Showing posts with label Kisah Karomah. Show all posts
Showing posts with label Kisah Karomah. Show all posts

Sunday, May 12, 2013

Cicit Rasulullah Mampu Sembuhkan Lumpuh

Assalamu'alaikum wr. wb.

Subhanallah...
Islam agama yang benar.
Itulah pengakuan dari keluarga Yahudi setelah anaknya sembuh dari kelumpuhan berkat air wudhu saja. Air wudhu yang tak sengaja dipungut dan dioleskan ke kaki si anak Yahudi, tiba-tiba saja kakinya bisa digunakan untuk berdiri, bahkan berlari.

Bekas air wudhu tersebut adalah bekas air wudhu Waliyullah Sayyidah Nafisah yang merupakan cicit dari Rasulullah SAW.
Beliau adalah seorang wanita teladan di antara muslimat-muslimat lainnya. Dengan ketakwaannya yang tinggi kepada Sang Pencipta, beliau dikenal sebagai salah satu waliyullah yang memiliki banyak karomah.

Dan salah satu karomahnya adalah bisa menyembuhkan sakit lumpuh dengan air wudhunya.
Subhanallah...



Kisahnya

Silsilah Sayyidah Nafisah adalah beliau putri dari Hasan Al Anwar bin Zaid Al Ablaj bin Imam Hasan Ali bin Abi Thalib. Beliau juga menyandang sebagai cicit dari Rasulullah SAW. Di balik derajat nasab yang agung itu, Sayyidah Nafisah rupanya memiliki tingkat ketakwaan yang tinggi dan senantiasa berzikir kepada Allah SWT.

Pada suatu ketika Sayyidah Nafisah datang ke Mesir untuk menetap dan tinggal di sana. Di Mesir, beliau tinggal berdekatan dengan keluarga Yahudi yang memiliki seorang anak gadis yang sedang sakit lumpuh. Meski berbeda keyakinan, namun Sayyidah Nafisah sangat menghormati tetangganya itu.
(Memang Islam sangat menghormati tentangga dan pemeluk agama lain).

Di hari yang cerah, si ibu gadis Yahudi hendak pergi untuk suatu keperluan. Ia merasa kebingungan karena tidak tahu kepada siapa anaknya yang lumpuh tadi dititipkan. Setelah berfikir sejenak, akhirnya sang ibu memutuskan untuk menitipkan anak gdisnya kepada Sayyidah Nafisah.




Berwudhu

Sayyidah Nafisah tak merasa keberatan sedikit pun dengan amanah sang ibu bahkan beliau menjaga amanah itu dengan sebaik-baiknya. Ketika datang waktu shalat, Sayyidah Nafisah langsung bergegas mengambil air wudhu. Namun, di tengah-tengah Sayyidah berwudhu, air basuhan yang terjatuh tanpa disadari mengalir ke tempat anak gadis Yahudi yang lumpuh itu.

Gadis Yahudi itu kemudian mengambil bekas air wudhu tersebut sedikit dengan tangannya. Kemudian ia membasuhkannya ke kedua kakinya yang lumpuh.

Subhanallah...
Atas izin Allah SWT, anak gadis tersebut tiba-tiba saja bisa langsung berdiri. Tak lama kemudian ia sudah sembuh total dari kelumpuhannya. Tentu saja hal ini membuat si anak gadis Yahudi sangat riang dan ia bermaksud hendak mengucapkan terima kasih kepada Ayyidah Nafisah. Tapi apa daya, niatnya tertunda karena Sayyidah Nafisah sedang asyik bertemu kepada Sang Pencipta lewat Shalatnya.

Selang tak berapa lama kemudian, ibu gadis tersebut ternyata sudah kembali.
Betapa kagetnya sang ibu karena ia disambut anak gadisnya dengan berlari-lari kecil. Seketika itulah sang ibu menyadari bahwa anak gadisnya sudah sembuh dari kelumpuhan.

Sang ibu dan anak saling berpelukan.
Sang ibu menanyakan apa penyebab kesembuhan lumpuhnya. Si anak gadis kemudian menceritakan semua yang telah dialaminya.

Begitu mendengar penuturan anaknya, sang ibu menangis sambil tersungkur ke tanah.
Sang ibu berkata,
"Tak diragukan alagi, agama Sayyidah Nafisah adalah agama yang mulia dan sungguh-sungguh agama yang benar."

Setelah mengucapkan yang demikian itu, di saat yang bersamaan, Sayyidah Nafisah sudah selesai shalat.
Sang ibu gadis Yahudi langsung saja mendekai Sayyidah Nafisah, memeluk dan menciuminya. Sang ibu juga ingin memeluk agama yang dipeluk Sayyidah Nafisah. Akhirnya, sang Ibu langsung mengucapkan syahadat dengan penuh ikhlas karena Allah SWT.

Subhanallah...

Satu Keluarga Yahudi Masuk Islam

Beberapa saat kemudian, ayah gadis Yahudi tersebut datang.
Laki-laki itu merupakan salah satu tokoh Yahudi dan dia pun sangat gembira ketika melihat anak gadisnya sudah tidak lumpuh lagi.

Kemudian dia bertanya kepada istrinya tentang sebab kesembuhan anaknya.
Sang istri pun menjawab dan menceritakan semuanya dengan rasa gembara tiada tara.

Setelah mendengar cerita istrinya, sang ayah kemudian mengangkat tangan ke langitdan berkata,
"Maha Suci Engkau yang memberikan petunjuk terhadap orang yang Engkau kehendaki. Demi Allah, agama Sayyidah Nafisah adalah agama yang benar."

Setelah mengucapkan demikian, sang ayah pun menucap dua kalimat syahadat sebagai tanda akan keislamannya.
Akhirnya seluruh keluarga masuk islam berkat karomah cicit Nabi Muhammad SAW.
Subhanallah...

Admin jadi ikutan nangis deh karena terharu.
Ada yang bisa kita jadikan pelajaran dari kisah ini, di antaranya adalah Islam sangat menghormati pemeluk agama lain dan tidak memaksakan agama terhadap orang lain.

Sunday, March 17, 2013

Asal Mula Pahala Ibadah 1000 Bulan Lailatul Qadar

Syam'un Al-Ghazi adalah seorang yang ahli ibadah, dimana selama 1000 bulan tak pernah lepas dari shalat malam dan siangnya selalu berpuasa. Namun pada suatu saat, ia justru dikhianati istrinya sendiri dan pada akhirnya istrinya mendapat balasan yang setimpal dari Allah SWT.

