wahai Rasulullah SAW, apakah yang menyebabkan wajah ayahku menjadi hitam?" tanya Abu Laits.
"Ayahmu semasa hidup telah berbuat dosa dalam keadaan orang lain tidak mengetahuinya. Namun ketika malam hari, dimana orang lain telah tidur dengan lelapnya, dia bangun dan merintih kepada Allah SWT. Dia mengadu kepada Allah SWT akan hal dirinya yang sering berbuat dosa karena tak mampu melawan hawa nafsunya. Ayahmu juga senantiasa basah lidahnya dengan bershalawat untukku. Oleh sebab itu, pada hari kematiannya, Allah SWT memerintahkan aku untuk menziarahi mayatnya, "jelas Nabi SAW.

Keutamaan Shalawat


Rasulullah SAW bersabda,
"Orang yang senantiasa bertobat atas dosanya, maka seperti orang yang tiada dosa. Namun dalam keadaan bertobat, hendaklah tobat yang sebenar-benarnya dan hati yang tulus ikhlas."

Terdapat banyak kelebihan bershalawat. Di antaranya Rasulullah SAW pernah bersabda,
"Orang yang paling utama bagiku di hari kiamat adalah orang yang paling banyak bershalawat untukku. Barangsiapa yang membaca shalawat 100 kali untukku pada hari Jumat, kelak pada hari kiamat, dia datang dengan wajah yang bersinar-sinar. Sekiranya sinar itu dibagi-bagikan kepada semua makhluk, niscaya mencukupi."

Hebat sekali keutamaan membaca shalat ini. Mari membiasakan diri untuk rajin membaca shlawat setiap hari sekuatnya dan sebanyak-banyaknya.

Sunday, April 3, 2016

Sepotong Keju Penyebab Lupa

Ini kisah berdasarkan kitab dimana pada zama dahulu, ada seseorang yang bernama Abu Yazid Albustomi yang memang sejak kecil merupakan orang yang suka berbuat kebajikan. Beliau merupakan salah satu ulama sufi yang diakui akan ketinggian ilmu tasawufnya sehingga banyak yang berguru kepadanya.

Sejak kecil berbuat baik dan orangtuanya pun juga selalui menjaga diri untuk tidak makan kecuali dengan yang halal. Sejak dalam kandungan hingga disapi dari air susu ibunya, beliau tidak pernah berkenalan dengan barang yang subhat.

Namun ketika menginjak remaja, ia merasakan bahwa dirinya sudah mulai banyak lupanya. Terutama jika mendengarkan sesuatu hal yang mengandung kebenaran.

Dari situ, ia pergilah kepada ibunya untuk menanyakan sesuatu.

"Wahai ibu, apakah ibu ingat pernah memakan sesuatu yang haram atau subhat ketika mengandung atau menyusui aku? Karena jika aku mendengar kebaikan, aku mudah lupa," tanya Abu Yazid.


Ibu Meminta Maaaf


Akhirnya ibunya bercerita terus terang mengenai kejadian yang pernah dialaminya ketika mengandungnya dahulu.

"Anakku, pada suatu hari, ketika sedang mengandung atau menyusuimu, aku melihat sepotong keju tergeletak di tempat si fulan. Saat itu aku sedang mengidam dan benar-benar menginginkan keju itu. Lalu aku ambil secuil keju dan kumakan tanpa sepengetahuan pemiliknya," jelas ibunya.




Mendengar penjelasan ibunya, tanpa pikir panjang lagi, Abu Yazid langsung mengunjungi pemilik keju tersebut dan ia menceritakan tentang kekhilafan ibunya saat mengandung dirinya.

Kepada pemilik keju tersebut, Abu Yazid merengek untuk meminta maaf.





"Wahai Fulan, dahulu ketika mengandung, ibuku telah memakan secuil kejumu. Sekarang aku mohon agar engkau sudi memaafkannya atau tetapkan harga secuil keju tersebut dan aku akan membayarnya, "kata Abu Yazid.

"Ibumu telah aku maafkan dan apa yang telah ia mkan telah aku halalkan," kata pemilik keju tersebut.

