U-ON

Wednesday, January 28, 2015

Detik-Detik Terakhir Matinya Iblis

Kala kiamat tiba, iblis dan bala tentaranya akan menghadapi sakaratul maut dengan penuh siksaan. Pada saat itu, tak ada satu tempat pun bagi Iblis untuk bersembunyi dan Si Iblis akan menjerit dengan sekeras-keranya karena kesakitan dari mendapat siksaan dari Malaikat Maut.
Bagaimana kisahnya...

Berikut Kisahnya

Pada Kitab karya agung dari Imam Abdirrahim bin Ahmad Al-Qadhiy, ketika hari kiamat tiba, semua makhluk yang hidup akan mengalami mati, tak terkecuali Iblis Laknatullah dan bala tentaranya. Saat itulah Iblis mengalami saat-saat yang begitu menyakitkan kala Malaikat Maut mendatanginya dan mancabut nyawanya dengan sangat kasar sekali.

Di hari kiamat kelak, Malaikat Maut akan membentak kepada Iblis,
"Berhentilah kamu Iblis Laknatullah. Rasakanlah kepedihan kematian sebagaimana yang dirasakan oleh orang-orang yang engkau sesatkan dalam beberapa abad selama engkau hidup dan inilah hari yang ditentukan oleh Allah SWT terhadap kamu, maka kemanakah kamu hendak lari?"




Iblis begitu sangat ketakutan.
Ia mencoba berlari menghindari Malaikat Maut itu, akan tetapi kemanapun Iblis menghindar, Mlaikat Maut selalu saja menemukannya. Lebih ringan Cahaya daripada Api (antara bahan pembuatan malaikat dan iblis), sehingga malaikat selalu lebih cepat daripada kecepatan iblis.

Tak ada satu tempat pun untuk bersembunyi pada saat hari kiamat. Kemudian iblis mencoba berlari menuju makam Nabi Adam as dan berkata,
"Karena kamulah aku mendapat laknat."

Dalam sekejap, Malaikat Maut telah sampai terlebih dulu di hadapan iblis. Kemudian Iblis bertanya,
"Minuman dan siksaan apakah yang akan ditimpakan terhadapku?"
"Kamu akan diberi minum dari Neraka Ladha, siksa yang kamu terima seupa dengan siksa ahli neraka tapi berlipat ganda."




Jeritan Iblis

Mendengar hal itu, Iblis pun jatuh berguling-guling di atas tanah sambil menjerit sekuat-kuatnya. Kemudian ia berlari dari arah barat ke timur dan akhirnya sampai ke sebuah tempat dimana dia pertama kali diturunkan. Di tempat itu, iblis sudah dihadang oleh Malaikat Zabaniah dengan rantai di tangannya.

Tatkala bumi bagaikan bola api karena dikerumuni oleh Malaikat Zabaniah yang menikam dengan bebatuan dari neraka sehingga iblis meraakan siksa sakaratul maut yang amat sangat pedih.

Pada saat itu dipanggillah Nabi Adam as dan istrinya Siti Hawa agar melihat iblis yang sekarat.
Nabi Adam as berdoa,
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah menyempurnakan Nikmat-Mu kepada kami."

Iblis dan bala tentaranya memang telah meminta keringanan kepada Allah SWT agar ditangguhkan kematiannya. Kisah tentang bagaiman umur iblis bisa ditangguhkan sampai akhir kehidupan ini berawal dari keberadaan bangsa jin pada zaman dahulu. Insya Allah akan ditulis pada postingan selanjutnya.

Saturday, January 24, 2015

Iblis Pernah Beribadah Puluhan Ribu Tahun

Iblis dan bala tentaranya memang telah meminta keringanan kepada Allah SWTagar nanti matinya tidak diambil terlalu cepat oleh-Nya. Nah, kisah tentang bagaimana umur iblis ini bisa ditangguhkan sampai akhir kehidupan, berawal dari keberadaan bangs jin pada zaman dahulu kala.
Dulu, ketika manusia pertama belum diciptakan oleh Allah SWT, iblis telah hidup selama beribu-ribu tahun dengan sekelompok bangsa jin. Di antara bangsa jin itu ada yang sangat taat beribadah kepada Allah SWT selama 1000 tahun. Dia bernama IZZAZIL. Karena ketaatannya, akhirnya derajat Izzazil ini diangkat Allah SWT sampai ke langit kedua.