Kisah Asal Mula Pahala Ibadah 1000 Bulan Lailatul Qadar

Syam'un ini seorang muslim yang sangat disegani oleh kaum kafir Quraisy. Sudah tak terhitung lagi orang kafir yang mati di tangannya. Selain itu, Syam'un juga ahli ibadah dan tercatat ia sanggup beribadah selama 1000 bulan dengan shalat malan dan siangnya berpuasa.

Akan tetapi, apa yang terjadi...
Ternyata dibalik keistimewaannya itu justru Syam'un mempunyai istri yang kurang baikk. Akibatnya si istri tersebut diperdaya oleh kaum kafir Quraisy untuk membunuh suaminya sendiri. Pada awalnya sih si istri menolak dengan mentah-mentah ajakan kafir quraisy, namun karena ada iming-iming harta benda yang banyak, si istri akhirnya mau melakukan kejahatan itu.

Kafir Quraisy berkata,
"Kami akan memberimu seutas tali kuat, ikatlah tangan dan kakinya ketika dia tidur, nanti setelah itu kamilah yang bertindak untuk membunuhnya."

Pada hari pertama

Pada hari pertama, istri Syam'un gagal karena ketiduran yang disebabkan karena suaminya terlalu lama mengerjakan shalat malam. Lama waktunya itu sehingga membuat istri Syam'un tak kuasa menahan kantuk yang amat sangat. Memang Syam'un tidurnya hanya sedikit saja dalam semalam. Dimana malam-malamnya hanya dipergunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.
Keesokan harinya, istri Syam'un lapor kepada kaum kafir quraisy bahwa dia belm berhasil mengikat tangan dan kaki suaminya. Mereka tidak mempermasalahkan hal ini.

Pada hari kedua

Istri Syam'un berhasil mengikat suaminya ketika tidur dengan seutas tali yang kuat. Tatkala Syam'un bangun dan ingin beribadah kepada Allah SWT, ia terkejut karena kedua kakinya terikat.
"Wahai istriku, siapakah yang mengikatu dengan tali ini?" tanya Syam'un kepada istrinya.
"Aku yang mengikat, hanya sekedar mengujimu sampai sejauh mana kekuatanmu," ujar istrinya.



Kemudian Syam'un segera memotong tali tersebut lalu bergegas menuju tempat peribadatannya. Maka gagallah rencana pembunuhan pada hari kedua itu.
Namun, sestelah itu, musuh-musuh kafir datang lagi dengan membawa rantai dan istri Syam'um siap mengikat suaminya lagi pada keesokan malamnya.


Pada hari ketiga

Istri Syam'un di hari ketiga itu berhasil lagi mengikat suaminya dengan rantai yang diberikan oleh orang-orang kafir quraisy.
"Wahai istriku, siapakah yang mengikatku kali ini?" tanya Syam'un dengan nada agak marah ketika bangun dari tidur.
"Aku yang mengikatnya, sekedar untuk mengujimu," jawab istrinya.

Rahasia Kekuatan Syam'un

Lalu Syam'un segera menarik tangannya dan memotong rantai itu. Kemudian istrinya pun segera membujuk suaminya agar mau menceritakan rahasia kekuatan tubuh yang dimiliki suaminya. Akhirnya Syam'un bercerita juga, jika sebenarnya ia adalah seorang wali dari sekian banyak WALIYULLAH yang hidup di dunia ini.

"Wahai istriku, ketahuilah bahwa tidak ada seorang pun yang mempu mengalahkanku dalam perkara dunia kecuali rambutku ini," jelas Syam'un.
Syam'un memang memiliki rambut yang panjang dan konon panjangnya digambarkan bahwa ujung rambutnya akan menyentuh tanah saat Syam'un berdiri.

Karena sudah mengetahui kelemahan suaminya, akhirnya mulailah istrinya mengikat tangan Syam'un dengan 4 helai rambutnya dan mengikat pula kakinya dengan 4 helai rambut milik Syam'un, sementara ia tetap dalam tidurnya.
Setelah bangun, Syam'un bertanya,
"Wahai istriku, siapakah yang mengikatku ini?"
"Aku, untuk mengujinmu," jawab istrinya yang mulai keyakutan.

Setelah itu Syam'un berusaha dengan seganat tenaga untuk melepaskan ikatan itu, namun dai tidak berdaya untuk memotongnya.
Si istri langsung saja memberitahukan kepada kaum kafir quraisy tentang hal ini. Mereka datang dan membawa Syam'un ke tempat pembantaian. Ia diikat pada tiang, dan mulailah mereka menganiaya Syam'un.
Astaghfirullah...

Astaghfirullah sungguh biadab orang kafir quraisy.
Kedua telinga beliau ra dipotong-potong, selanjutnya juga mata dicukil, bibir, tangan dan kakinya.
Waliyullah yang satu ini tidak nampak kekesalan, bahwa wajahnya berseir-seri meski anggota tubuhnya dipotong-potong oleh orang-orang kafir quraisy.

Pertolongan Allah SWT Datang

Akhirnya pertolongan Allah SWT pun datang juga. Allah SWT memberi kekuatan kepada Syam'un yang kekuatannya tidak bisa dibayangkan dan melebihi kekuatan dari rambutnya sendiri. Syam'un hanya beringsut sedikit saja, putuslah tali rambut itu bahkan tiangnya juga ikut roboh dan hancur kecil-kecil.
Bukan itu saja, rumah yang dijadikan tempat pembantaian itu jug aturut hancur dan atapnya menimpa orang-orang kafir quraisy dan semuanya mati. Begitu juga dengan istrinya, juga ikut tertimpa reruntuhan atap rumah.




Begitulah sahabat, sekuat apapun seseorang, hanya Allah SWT sajalah yang tetap Terkuat sejagat raya.
Itulah Sahabat, kisah yang dikisahkan sendiri oleh Rasulullah SAW lewat sahabatnya kepada sahabat-sahabatnya.

"Ya Rasulullah...tahukah pahala yang telah dicapai oleh Syam'un?" tanya sahabat kepada Nabi Muhammad SAW.
"Tidak," jawab Rasulullah SAW.

Lalu Allah SWT menyuruh Malaikat Jibril kepada Nabi Muhammad dan menurunkan Surat Al Qadr.
"Hai Muhammad, Allah memberi Lailatul Qadar kepadamu dan umatmu, ibadah pada malam itu lebih utama daripada ibadah 1000 bulan," ujar Malaikat Jibril.