Akhirnya di kemudian hari, Abu Yazid sudah tidak lupa lagi ketika mendengar suatu kebaikan.

Wednesday, March 9, 2016

Belum Lunasi Hutang, Jasad Dihimpit Bumi

Jangan pernah sekalipun meremehkan yang namanya hutang, karena hutang kalau belum terbayar, sampai mati pun masih tetap dianggap sedang berhutang.

Dikisahkan oleh Sayyid Ali, seorang ulama di zamannya. Beliau merupakan putra dari seorang ulama besar, seorang ahli fiqih yakni Al Amir Sayuid Hasan bin Al Amir Sayyid Muhammad.

Pada suatu hari, Saayid Ali yang tinggal di Iran, menimba ilmu, telah mendengar kabar berita duka. Ayahnya telah meninggal dunia sehingga ia meminta izin untuk mengurus jenazah ayahnya.


Tujuh bulan kemudian, giliran ibunya yang meninggal dunia dan di makamkan di daerah Najef, Irak.

Tak lama kemudian, Sayyid Ali bermimpi bertemu ayahnya. Dalam mimpimya, ia melihat seolah-olah sedang duduk di rumah dan ayahnya masuk sembari mengucapkan salam.

Sang ayahnya kemudin duduk din hadapannya sambil menyapanya dengan lemah lemubut.





Utang Tak Tercatat


Sayyid Ali sadar benar bahwa ayahnya sudah meninggal dunia. Ia pun bertanya kepada ayahnya,
"Ayah, bukankah ayah telah meninggal?"
Kemudian Syayyid Ali bertanya tentang keadaannya.

Ayahnya menjawab,
"Dahulu kuburku kesempitan, dan sekarang alhamdulillah dalam keadaan yang baik, kesempitan dan himpitan itu menghilang dariku."

Sayyid Ali heran dengan kejadian itu, dan dengan heran, ia bertanya lagi.
"Ayah dalam kesempitan?"
Ayahnya menjawab,
"Ya,arena Haji Ridha bin A'a Babasy Syahir menagihku, dan itu yang menyebabkan buruk keadaanku."

Sayyid Ali bertambah heran, lalu ia terbangun dari tidurnya dalam keadaan takut dan heran. Kemudian ia menginkan surat kepada saudara ayahnya tentang wasiat ayahnya dalam mimpi.

Dalam surat tersebut, Sayyid Ali bertanya apakah ayahnya dahulu memiliki hutang kepada orang tersebut atau tidak. Dan saudaranya menjawab dengan balasan surat juga.

Dalam surat balasannya, saudaranya mengatakan bahwa ia sudah memeriksa buku harian ayah, namun ia tak menemukan nama dari orang tersebut.

Sayyid Ali masih belum puas dengan jawaban saudaranya tersebut. Ia kemudian mengirim surat lagi untuk yang kedua kalinya yang isinya agar saudaranya menanykan langsung kepada orang yang bersangkutan.





Akhirnya di Ikhlaskan


Kemudian saudaranya membalas surat lagi.
"Setelah aku tanya kepada orang tersebut, ternyata memang benar ayah pernah berhutang kepadanya."
"Ya ayahmu pernah punya hutang kepadaku sebesar 18 tuman (mata uang Iran), dan tak ada yang mengethaui selain kami dan Allah SWT saja."

Setelah ayahmu wafat, aku pernah bertanya kepadamu, apakah namaku ada dalam daftar buku harian ayahmu, kamu menjawabnya tidak ada. Aku kecewa dan hatiku terasa sesak karena pernah meminjamkan uang tanpa ada bukti di secarik kertas dan aku yakin ia tidak mencatat namaku dalam buku hariannya.

Kemudian aku pulang dengan hati yang kecewa.

Kemudian saudaranya tersebut menceritakan kepada Haji Ridha tentang mimpi yang dialami oleh Sayyid Ali. Kemudian orang tersebut berkata,
"Karena berita ini dari saudaramu, sekarang hutangnya aku relakan dan aku ikhlaskan."

Waalahu A'lam...

