Sunday, June 19, 2011

Rasulullah Bisa Menghilang

Kisah Islamiah selalu hadir mengisi ruang hati setiap pembaca blog kisah islami teladan ini. Dan kali ada kisah yang menarik lain untuk disimak, dimana Nabi kita, Rasulullah SAW tiba-tiba saja menghilang saat hendak dibunuh oleh orang Quraisy.

Rasulullah SAW senantiasa dilindungi oleh Allah SWT melalu banyak mukjizat dan salah satunya Beliau bisa menghilang lenyap dari pandangan.


BERIKUT KISAHNYA...
Memasuki tahun ke sembilan hijriyah, keagungan agama Islam telah terdengar ke seluruh pelosok negeri. Rentetan kemenangan dalam setiap peperangan membuat kaum muslimin begitu disegani saat itu.
Oleh karena itu, tahun ke 9 Hijriyah itu sering disebut sebagai "Tahun Utusan" atau "Amul Wufud".

Keadaan yang berada di puncak telah membuat para pemimpin negara tetangga ramai mengirimkan utusannya untuk mendengarkan ajaran yang diajarkan Nabi Muhammad SAW. Namun demikian diantara mereka ada yang berniat jahat dengan bermaksud membunuh Rasulullah SAW.
Salah satunya adalah Amir bin Thufail yang bersekongkol bersama temannya yang bernama Ibad bin Qays.




SIASAT BURUK AMIR dan IBAD.
Amir bin Thufail ini merupakan utusan dari Bani Amir yang telah lama tidak suka dengan ajaran Rasulullah SAW. Rencana busuk tersebut dilaksanakan keduanya dalam sebuah majelis yang dipimpin oleh Rasulullah SAW. Kala itu Nabi Muhammad SAW tengah membicarakan ajaran Islam yang RAHMATAN LIL ALAMIN.

Pada saat yang telah ditentukan, Amir memberi sebuah kode kepada Ibad untuk merampungkan misinya. Ibad pun mulai bergerak memutar menuju ke bagian belakang Rasulullah SAW.

Ketika berada tepat di belakang Rasulullah SAW, Ibad mengeluarkan pedang tajam dari sarung pedangnya dan siap membacokkan ke tubuh Rasulullah SAW. Namun seketika itu juga Ibad hanya diam tercengang.
Ia nampak bingung dengan pandangan mata yang penuh ketidakpercayaan.

Beberapa detik sebelumnya, ia melihat tubuh Rasulullah SAW, namun di detik-detik berikutnya tubuh Rasulullah SAW itu pun menghilang. Di sudut lain, Amir juga bingung dengan sikap Ibad yang tak kunjung menghunuskan pedangnya.
Maka gagallah rencana busuk itu. Ketika mereka berada di luar majelis, Amir memarahi Ibad.

"Hai Ibad, mengapa engkau tidak membunuhnya hai penakut," kata Amir berang.
"Hai Amir, bukannya aku takut seperti apa yang kau tuduhkan, bukankah selama ini engkau mengakui keberanianku?" kata Ibad yang tak mau disebut penakut.

"Lalu mengapa engkau tak jadi membunuh Muhammad," ucap Amir dengan kesal.
"Hai Amir, sesungguhnya aku telah mengalami keajaiban yang jelas, setiap kali aku akan mengayunkan pedangku, tidak terlihat orang lain kecuali kamu di depanku, aku tidak melihat Muhammad," jelas Ibad.


RASULULLAH BISA MENGHILANG.
Amir semakin marah dengan alasan Ibad yang tidak masuk akal itu, karena dari sudut lain tadi, Amir dapat melihat dengan jelas bahwa Rasulullah SAW masih berada di tempatnya dan tidak beranjak sedikitpun.
"Hai Ibad, Muhammad itu tepat berada di depanmu," sergah Amir dengan kesal.
"Benar, Muhammad di depanku, namun setiap hendak kuayunkan pedangku, yang terlihat hanya kamu," tanda Ibad.