Surat Al-Qadr ayat 1-5:
Allah SWT berfirman,

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ١
وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ ٢
لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ ٣
تَنَزَّلُ الْمَلائِكَةُ وَالرُّوحُ فِيهَا بِإِذْنِ رَبِّهِمْ مِنْ كُلِّ أَمْرٍ ٤
سَلامٌ هِيَ حَتَّى مَطْلَعِ الْفَجْرِ ٥

Artinya:
1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan[a].
2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu?
3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.
4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.
5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.

Penjelasan ayat:
[a] Malam kemuliaan dikenal dalam bahasa Indonesia dengan malam Lailatul Qadr Yaitu suatu malam yang penuh kemuliaan, kebesaran, karena pada malam itu permulaan turunnya Al Quran.

Mendengar berita itu, Rasulullah SAW menyuruh sahabat-sahabatnya untuk berburu malam Lailatul Qadar agar mendapatkan pahala seperti yang Allah AWT berikan kepada Waliyullah Syam'un Al-Ghazi.
Subhanallah...

Monday, January 28, 2013

Menaklukkan Buaya Dengan Tangan Kosong

Assalamu'alaikum wr. wrb sahabat semua...

Sebuah karomah yang sangat luar biasa diberikan kepada Syekh Ibrahim Dasuqi yang terkenal sebagai ahli ibadah dari Mesir. Beliau mampu menaklukkan buaya hanya dengan tangan kosong.
Bagaiman kisahnya.

Buaya

Kisahnya.
Syekh Ibrahim Dasuqi sejak anak-anak sudah nampak kewalian pada dirinya. Ketika beliau kecil, sudha menjadi ahli ibadah hingga tumbuh menjadi orang yang saleh. Beliau juga memiliki kerajinan yang tinggi hingga mengalahkan teman-temannya serta mewarisi sifat terpuji dari kakeknya.



Budi pekertinya luhur, sopan dan santun, disiplin ilmu dengan belajar ke berbagai ulam yang berada di kampungnya. Menekuni ilmu agama, fiqih Syafi'i dipelajarinya serta ilmu tasawuf.

Membunuh Buaya Dengan Tangan Kosong.
Diantara karomah Imam Dasuqi ini adalah mampu menaklukkan buaya yang ganas dengan tangan kosong.
Dikisahkan oleh Imam Munawi bahwa pada suatu hari ada seekor buaya telah menelan seorang anak di sungai nil. Maka, si ibu datang kepada Syekh Imam Ibrahim Dasuqi dengan mengangis tersedusedu tiada henti.

Setelah ibu itu menceritakan kejadian yang sebenarnya, maka Syekh menyuruh muridnya untuk memanggil buaya yang memakan anak ibu tersebut.




Maka datanglah muridnya ke sungai nil dan berseru,
"Wahai sekalian buaya, siapa diantar kalian yang memakan seorang anak maka hendaklah muncul ke permukaan dan segera menghadap Syekh."

Muncullah si buaya yang memakan anak tersebut.
Kemudian buaya mengikuti murid Syekh untuk menemui Syekh Dasuqi.
Setibanya di tempat, Syekh menyuruh buaya itu untuk memuntahkan anak yang dimakannya. Ajaib, anak keluar dari mulut buaya dalam keadaan hidup.

Beberapa saat kemudian Syekh berkata,
"Matilah kamu dengan izin Allah SWT."
Tak lama kemudian, buaya itupun mati.

Syekh Ibrahim Dasuqi ini hidup hanya 43 tahun saja, namun mampu memberikan, mengisi kehidupan dengan hal-hal yang berguna untuk dirinya sendiri serta umat Islam.
Syekh Ibrahim wafat pada 676 H.

Monday, December 19, 2011

Seorang Sufi Mampu Menaklukkan Iblis

Kisah Islamiah sore menjelang malam ini tentang kisah KAROMAH.
Adalah Abu Sa'id Al Kharraz yang kesufiannya telah diakui oleh Rasulullah SAW dan 2 Malaikat.

Pernah pada suatu saat ia bermimpi bertemu dengan Iblis.
Saat itu iblis takluk kepadanya dan membuka dua cara rahasia dalam emngganggu manusia.


Kisahnya.
Abu Sa'id lahir di Baghdad dan pada awalnya ia hanya seorang tukang sepatu.
Akan tetapi pada akhirnya ia menimba ilmu kepada Dzun Nun Al Mishri dan bersahabat dengan Bisyr Al Hafi dan Sari As Saqathi.

Kesufian Abu Sa'id sangat terkenal saat itu.
Bahkan ia sempat diberi julukan sebagai "Lidah Sufirme" karena begitu cintanya kepada Allah SWT.
Selain itu, Abu Sa'id telah mengarang 400 buah buku.

Karena kemuliaan hatinya itu, Allah SWT memberikan karomah kepadanya, yang antara lain adalah mampu menaklukkan iblis meskipun itu terjadi hanya di dalam mimpi.
Dalam sebuha mimpi, ia bertemu dengan iblis. Abu Sa'id mengambil sebuah tongkat untuk memukulnya.

Pada saat itu juga terdengar oleh Sa'id sebuah seruan dari langit,
"Ia tidak takut kepada tongkat itu, yang ditakutinya adalah cahaya di dalam hatimu."

Rahasia Iblis.
Kemudian Abu Sa'id berkata kepada iblis,
"Kemarilah," seru Sa'id.
"Apalah dayaku terhdapmu? Aku tunduk kepadamu, engkau telah mencampakkan sesuatu yang dapat akau gunakan untuk menyesatkan manusia," ujar iblis.

"Apakah itu? Jelaskanlah kepadaku," tanya Abu Sa'id.
"Dunia," jawab Iblis.

Kemudian ketika meninggalkan Abu Sa'id, iblis tersebut menoleh ke belakang dan berkata,
"Ada suatu hal kecil di dalam diri manusia yang dapat kugunakan untuk mencapai tujuanku."
"Apakah itu?" tanya Abu Sa'id.
"Duduk bersama dengan para remaja," jawab iblis.

Itulah salah satu karomah yang terkenal dari Abu Sa'id selain mampu berdialog dengan Rasulullah SAW dan Malaikat di dalam mimpinya.

Sunday, December 18, 2011

Kesaktian KH Asnawi

Kisah Islamiah pada sore ini tentang lanjutan KH Asnawi.
Dimana KH Asnawi memiliki banyak karomah hingga membuat gentar para penjajah Belanda.