Tuesday, February 2, 2016

Kisah Raja Zalim Mati Sebelum Bertobat

Kematian adalah rahasia Ilahi, jika sudah waktunya tiba, tak ada seorang pun yang dapat mencegahnya atau menundanya. Tak seorang pun bisa memajukan ataupun mengundurkan kematian sekalipun nabi dan rasul kecuali atas kehendak Allah SWT.

Banyak juga yang kelihatannya di pagi harinya sehat wal afiat bercenkerama dengan teman-temannya, namun ketika mmenjelang siang, nyawa sudah berpisah dari badannya.

Ada pula yang sedang beraktivitas, di tempat parkir, bekerja, di jalan, tidur maupun tengah shalat. Tak disangka malaikat maut datang dan mencabut nyawanya.

Hal ini seperti kisah di bawah ini.

Dahulu kala ada seorang raja yang zalim dan ia meninggal sebelum sempat melakukan tobat dari kesombongan dan kezalimannya. Bagaimana kisahnya.


Berikut Kisahnya


Dalam kitab Dzikir Al-Maut wa ma Ba'dahu, Ihya' Ulumuddin buah karya Imam Al Ghazali dikisahkan bahwa ada raja yang sombong dan hanya memandang orang lain dengan sebelah mata saja.

Pemimpin itu begitu zalim kepada rakyatnya hingga malaikat maut mencabut nyawanya.

Raja itu merasa hanya dirinyalah yang paling berkuasa dan tidak ingin ada orang lain yang duduk di singgasananya. Ia selalu bertendak semena-mena dan ia akan menghukum bagi siapa saja yang berusaha melawannya.

Raja itu benar-benar melupakan bahwa kalau dunia ini tidaklah abadi, termasuk dirinya dan kerajaannya. Harta benda serta kekuasaannya telah menutupi hatinya dari cahaya Ilahi.




Teguran Malaikat


Pada suatu ketika raja dikawal banyak sekali prajurit untuk mengunjungi daerah kekuasaannya. Dengan penuh kesombongan ia memulai perjalanannya dengan menunggangi kuda yang terbaik.

Tiba-tiba di tengah perjalanan pada malam hari, perjalanannya terhenti. Entah bagaimana mulanya, yang jelas, raja didatangi oleh seseorang dengan penampilan yang kusut dan kumal.

Orang tersebut mengucapkan salam kepda sang raja, namun sang raja tidak menjawabnya. Merasa terhina, orang tersebut kemudian merampas tali kekang kuda sang raja.

"Lepaskan ! Kamu telah melakukan kesalahan yang besar, "ujar raja dengan murka.
"Aku ada satu permintaan kepada Anda, "jawab orang itu.
"Sabarlah tunggu sampai kudaku berhenti dulu, "kata raja.
"Tidak, sekarang juga, "kata orang itu sambil memegang kekang kuda agar berhenti.
"Ayolah, katakan padaku apa keperluanmu, "kata raja.
"Ini rahasia, tak boleh seorang pun mendengarnya, "kata orang itu.

Maka sang raja mendekatkan kepalanya ke orang itu dan orang tersebut berkata,
"Aku adalah malaikat maut."




Permintaan Terakhir


Mendengar hal terrsebut, seketika wajah raja pucat pasi ketakutan. Lidahnya kelu tak dapat berbicara. Dengan gemetar raja berkata,
"Berilah aku tenggang waktu sampai aku kembali kepada keluargaku untuk mengucapkan selamat tinggal dan menyelesaikan semua urusanku,"

Sang Malaikat Maut itu berkata,
"Demi Allah, tidak bisa! Kamu sudah tidak sempat lagi melihat keluargamu, hartamu, dan kerajaanmu."

Setelah berkata demikian, malaikat maut langsung mencabut nyawa sang raja. Seketika itu juga sang raja jatuh tersungkur dari kudanya laksana seonggok kayu kering.

Sang raja telah meninggal dunia sebelum sempat bertobat. Ia mati dengan segala kesombongan dan kezaliman yang dilakukan terhadap rakyat-rakyatnya.