"Engkau telah dibutakan oleh Muhammad, padahal ia berada di depanmu," kata Amir lagi.
"Hai Amir, ketahuilah bahwa daripada pedangku akan mengenai tubuhmu, maka aku urungkan niatku untuk membunuh Muhammad," jawab Ibad yang terlihat syok dengan pengalaman itu.

Begitulah cara Allah SWT dalam menjaga utusan-Nya, Rasulullah SAW.
Sebagai balasan atas rencana jahat keduanya, Nabi Muhammad SAW meminta kepada Allah SWT agar melaknat keduanya.
Allah SWT pun akhirnya mengabulkan permintaan Nabi Muhammad SAW, Amir meninggal dunia tak lama kemudian setelah terkena suatu penyakit, sedangkan Ibad akhirnya juga mati setelah tersambar petir.

Jadi Saudara Setan dengan 50 Dinar

Kisah Islamiah kali ini akan menceritakan tentang kisah saudara kembarnya setan yang berupa manusia, dimana saudaranya setan itu ada yang mau bertobat dan ada yang malah makin menjadi zalimnya.

Saudaranya setan adalah, pemabuk, pezina, penjudi, anak yang durhaka kepada orang tuanya, dan orang yang pelit yang akan dikisahkan dalam cerita ini.
Namun diantara semua saudara setan yang disebutkan di atas, hanya si pelit lah yang tidak mau bertobat kepada Allah SWT.

BERIKUT KISAHNYA.
Pada zaman dahulu ada seorang laki-laki yang sudah lama menikah, namun belum dikarunia anak, sebut saja namanya Fulan. Entah putus asa atau karena nekat atau jengkel, si Fulan suatu hari bernazar,
"Seandainya aku dikarunia anak oleh Allah, aku akan bersedekah kepada saudara-saudaranya setan masing-masing 50 dinar."

Wallahu A'lam, apakah karena nazarnya atau memang sudah menjadi kehendak Allah SWT, tak lama kemudian istrinya hamil dan melahirkan seorang putra. Betapa gembiranya si Fulan dan istrinya mendapatkan karunia tersebut.

SETAN INGATKAN NAZARNYA
Pada suatu malam, Fulan bermimpi bertemu dengan setan di dalam tidurnya, setan berkata,
"Wahai Fulan, jangan lupakan nazarmu untuk bersedekah kepada saudara-saudaraku."
"Siapakah saudara-saudaramu?" tanya Fulan.
"Carilah pezina, pemabuk, penjudi, anak yang durhaka kepada orang tuanya dan orang yang pelit serta serakah, mereka itulah saudara-saudaraku," jawab setan.

Setelah terbangun dari tidurnya, tanpa pikir panjang ia langsung mengambil uangnya dan melangkah mencari saudara-saudara setan yang disebutkan dalam mimpi itu. Awalnya si Fulan mencari saudara setan di kampungnya, namun dia tidak menemukan seorang pun.
Akhirnya ia berjalan menuju desa sebelah.

Orang pertama yang dijumpai adalah seorang pezina.
Ketika disodorkan uang sebanyak 50 dinar, pezina heran dan bertanya,
"Dalam rangka apa engkau memberiku uang ini?".
Si Fulan kemudian menceritakan mimpi yang dia alami.
Mendengar cerita mimpi itu, sang pezina langsung saja bersujud dan menangis serta bertobat kepada Allah SWT.
Sang pezina tidak mau kalau dirinya dikatakan saudarnya setan, dan uangnya ditolak mentah-mentah.

Si Fulan berjalan lagi mencari saudaranya setan, dan orang kedua yang ditemui adalah sang pemabuk. Langsung saja si Fulan menyodorkan uang 50 dinar kepada pemabuk itu. Sang pemabuk bertanya,
"Kenapa engkau meberiku uang sebanyak ini, padahal aku adalah pemabuk yang suka menhambur-hamburkan uang untuk membeli minuman keras?"
Si Fulan menjawab,
"Justru itulah aku memberimu uang 50 dinar ini agar kamu bisa membeli minuman keras."
Lalu si Fulan menceritakan mimpinya.