Beikut Kisahnya.
KH Asnawi semapat ditahan oleh pemerintah Belanda karena dianggap sebagai penggerak kerusuhan.
KH Asnawi selain dikenal menguasai berbagai ilmu agama, beliau juga memiliki kesaktian dan pendirian yang teguh.

Prinsip-prinsip hidupnya snagat keras dan watak perjauangannya terkenal galak. Pada waktu itu, bangsa Indonesia sedang dirundung nestapa penjajahan Belanda dan Jepang. Ketegasan dalam memperjuangkan Islam membua KH Asnawi di penjara beberapa tahun.



Ketika di penjara itulah Kyai Asnawi banyak menmghabiskan waktu untuk mengajar ilmu agama dan membaca shalawat kepada para penghuni penjara.

Konon, petugas penjkara tidak sanggup menjaga Ktai Asnawi karena setiap saat Kyai Asnawi membaca shalawat. Ruangannya dibanjiri rakyat yang ingin belajar agama, hingga para penjaga penjara menyerah dan akhirnya KH Asnawi dibebaskan.


Membuat Musuh Lari Ketakutan.
Karomah lain yang dimiliki KH Asnawi adalah sanggup membuat musuh-musuhnya lari ketakutan dari jarak jauh.
hal itu dibuktikan ketika KH Asnawi hendak ditangkap oelh penjajah untuk ketiga kalinya. Para penjajah kabur karena takut sebelum menagkap KH Asnawi. Bahkan Kyai Asnawi sering masuk penjara namun selalu berakhir bebas.




Kepiawaian KH Asnawi dalam berdakwah membuat masyarakat terkagum dan para penjajah menjadi takut. maklum, waktu itu banyak santri yang melindungi dan menemani KH Asnawi di penjara.

KH Asnawi meruapakan salah seorang ulama yang mengharamkan produk kolonial Belanda.
Kehidupan KH Asnawi dihabiskan untuk menegakkan islam dengan penuh perjuangan, kerelaan dan keteguhan jiwa.

Pada tahun 1956, ketika dijajah oleh Jepang dan Belanda, KH Asnawi senantiasa berjuang membela Indonesia dengan bergabung bersama Masyumi dan NU.
Beliau memiliki karakter dan akhlak mulia dalam berjuang sehingga tak heran jika dia disebut sebagai ulama yang santun dan ikhlas.

Thursday, December 1, 2011

Pemalas Tobat berkat Sepucuk Surat

Kisah islamiah pada dini hari ini tentang kisah tobat.
Suatu saat, Imam Abu Hanifah mendengar suara rintihan seorang pria. Karena merasa iba, Abu Hanifah berniat membantu, namun ternyata yang ia bantu adalah pria pemalas.
Akhirnya ia mengiriminya sepucuk surat agar pria tersebut tidak lagi malas.
Kisahnya.
Di sebuah desa di tanah Arab, ada salah satu keluarga yang hidupnya serba kekurangan. Kepala keluarga ini sebut saja namanya Abbad.
Ia mempunyai seorang istri dan 2 anak yang masih kecil. Abbad di desanya terkenal sebagai orang yang malas bekerja. Untuk menyambung hidup, tidak jarang istrinya diperintahkan untuk mencari uang.

Pada suatu hari, Imam Abu Hanifah sedang berjalan-jalan untuk melakukan perjalanan jauh sambil berdakwah.
Ketika sampai di depan rumah Abbad, Imam Abu Hanifah mendengar suara orang yang mengeluh dan menangis tersedu-sedu. Dan kebetulan kala itu Abbad sedang mengadu dengan suara agak keras.

"Alangkah malangnya nasibku ini, agaknya tiada seorang pun yang lebih malang dari nasibku ini. Sejak dari pagi aku dan keluargaku belum makan, sehingga seluruh badanku menjadi lemah. Mudah-mudahan saja ada orang yang mendengar rintihanku dan memberi sedekah," keluh Abbad.

Imam Abu Hanifah pun tersentuh dengan rinihan itu. Ia memutuskan pulang kembali ke rumah.
Abu Hanifah mengambil uang, maknan serta selembar surat lantas membungkusnya dengan kertas. Bungkusan itu hendak diberikan kepada Abbad.
Setelah sampai di rumah orang fakir miskin itu, Abu Hanifah langsung melemparkan bungkusan yang dibawanya.
"Mudah-mudahan dengan bantuan ini, dia sudah tidak menderita lagi," ujar Abu Hanifah dengan suara pelan.

Sepucuk Surat.
Setelah dekat dengan jendela rumah Abbad, bungkusan dilempar, kemudian Abu Hanifah meneruskan perjalanan.
Mendapat bungkusan secara tiba-tiba itu, tentu saja membuat Abbad terkejut. Setelah dibuka, ternyata bungkusan itu berisi uang, makanan serta secarik kertas.
Kertas itu bertuliskan,
"Wahai manusia, seungguh tidak wajar kamu mengeluh sedemikian itu. Kamu tidak perlu mengelukan nasibmu. Inghatlah kepada kemurahan Allah, dan cobalah bermohon kepada-Nya dengan bersungguh-sungguh. Jangan suka berputus asa, wahai kawan, tetapi berusahalah terus."

Beberapa hari kemudian, Imam Abu Hanifah ingin meneruskan perjalanan lagi sambil berdakwah. Untuk itulah dia ingin berjalan melewati rumah Abbad.
Abu Hanifah berfikir, siapa tahu setelah diberi tulkisan itu Abbad akan sadar. Akan tetapi harapan Imam Abu Hanifah ternyata gagal, karena ia masih mendengar suara keluhan itu lagi dari dalam rumah Abbad.

"Astaghfirullah...orang ini ternyata tidak mau sadar juga dengan tulisan yang saya berikan," tutur Abu Hanifah dalam hati.
Imam Abu Hanifah berhenti lagi, lalu mendengar suara rintahan lagi dari Abbad,
"Ya Allah, ya Tuhan Yanga Maha Belas Kasih dan Pemurah, sudilah kiranya memberikan bungkusan lain seperti kemarin, sekedar untuk menyenangkan hidupku yang melarat ini. Sungguh jika Allah tidak memberi akan lebih sengsaralah hidupku."

Mendengar keluhan itu lagi, Imam Abu Hanifah tidak melanjutkan perjalanan. Ia kembali pulang ke rumahnya kemudian ia membuat bungkusan seperti yang pertama, ada uang, makanan dan surat untuk diberikan kepada Abbad.
Setelah dekat dengan jendela rumah Abbad, Imam Abu Hanifah melempar bungkusan lagi, kemudian Abu Hanifah melanjutkan perjalanannya.