Di langit yang baru ini, dia juga masih taat beribadah hingga 1000 tahun lamanya. Allah SWT pun mengangkatnya ke langit ketiga, dan begitu seterusnya hingga langit ke tujuh.



Kecemburuan Izzazil

Ketika berada di langit ketujuh atau langit terakhir ini, Izzazil masih setia dan taat beribadah kepada Allah SWT. Namun perubahan mulai terjadi pada diri Izzazil, ketika Allah SWT menciptakan manusia pertama. Makhluk baru yang diciptakan Allah SWT yang diberi nama ADAM.




Masalahnya, Izzazil diperintahkan Allah SWT untuk sujug kepada Adam, tapi Izzazil menolaknya. Bahkan Izzazil juga tidak setuju sama sekali jika Adam akan dijadikan khalifah di muka bumi oleh Allah SWT.

Kalau semua bangsa jin (termasuk malaikat) taat terhadap perintah Allah SWT, lain halnya dengan Izzazil. Dia membantah perintah Allah SWT karena merasa dirinya lebih mulia dibandingkan dengan Adam. Ibadahnya sudah teruji di hadapan Allah SWT selama puluhan ribu tahun, sementara Adam hanya makhluk yang baru diciptakan.

Allah SWT berfirman,

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلائِكَةِ اسْجُدُوا لآدَمَ فَسَجَدُوا إِلا إِبْلِيسَ أَبَى وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

Artinya:
dan (ingatlah) ketika Kami berfirman kepada Para Malaikat: "Sujudlah[1] kamu kepada Adam," Maka sujudlah mereka kecuali Iblis; ia enggan dan takabur dan adalah ia Termasuk golongan orang-orang yang kafir."

Penjelasan ayat:
[1] Sujud di sini berarti menghormati dan memuliakan Adam, bukanlah berarti sujud memperhambakan diri, karena sujud memperhambakan diri itu hanyalah semata-mata kepada Allah.

Karena pembangkangan inilah kemudian Izzazil dikenal dalam Al Qur'an sebagai IBLIS. Sangat disayangkan Izzazil yang sudah beribadah selama puluhan ribu tahun, tak ada sama sekali arti ibadahnya, sirna amalnya karena membantah perintah Allah SWT yang sekali itu saja.

Sunday, January 18, 2015

Kedahsyatan Menyayangi Anak Kecil

Assalamu'alaikum sahabat Kisah Islamiah yang saya sayangi...

Selamat berlibur, daripada keluyuran ke mall yang belum tentu ada faedahnya, alangkah baiknya corat-coret di blog ini. Pada kesempatan ini, admin mengajak para pembaca agar menyayangi anak kecil, siapa tahu dari merekalah kita bisa dimasukkan ke dalam surga Allah SWT. Semoga keikan huruf demi huruf dari admin bisa memberikan hidayah kepada orang-orang yang mata hatinya sudah tertutup.

Sahabat, Agama Islam selalu mengajarkan kebaikan, diantaranya adalah dengan menyayangi anak kecil. Bahkan disebutkan bahwa kebahagiaan anak-anak kecil dapat menjadi kafarat bagi pelaku kemaksiatan dan dapat melebur segala dosa.

Kisahnya

Menyenangkan hati anak-anak kecil ternyata bisa menghapuskan dosa-dosa. Seperti yang terjadi pada sahabat Karim bin Yatim yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW.

Bersumber dari Kitab Agung buah karya Syeikh Nawawi Baten yang berjudul "Qam'uith Tughyan", dikisahkan bahwa Sayyidina Ali bin Abi Thalib ra pernah mengantarkan Karim bin Yatim menemui Rasulullah SAW. Rasulullah SAW menyambutnya dengan rasa gembira, akan tetapi setelah duduk dan belum bercerita, Karim tiba-tiba saja menangis sehingga membuat penasaran Baginda Nabi.