Uang 50 Dinar
Mendengar penuturan si Fulan, pemabuk itu pun jatuh tersungkur, langsung sujud mohon ampun kepada Allah SWT, istighfar diucapkannya berulang kali dan si pemabuk tak mau menjadi saudara kembarnya setan sedikitpun. Dan ia pun tidak mau menerima uang itu.

Penolakan yang sama juga dialami oleh penjudi dan anak yang durhaka kepada orang tuanya.
Dengan langkah lemas si Fulan mencari satu lagi orang yang dianggap saudaranya setan ini. Lama dia mencari dan akhirnya bertemulah dia dengan si pelit bakhil. Tak menunggu lama, si Fulan langsung menuju rumah si pelit ini.
Dalam hati, si Fulan terbersit rasa kekhawatiran, si pelit juga pasti akan menolak pemberian 50 dinar yang dibawanya.


"Assalamu'alaikum...," ucap si Fulan.
"Ada keperluan apa?" jawab si pelit.
"Aku ingin memberimu uang 50 dinar," kata si Fulan dari dalam rumahnya.

Begitu mendengar kata uang, si pelit langsung saja membuka pintu rumahnya dan segera menyambar kantong uang yang ada di tangan si Fulan.
"Mengapa engkau memberiku uang sebanyak ini, apa kau pernah punya hutang kepadaku?" tanya si pelit.

Lalu si Fulan menceritakan nazar serta mimpi yang dialaminya, dan tak lupa dia ceritakan juga pertemuannya dengan pezina, pemabuk, penjudi dan anak yang durhaka kepada orang tuanya.

Mendengar kisah yang disampaikan si Fulan, Si Pelit ini langsung saja memegang tangan si Fulan sambil berkata,
"Kalau mereka tidak mau menerima uangnya, berikan saja kepadaku," bisik si pelit.

Dengan mata terbelalak, si Fulan yang bernazar itu menyerahkan uangnya dan beranjak pergi dari rumah si pelit seraya berkata,
"ENGKAU BENAR-BENAR SAUDARA KEMBARNYA SETAN."

Saturday, June 18, 2011

Dialog Rasulullah Dengan Gunung

Tidak hanya mampu berdialog dengan binatang saja mukjizat yang dimiliki oleh Rasulullah SAW, namun juga mampu berdialog dengan gunung, yang merupakan ciptaan Allah yang tidak bernyawa.
Ketika membutuhkan air, Beliau perintahkan gunung itu menuruti perintah Rasulullah SAW.
Kali ini Kisah Islamiah blog akan menceritakannya.


Berikut ini Kisahnya.

Rasulullah SAW adalah sosok yang selalu dekat dengan umatnya, terbukti dengan seringnya Beliau melakukan perjalanan dari satu tempat ke tempat lainnya, dari satu desa ke desa lainnya agar lebih mengenal umatnya.
Dalam perjalanan yang dilakukan kali ini, Rasulullah SAW mengajak salah satu sahabatnya yang bernama Uqa'il bin Abi Thalib untuk menemani.

Di perjalanan, ada seorang nenek yang tergeletak lemah di jalanan, wajahnya yang tua renta semakin terlihat menyedihkan akibat pucat dan lemas kondisi tubuhnya.
"Apa yang terjadi dengan engkau Wahai Ibu?" tanya Rasulullah SAW.

Nenek yang kondisinya lemah itu pun menjawab,
"Ak...akkkuuuu laaa...paar.."
Mendengar jawaban itu, Rasulullah yang pada saat itu membawa bekal secukupnya, langsung memberikan bekalnya, hingga habislah bekal Rasulullah SAW kala itu.




Meskipun tanpa bekal sedikit pun, Rasulullah SAW dan Uqa'il tetap melanjutkan perjalanan. Setelah perjalanan panjang ditempuh dengan melewati gurun yang panas dan kering, kondisi Rasulullah SAW dan Uqa'il menjadi melemah karena banyak sekali tenaga yang terkuras untuk melewati hamparan pasir dan panasnya yang membuat dahaga semakin hebat.