Mulai Mencari Pekerjaan.
Mendapat bungkusan lagi, Abbad senang bukan kepalang. Lantas bungkusan itu dibukanya dan seperti yang pertama, tetap ada secarik kertas. Surat itu dibacanya,
"Wahai kawan, bukan begitu caramu memohon. Bukan demikian cara berikhtiar dan berusaha, perbuatan demikian namanya malas. Putus asa kepada kebenaran dan kekuasaan Allah.
Sungguh Allah tidak ridha melihat orang yang pemalas dan putus asa, tidak mau bekerja untuk keselamatan dirinya."

Abbad berhenti sejenak membaca surat itu sambil merenungi isi suratnya.
Kemudian ia membacanya lagi.
"Kawan, jangan berbuat demikian.Hendaknya kamu bekerja yang halal meski gajinya sedikit. Dan bekerjalah dengan suka rela dan berusahalah jangan berdiam diri di rumah.
Rezeki Allah tidak bisa datang dengan sendirinya, tapi harus dicari. Orang hidup tidak disuruh untuk duduk diam saja, tetapi harus bekerja dan berusaha. Allah tidak akan memperkenankan permohonan orang yang malas bekerja."

Abbad berhenti lagi sejenak dan berfikir tentang isi surat itu. Ia mengambil nafas lalu meneruskan membaca surat itu.
"Allah tidak akan mengabulkan doa orang yang berputus asa. Oleh sebab itu, carilah pekerjaan yang halal untuk kesenagan dirimu. Berikhtiarlah dengan segera. Insya Allah, akan dapat juga pekerjaan itu selama kamu tidak berputus as. Carilah segera pekerjaan, saya doakan semoga lekas berjaya."

Setelah membaca surat itu, Abbad termenung, sesaat kemudian dia insyaf dan sadar akan perbuatannya selama ini.
Pada keesokan harinya dia pun keluar rumah untuk mencari pekerjaan.

Sejak dari hari itu, sikapnya pun berubah total, dia mengikuti sunnah Allah dan ia tidak pernah melupakan nasehat dari surat yang ia baca.
Tak berapa lama kemudian ia sudah mendapat pekerjaan meski gajinya hanya sedikit. Ia mulai giat bekerja untuk menghidupi keluarganya.

Kisah ini juga merupakan salah satu karomah yang sangat luar bias yang dimiliki oleh Imam Abu Hanifah.
Bagaimana tidak, beliau memberi nasehat hanya dengan secarik kertas, beliau tidak bertatap muka dengan Abbad, namun orang yang diberi nasehat akhirnya mengikuti dan akhirnya dia menjalankan sunnah Allah untuk tidak malas dan tidak berputus asa.
Bagaimana mungkin itu bisa terjadi, hanya Allah SWT sajalah Yang Maha Tahu.

Thursday, November 24, 2011

Bayi Mati Hidup Lagi

Kisah islamiah sore ini tentang kisah seorang bayi yang mati, kemudian bisa hidup lagi.
Sungguh Allah SWT Maha Besar.
Seorang bayi yang bernama Samaa Zohir, hidup lagi setelah dibekukan oleh tim dokter.

Tanda-tanda kekuasaan Allah SWT baru-baru ini telah nampak di depan mata dimana seorang bayi yang menderita kelainan jantung harus dibekukan hingga tak ada tanda-tanda kehidupan lagi. Anehnya, setelah 20 menit berselang, bayi itu hidup lagi dan penyakit jantungnya telah teratasi dengan cara operasi.


Kisahnya.
Pada pertengahan bulan Oktober yang lalu, tim medis di London, Inggris berhasil menyelamatkan seorang bayi yang menderita kelainan jantung. Anehnya, dalam proses medis itu dilakukan dengan cara membekukan si bayi hingga detak jantung bayi itu berhenti serta aliran darah juga berhenti.

Bayi yang bernama Samaa Zohir tersebut dilahirkan dengan kelainan jantung. Pembuluh darh yang seharusnya membawa darah beroksigen dari paru-paru ke bagian kiri jantung, justru masuk ke jantung kanan.

Tanpa dioperasi, Samaa tak berumur panjang. Mau dioperasi juga sangat riskan, karena umur Salmaa baru saja sebulan. Jantungnya baru seukuran bola golf. Tim Medis di Rumah Sakit Great Ormond Street, London, Inggris berusaha dengan keras demi keberhasilan teknik medis yang tidak biasa tersebut.

Bayi Dibekukan.
Sebagai langkah awal, tim medis membungkus kepala Samaa dengan kantong es batu, lalu menurunkan suhu darah dari 37 derajat celcius menjadi 18 derajat cecius dengan menggunakan alat bypass jantung apru-paru.

Setelah suhu Samaa turun, dokter menyuntikkan cairan kimia untuk menghentikan kerja jantungnya, kemudian mematikan mesin bypass itu. Secara klinis, Samaa sudah mati dan darah sama sekali tidak mengalir dalam tubuhnya.

Tim dokter hanya memiliki waktu sekitar 50 menit saja dalam menjalankan teknik ini, kalau lebih dari itu, Samaa akan mengalami kerusakan otak dan organ tubuh. Dalam waktu 23 menit, tim dokter berhasil memindahkan pembuluh darah Samaa. Setelah itu, Samaa dihidupkan kembali dengan cara memompakan darah segar untuk menormalkan suhu darah menjadi 37 derajat celcius.

Teknik seperti ini dikembangkan dari kasus orang yang jatuh ke air es dan bertahan hidup selama 1 jam. Para pakar meyakini, suhu dingin melindungi otak dan organ vital.

Kehendak Allah SWT.
Akan dibutuhkan waktu sekitar 5 bulan agar Samaa bisa sembuh seperti sedia kala. Ibunya Samaa, Roosina Ahmed sangat terharu dengan selamatnya Samaa.

Pada awalnya, ibunya sangat takut mendengar paparan tim dokter tentang operasi anaknya itu. Namun, orang tua Samaa menyadari bahwa sangat penting buat Samaa untuk dioperasi agar bisa sembuh.

Kesembuhan bayi tersebut benar-benar merupakan kekuasaan Allah SWT.
Allah SWT berkuasa terhadap semua makhluknya. Jika Allah SWT menghendaki, tidak ada yang mustahil bagi-Nya.
Subhanalla..

Misteri 2 Jenazah Sunan Bonang

Kisah Islamiah pada sore ini tentang kisah walisanga. Punggawa Walisanga yang satu ini begitu banyak memiliki karomah sehingga membuat banyak warga Jawa yang tertarik dan mengikuti ajaran beliau.