"Apa yang telah membuatmu menangis?" tanya Rasul.
Karim bin Yatim mengatakan bahwa ia telah melakukan maksiat dan meminta Nabi agar memohonkan ampunan kepada Allah SWT atas dosa-dosa yang telah dilakukan.

Pengakuan Dosa Karim

Sebelum permintaan itu dipenuhi, Rasulullah SAW pun bertanya kepada Karim,
"Maksiat apa yang telah engkau lakukan? "tanya Baginda Nabi.




Karim hanya terdiam dan tidak menjawab langsung pertanyaan Rasulullah SAW. Rupanya ia malu mengakui kemaksiatannya di hadapan Rasul.
"Saya malu mengungkapkan perbuatan maksiat tersebut, ya Rasulullah? "jawab Karim
Kemudian Rasulullah SAW mendesak,
"Kenapa harus malu menceritakan di depan saya tentang dosa-dosa yang telah kamu perbuat, sedangkan kepada Allah SWT yang selalu memantau tidak malu? "kata Nabi.

Karim masih terdiam.
Bahkan kali ini tangisannya makin menjadi. Air matanya membasahi kedua pipinya. Setelah itu, kemudian Rasulullah SAW meminta kepada Karim untuk segera pergi dari rumahnya.
"Pergilah, sebelum api neraka datang kesini karena ulah dosa-dosamu."

Teguran Malaikat

Akhirnya Karim pergi meninggalkan rumah Rasulullah SAW sambil menangis dengan perasaan sedih bercampur kecewa. Namun tak lama setelah itu, Malaikat Jibril datang menemui Rasulullah SAW.
"Ya Muhammad, janganlah membuat si tamu yang sudah melakukan maksiat itu menjadi merasa bersedih dan putus asa, karena sesungguhnya si tamu tadi sudah membayar kafarat (denda) atas dosa-dosanya yang besar,"ujar Malaikat Jibril.

"Apa kafaratnya, wahai Jibril? "tannya Rasul.
"Kafaratnya adalah anak kecil,"jawab Malaikat Jibril.

Nabi Muhammad SAW masih belum mengerti maksud perkataan Malaikat Jibril, dan meminta Jibril untuk menjelaskannya.



Hadits Nabi

Malaikat Jibril menjelaskan,
"Ketika tamu yang datang tadi akan tiba di rumahnya, tiba-tiba saja ad seorang anak kecil mencegatnya dan meminta sesuatu untuk dimakan. Akhirnya tamu itu memberikan makanan, lantas anak kecil itu pergi dengan perasaan senang dan bahagia. Itulah kafarat atas dosa-dosa si tamu."

Rasulullah SAW pun sekarang menjadi paham maksud perkataan Malaikat Jibril itu. Beruntunglah kita karena dengan adanya cerita dari Karim ini maka bertambahlah ilmu kita dalam kiat-kiat melebur dosa yang menggunung, yaitu dengan cara membahagiakan anak kecil.

Tentang berbuat baik terhadap anak-anak kecil, Islam mengajarkan kepada umatnya untuk menghormati kepada yang lebih tua dan menyayangi kepada yang lebih muda.

Rasulullah SAW bersabda,

لَيْسَ مِنَّا مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيرَنَا وَيُوَقِّرْ كَبِيرَنَا
"Bukan termasuk dari golongan kami, orang yang tidak menyayangi anak kecil dan menghormati orang tua."
(HR. Tirmizi).

Menyayangi anak kecil itu menurut Rasulullah SAW juga dapat melebur dosa-dosa, meskipun dosa itu adalah dosa besar.
Subhanallah.....

Wa'alaikum salam Warohmah...

Tuesday, January 13, 2015

Protes Ruh Ketika Jasad Dimandikan

Ketika ajal menjemput, tidak ada seorang pun yang mampu menghentikan. Dalam sebuah kitab karya Imam Abdirrahin bin Ahmad Al-Qadhiy, dijelaskan bagaiman sakitnya raga ketika ruh mulai dicabut. Hal ini diceritakan Rasulullah SAW kepada Aisyah ra.