Kisahnya.
Sunan Bonang sering berdakwah keliling hingga usia lanjut. Beliau meninggal dunia pada saat berdakwah di Pulau Bawean.
Berita meninggalnya Sunan Bonang ini segera tersebar ke seluruh tanah jawa. Para murid berdatangan dari segala penjuru untuk berduka cita dan memberikan penghormatan terakhir.


Pemberian Kain Kafan.
Murid-murid Sunan Bonang yang berada di Pulau Bawean hendak memakamkan jenazah beliau di Pulau Bawean, akan tetapi murid-murid yang berasal dari daerah Madura dan Surabaya menginginkan jenazah beliau dimakamkan di dekat ayahandanya, yaitu Sunan Ampel di Surabaya.

Dalam hal memberikan kain kafanpun mereka tak mau kalah begitu saja. Jenazah yang sudah dibungkus kain kafan milik orang Bawean masih ditambah lagi dengan kain kafan dari Surabaya.

Pada malam harinya, orang-orang Madura dan Surabaya menggunakan ilmu sirep untuk membuat ngantuk orang-orang Bawean dan Tuban. Lalu mengangkat jenazah Sunan Bonang ke dalam kapal dan hendak dibawa ke Surabaya. Karena tindakan mereka tergesa-gesa, kain kafan jenazah itu tertinggal satu.

Kapal Tak Bisa Bergerak di Tuban..
Kapal layarpun segera bergerak ke arah Surabaya. Akan tetapi ketika berada di perairan Tuban, tiba-tiba saja kapal yang digunakan untuk mengangkut jenazah Sunan Bonang tidak bisa bergerak, sehingga terpaksa jenazah Sunan Bonang dimakamkam di Tuban yaitu di sebelah barat Masjid Jami Tuban.

Sementara itu, kain kafan yang tertinggal di Pulau Bawean ternyata juga ada jenazahnya. Orang-orang Bawean pun menguburkannya dengan penuh khidmat.

Dengan demikian, ada 2 jenazah Sunan Bonang.
Inilah Karomah yang diberikan Allah SWT kepada Sunan Bonang.
Subhanallah..

Sunan Bonang wafat pada tahun 1525.
Makam yang dianggap asli adalah yang berada di kota Tuban sehingga sampai sekarang pun makam itu banyak diziarahi orang dari segala penjuru tanah air.
Sungguh karomah yang sangat luar biasa. Jenazah diperebutkan orang banyak, makam pun banyak peziarahnya.

Meski sudah meninggal, namun jasa beliau tetap akan terkenang insya Alloh sepanjang zaman

Tuesday, November 22, 2011

Tundukkan Singa dengan Tatapan Mata

Kisah islamiah pada sore ini tentang kisah karomah.
Adalah Abu Said Abul Khair yang dikenal sebagai seorang sufi yang sangat menjaga situasi hatinya agar tidak terbersit maksud buruk.
Karena kemuliaan hatinya itu, Abul Khair mendapatkan beberapa karomah dan salah satunya adalah mampu menundukkan singa padang pasir yang buas hanya dengan tatapan mata saja.


Kisahnya.
Suatu ketika, ada seorang sufi yang masih muda datang dengan maksud ingin berguru kepada Abu Said Abul Khair, seorang tokoh sufi yang terkenal karena karomahnya dan gemar mengajar tasawuf di pengajian-pengajian. Rumah guru sufi itu terletak di tengah-tengah padang pasir.
Ketika sufi muda itu tiba di rumahnya, Abul Khair sedang memimpin pengajian.

Pada waktu Abul Khair membaca Surat Al Fatehah, dan tiba pada ayat terakhir yang berbunyi,
"Ghairil Manghdubi 'Alaihim Wa Ladh Dhallin."
Saat itulah sufi muda ini agak kurang puas dengan makhraj bacaan Al Qur'an Abul Khair, yang dinilainya kurang fasih.

"Bagaimana mungkin ia seorang sufi terkenal, makhraj bacaan Al Fatehahnya saja tidak bagus, bagaimana mungkin aku bisa menjadi muridnya?" guman sufi muda itu yang berniat mengurungkan niatnya untuk berguru kepada Abul Khair.

Dikepung Singa Padang Pasir.
Setelah itu, sufi muda itu berniat keluar dari majelis dan pergi tanpa permisi. Namun, begitu sufi muda itu keluar, ia langsung dihadang oleh seekor singa padang pasir yang buas. Singa itu mengaum dengan kerasnya seperti hendak memangsa sufi muda tersebut.

Karena ketakutan, sufi muda itu memilih untuk mudur. Akan tetapi di belakangnya juga ada seekor singa padang pasir lain yang menghalanginya.

Sufi muda itu seperti terjebak di tengah-tengah tanpa bisa berbuat sesuatu. Akhirnya, sufi muda itu menjerit keras karena ketakutan.

Begitu mendengar teriakan dari luar, Abul Khair segera turun keluar meninggalkan majelisnya. Ia menatap kedua ekor singa padang pasir yang buas itu dengan tatapan yang tajam.
Sesaat kemudian, Abul Khair menegur singa-singa itu,
"Wahai singa, bukankah sudah aku bilang padamu jangan pernah kalian mengganggu para tamuku."

Sungguh ajaib, kedua singa yang semula terlihat buas itu lalu duduk bersimpuh di hadapan Abul Khair. Sang sufi Abul Khair lalu mengelus-elus telinga kedua singa itu dan menyuruhnya pergi.
Setelah kedua hewan buas itu benar-benar pergi, sufi muda itu merasa keheranan.

"Bagaimana Anda dapat menaklukkan singa-singa yang begitu liar itu?" tanya sufi muda.
"Anak muda, selama ini aku sibuk memperhatikan urusan hatiku. Bertahun-tahun aku berusaha menata hati hingga aku tidak sempat berprasangka buruk kepada orang lain. Untuk kesibukanku menaklukkan hatiku ini, Allah SWT telah menaklukkan seluruh alam semesta kepadaku. Semua binatang buas di sini termasuk singa padang pasir yang buas itu, semua tunduk kepadaku," jelas Abul Khair.

Menata Hati.
Sufi muda itu hanya terdiam dengan penuh rasa malu.
Namun, di sisi lain ia begitu mengagumi karomah yang dimiliki oleh Abul Khair.

"Engkau tahu kekuranganmu, wahai anak muda?" kata Abul Khair.
"Tidak wahai guru," jawab sufi muda itu.
"Selama ini engkau sibuk memperhatikan hal-hal lahiriah hingga nyaris lupa memperhatikan hatimu, karena itu engkau takut kepada semuruh alam semesta," jelas Abul Khair.

Sufi muda itu akhirnya mengurngkan niatnya untuk pergi. Dia menetapkan hatinya untuk menjadi murid dari Abul Khair.
Ia bersyukur bisa menjadi murid Abul Khair yang senantiasa mengajarinya tentang pentingnya menjaga hati agar selalu berprasangka baik.

Sunday, July 24, 2011

Menaklukkan Perampok Dengan Ayat Al Qur'an

Adalah Syeikh Al Asrna'i r.a, seorang tokoh sufi terkenal setelah wafatnya Rasulullah SAW yang memiliki banyak karomah. Salah satu karomahnya adalah kefasihannya dalam membaca Al Qur'an sehingga ia dapat menaklukkan perampok yang sedang mengancam jiwanya.

Kisahnya.
Pada suatu hari Syeikh Al Asrna'i sedang menuju kota Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Namun sebelum menuju ke Baitullah, ia singgah ke Madinah untuk berziarah ke makam Rasulullah SAW.

Di tengah perjalanan, ia dihadang oleh seorang perampok dari suku Arab Badui, di tangannya ada sebilah pedang dan pada bahunya tergantung busur panah lengkap dengan anak panahnya. Orang badui itu mendekati Syeikh Al Asrna'i dan bermaksud merampas segala apa yang dimilikinya.

Bertemu Perampok
Dengan penuh perasaan takut dan bimbang, Syeikh Al Asrna'i segera mengucapkan salam kepada perampok itu, tapi herannya, sang perampok justru membalas salam tersebut.
"Dari manakah engkau ini?" tanya si perampok.
"Saya dari tempat yang jauh dan ingin pergi ke Baitullah serta berziarah kepada Rasulullah," jawab Syeikh.
"Mana barang-barangmu?" tanya orang badui itu lagi.
"Saya adalah seorang fakir dan tidak memiliki harta yang berharga apapun," jawab Syeikh.
"Apakah pekerjaanmu?" tanya perampok lagi.
"Aku adalah guru mengaji Al Qur'an bagi anak-anak di kampung," ucap Syeikh.
"Apakah Al Qur'an itu?" tanya si perampok yang rupanya dia tidak tahu tentang Al Qur'an sama sekali.
"Al Qur'an adalah firman Allah SWT," tegas Syeikh.
"Kalau begitu, bacakan kepadaku diantara firman-Nya," pinta si perampok.

Syeikh Al Asrna'i r.a pun lantas membaca sebuah ayat Al Qur'an surat Adz Dzariyat ayat 22,

وَفِي السَّمَاءِ رِزْقُكُمْ وَمَا تُوعَدُونَ
Artinya:
"dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu".

Tanpa disangka-sangka, perampok itu membuang pedang dan busurnya panahnya. Dia tampak seperti orang yang ketakutan sekali, lalu berkata,
"Oh...celakanya hidup sebagai perampok yang merampas hak orang lain," katanya dengan bersungguh-sungguh.
Orang badui itu terlihat sangat menyesali segala perbuatannya yang dahulu dan berjanji akan meninggalkan segala perbuatan yang ganas itu.

Syeikh Al Asrna'i r.a pun gembira sekali mendengar pernyataan dan janji orang badui itu. Ia kembali kepada Islam dengan ketulusan hati dan meminta agar dirinya mengajarinya untuk shalat serta melakukan ibadah-ibadah lain. Dan dengan senang hati Syeik Al Asrna'i menerima permintaan orang badui itu.

Pertemuan Kedua
Pada tahun berikutnya pada saat Syeikh Al Asrna'i bertawaf mengelilingi Ka'bah, ia melihat seorang lelaki tua yang mengcapkan salam. Ia membalas salamnya dan mencoba mengingat-ingat siapa gerangan orang tersebut.
"Saya dulu si perampok yang pernah bertemu Anda beberapa tahun yang lalu," kata orang tersebut.
Syeikh Al Asrna'i pun langsung ingat. Ia tertegun dengan kesalehan mantan perampok itu.
"Tuan, tolonglah bacakan kepadaku suatu firman Allah yang lain," pinta orang tersebut kepada Syeikh.
"Syeikh AL Asrna'i memenuhi permintaannya dengan membacakan firman Allah surat Adz-Dzariyat ayat 23,

فَوَرَبِّ السَّمَاءِ وَالأرْضِ إِنَّهُ لَحَقٌّ مِثْلَ مَا أَنَّكُمْ تَنْطِقُونَ
 Artinya:
"Maka demi Tuhan langit dan bumi, Sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti Perkataan yang kamu ucapkan."


Syeikh Al Asrna'i melihat orang badui itu mendengarkannya dengan khusyuk, lalu dia jatuh pingsan. Tidak lama setelah itu, ternyata mantan perampok itu telah pulang ke Rahmatullah.
"Alangkah bahagianya orang ini, kehidupannya yang begitu panjang berlumuran dengan dosa diakhiri Tuhan dengan kesalehan. Demikianlah Allah memberikan petunjuk kepad hamba yang dikehendaki-Nya," ucap Syeikh Al Asrna'i r.a.

Friday, July 22, 2011

Kisah Mualaf Kebal Api

Dzu'aib bin Kilab ini dianggap memiliki karomah. Ketika ia dilemparkan ke bara api, tubuhnya tetap sehat dan bugar. Karomah itu diberikan Allah karena ia rela disiksa demi mempertahankan keimanan.
Jadi ingat Kisah Nabi Ibrahim ya.
Subhanallah..


Inilah Kisahnya.
Subhanallah..., ketika iman sudah melekat di dada, siksaan fisik pun tiada artinya. Itulah yang dirasakan Dzu'aib bin Kilab. Padahal sebelumnya ia sama sekali tidak mengenal islam, akan tetapi ketika ia mendengar tentang islam dan aneka cerita tentang sosok dan pribadi dan akhlah Rasulullah SAW, ia akhirnya rela masuk Islam. Anak laki-laki dari Kilab bin Rabi'ah Al-Khaulani ini menjadi penduduk Yaman pertama yang masuk Islam.

Rela Disiksa.
Tapi apa yang terjadi, kepindahannya ke Islam malah menimbulkan masalah besar. Seorang yang bernama Aswad Al Ansi, seorang ilmuwan yang menobatkan diri sebagai pengganti Rasulullah yang khusus menguasai Shan'a, ibukota Yaman.
Berbagai upaya dilakukan Aswad Al Ansi untuk mengembalikan Dzu'aib bin Khilab kepada keyakinannya semula.