Kisahnya

Dalam suatu hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah ra, diceritakan bahwa suatu hari ia tengah duduk di dalam rumah dan mengucapkan salam, Aisyah ra berinisiatif untuk berdiri dan menyambut kedatangan kekasih Allah tersebut.
"Duduklah pada tempatmu, tidak usah berdiri wahai Ummul Mukminin, "begitu ucap Rasulullah SAW.

Kemudian Rasulullah SAW ikut duduk dan meletakkan kepalanya pada pangkuan Aisyah. Tak berapa lama kemudian Rasulullah SAW pun tidur terlentang. Pada saat itu Aisyah ra mencari uban yang ada jenggot Rasulullah SAW dan melihat 19 helai rambut yang memutih. Maka Aisyah pun menangis sehingga air matanya jatuh menetesi wajah Rasulullah SAW hingga akhirnya beliaupun terbangun daru tidurnya.

Dialog Rasulullah SAW dan Aisyah ra

"Wahai ummul mukminin, apa yang membuatmu menangis?"tutur Rasulullah SAW.
Maka Aisyah ra menceritakan apa yang ia rasakan setelah melihat uban-uban Rasulullah SAW tersebut.




"Tahukah kamu, keadaan apakah yang paling menyusahkan bagi mayit? "kata Rasulullah SAW.
"Tidak ada keadaan yang paling menyusahkan atas diri mayit daripada saat keluar dari rumahnya, anak-anak yang ditinggalkan berada di belakangnya, serta menangisinya, "kata Aisyah ra.
"Itu memang pedih, tapi masih ada lagi yang lebuh pedih dari itu, "sahut Rasulullah SAW.
"Tidak ada keadaan yang lebih berat atas diri mayit daripada saat dia dimasukkan dalam liang lahat dan dikubur di bawah tanah, para kerabat, anak dan kekasihnya meninggalkannya pulang. Setelah itu datanglah Malaikat Munkar dan Nakir dalam kuburnya, "ujar Aisyah lagi.

Rasulullah SAW tersenyum mendengar penuturan itu. Setelah itu beliau menjelaskan kepada bahwa sesungguhnya saat yang paling berat bagi mayit adalah ketika datangnya "Tukang Memandikan Mayit." Mereka mengeluarkan cincin dari jari-jari orang yang mati tersebut, melepaskan pakaiannya kemusian memandikannya.

Ketika itu, ruhnya memanggil saat melihat jasadnya telanjang dengan suara yang dapat didengar oleh seluruh makhluk kecuali jin dan manusia.



Tubuh Terbakar

"Apa yang diserukan oleh ruh itu ya Rasulullah? "tanya Aisyah.
"Hai tukang memandikan, demi Allah aku memohon kepadamugar engkau mencopot pakaianku dengan pelan-pelan, karena sesungguhnya saat ini aku sedang istirahat dari sakitnya pencabutan nyawa dari Malaikat Maut, "begitu ungkap Rasulullah SAW.
"Lalu apa yang diserukan lagi oleh ruh? "tanya Aisyah ra lagi.

"Hai tukang memandikan, demi Allah jangan engkau tuangkan air panas, jangan engkau gunakan air panas dan jangan pula air dingin, sesungguhnya jasadku telah terbakar sebab dicabutnya nyawaku, "papar Rasulullah SAW.
"Lalu ketika dimandikan, apa yang diserukan oleh ruh itu? "tanya Aisyah ra sekali lagi.

Dan ketika dimandikan, ruh itu berkata,
"Demi Allah, hai tukang memandikan, janganlah engkau pegang diriku terlalu kuat, sesungguhnya jasadku masih terluka karena keluarnya nyawa, "tutur Rasulullah SAW.

Astaghfirullah....semoga yang membaca artikel ini diberi wafat dalam keadaan Khusnul Khatimah, diberi ketenangan jiwa sampai hari kiamat nanti. Amiiin...