Tapi dengan ketulusan hati, Dzu'aib tidak mau mengakui Aswad, ia yakin dia adalah nabi palsu. Tapi penolakannya ibu berbuah kecaman dan ancaman, hingga ia pun dipanggil menghadap Aswad.
"Kenapa engkau tidak mempercayaiku, aku juga nabimu," tegur Aswad.
"Aku tidak melihat tanda-tanda kenabian (akhlak yang mulia) pada dirimu," jawab Dzu'aib dengan lantang.
Mendapat jawaban itu, Aswad begitu marah dan berteriak dengan keras,
"Hai Dzu'aib, apakah kamu sadar apa yang kamu katakan tadi?"

Subhanallah..
Diluar dugaan, Dzu'aib ini tetap tegar dengan pendiriannya.
"Tidak ada yang perlu aku takuti, aku tetap beriman kepada Allah dan Muhammad adalah Rasul-Nya," jawab Dzu'aib dengan bangga.
Suasana seketika menjadi tegang, Aswad pun mengancam akan membunuh Dzu'aib.
"Apakah engkau tidak takut jika tubuhmu kami lempar ke bara api itu?" ucap Aswad menggertak.
Tapi dengan keberanian yang luar biasa, Dzu'aib justru tersenyum seraya berseru,
"Aku minta izin, aku mau berdoa dulu kepada Allah SWT."

Dialog tawar menawar akidah itu pun berakhir buntu. Dzu'aib tetap bersikeras bahwa Aswad adalah bukanlah nabi melainkan pendusta alias nabi palsu.


Dilempar ke Bara Api.
Akhirnya Aswad menyuruh beberapa prajuritnya untuk melempar Dzu'aib ke dalam bara api yang disebutnya sebagai neraka. Rupanya Aswad sudah menyiapkannya untuk Dzu'aib. Dengan kepasrahan yang sangat tinggi, Dzu'aib akhirnya menjalani hukuman dengan dimasukkan ke dalam api.

Tapi aneh, begitu ia dilempar, semua mata terbelalak, seperti layaknya menyaksikan kisah Nabi Ibrahim a.s yang kebal api. Tubuh Dzu'aib tidak terbakar, seolah dingin di tengah kobaran api, tubuhnya tak terbakar sedikitpun.
Subhanallah..

Kisah ini diceritakan oleh Ibnu Wahab dari Ibnu Lahi'ah dalam kitab Al Shahabat.

Sunday, June 19, 2011

Sembuh dari Buta Berkat Wudhu

Kisah Islamiah kali ini akan menceritakan tentang sesuatu yang pertama kali dimuat di blog ini, yaitu tentang kisah dari beberapa orang sufi, wali Allah, yang memiliki banyak karomah.

Dan kali ini akan bercerita tentang kisahnya seorang ulama sufi dan wali Allah yang bernama Imam Junaid Al- Baghdadi. Beliau ini bisa sembuh dari kebutaan setelah berwudhu.


BERIKUT KISAHNYA...
Selain dikenal sebagai ulama sufi, Imam Junaid Al Baghdadi termasuk orang pertama yang menyusun dan membahas tentang ilmu tasawuf dengan ijtihadnya. Banyak kitab-kitab yang menerangkan tentang ilmu tasawuf berdasarkan kepada ijtihad Imam Junaid Al-Baghdadi.

Pada mulanya Imam Junaid merupakan seorang ahli perniagaan yang sukses. Ia memiliki sebuah gedung perniagaan di kota Bgahdad yang ramai pelanggannya. Sebagi seorang guru sufi, ia tidak disibukkan dengan mengurus perniagaan itu, seperti peniaga lain yang yang kaya raya di Baghdad.

Ia lebih mengutamakan menghabiskan waktunya untuk mengisi pengajian bagi para muridnya. Setiap malam Imam Junaid berada di masjid besar Baghdad untuk menyampaikan tausiyah. Penduduk Baghdad banyak yang berdatangan ke masjid untuk mendengar tausiyahnya sehingga masjid penuh sesak.

RIDHA KEPADA ALLAH SWT.
Imam Junaid hidup dalam keadaan zuhud. Ia ridha dan bersyukur kepada Allah SWT dengan segala nikmat yang dikaruniakan kepadanya. Termasuk kala ia mendapatkan cobaan berupa kebutaan di kedua matanya.

Pada suatu hari Imam Junaid Al-Bgahdadi mengalami sakit pada kedua matanya. Setelah sekian lama mencoba pengobatan, bertemulah ia pada seorang tabib yang beragama Nasrani.
"Sakit mata ini bisa sembuh, asal tidak sampai terkena air, jadi jangan dulu membasuh matamu dengan air," pesan tabib itu.

Mendapat penjelasan itu, Imam Junaid mengambil kesimpulan bahwa sang tabib tengah berupaya mencegahnya untuk beribadah kepada Allah SWT.
"Jika mataku tak terkena air, maka bagaimana aku bisa berwudhu untuk menghadap Rabb-ku," katanya dalam hati.

Akhirnya, Imam Junaid pulang ke rumah, dan dia langsung menuju tempat air dan berwudhu dengan sempurna. Kemudian ia menjalankan shalat sunnah dua rakaat lalu membaringkan tubuhnya di tempat tidur untu beristirahat.


SEMBUH DARI BUTA.
Subhanallah...ketika terbangun, matanya telah sembuh seperti sedia kala. Saat itu juga ada suara yang membisikkan kepada Imam Junaid.
"Imam Junaid sembuh karena memilih ridha Allah dibandingkan dengan matanya sendiri," ujar suara gaib itu.

Keesokan harinya, tabib Nasrani mendengar kabar kesembuhan kebutaan mata Imam Junaid. Dia pun menanyakan kepada Imam Junaid perihal kesembuhannya. Akan tetapi sang tabib terkejut setengah mati, karena obat sakit mata Imam Junaid bukannya menghindari air seperti yang dia sarankan, tapi justru berwudhu yang artinya membasuh wajah beserta mata dengan air.

Karena takjub dengan hal itu, sang tabib pun menyatakan keimanannya, berpindah dari agama Nasrani ke agama Islam.
"Penyakit ini dari Allah, bukan dari makhluk, maka obatnya pun dari-Nya," kata Imam Junaid kepada tabib Nasrani itu.

Categories