KEHAUSAN.
Sesampainya di daerah pegunungan, Rasulullah SAW merasa sangat haus dikarenakan jauhnya perjalanan melewati gurun. Lalu Beliau menyuruh Uqa'il untuk mencari minuman dan buah untuk megisi perut.
Uqa'il pun menuruti perintah Nabi, ditelusurinya gunung untuk mencari sumber air dan pepohonan untuk diambil buahnya, namun Uqa'il tidak mendapati sumber air dan hanya buah-buahan saja yang ia dapat.

"Ya Rasul, aku tidak mendapati air di gunung ini, padahal aku sudah mengelilinginya, namun belum aku temukan juga," ujar Uqa'il.

Mendengar penuturan sahabatnya itu, Rasululullah SAW bersabda,
"Hai Uqa'il, dakilah gunung itu dan sampaikanlah salamku kepadanya serta katakan 'Jika padamu ada air, berilah aku minum'," tutur Rasulullah.

Mendengar jawaban Rasulullah yang tidak masuk akal itu, membuat Uqa'il kebingungan dan tidak mengerti.
namun Uqa'il tetap pergi melaksanakan perintah sembari bertanya-tanya dalam hati,
"Apakah Rasul bersungguh-sungguh dengan ucapannya, apa yang harus aku lakukan, menyampaikan salamnya ataukah hanya diam dan balik ke Beliau lagi," ujar Uqa'il dalam hati.

Walaupun pikirannya penuh dengan keheranan, Uqa'il tetap mendaki gunung. Di tengah pendakian, Uqail mendengar suara asing, dan berkata,
"Uqa'il, pergilah mendaki gunung, patuhilah perintah Beliau," perintah suara yang asing itu yang tak lain adalah Malaikat Jibril.
Uqa'il akhirnya sampai pada puncak gunung lalu menyampaikan salam Rasulullah SAW kepada gunung perihal air yang dibutuhkan dia dan Rasulullah.
Setelah menyampaikan salam, Uqa'il pun kembali menuju tempat Rasulullah SAW.

RASUL MEMERINTAH GUNUNG.
Sesampainya di dekat Rasulullah SAW, betapa kagetnya Uqa'il ketuka melihat Rasulullah berbicaradengan gunung.
"Wahai tauladanku Muhammad, maafkan aku dikarenakan menghambat perjalanan engkau dengan tidak menyediakan air ketika engkau datang.
Aku takut engkau tidak memaafkanku, jika itu terjadi pasti aku merasakan panasnya api neraka," ungkap gunung itu.




Mendengar suara yang berasal dari gunung, membuat Uqa'il semakin bingung dan sekaligus takjub kepada Rasulullah, dikarenakan salah satu ciptaan Allah yang tidak bernyawa itu dapat berbicara dengan Beliau.
"Aku akan memaafkan kamu, tapi bolehkah aku minta sedikit air untuk membasahi tenggorokanku," tutur Rasulullah.

"Dakilah gunung ini hingga sampai puncaknya, setelah sampai, berjalanlah berbelok menuju tempat yang dipenuhi dengan bebatuan besar yang melingkar, di tengahnya terdapat sumber air dan buah-buahan untuk bekal engkau, Wahai Rasulullah," jelas gunung itu kepada Rasul.

Uqa'il berserta Rasulullah SAW akhirnya mendaki gunung itu kembali dan Beliau berjalan sesuai dengan perintah gunung. Sesampainya di tempat yang dijelaskan gunung tersebut, Uqa'il sangat terkejut karena ketika mengelilingi gunung itu tadi, Uqa'il tidak mendapati tempat seindah itu yang terdapat sumber air sangat jernih dan banyaknya pohon yang berbuah segar dan nikmat.

Iblis Takut Dengan Orang Yang Tidur

Kisah Islamiah hadir lagi, kali ini akan mencoba menceritakan tentang kisah pengakuan dari Iblis mengenai ibadah shalat.

Jika disuruh memilih, ternyata Iblis lebih menyukai ibadah shalat yang dilakukan orang mukmin yang bodoh daripada mengganggu tidurnya orang yang alim dan berilmu.
Pengakuan Iblis itu disampaikan kepada Rasulullah SAW.

Berikut Kisahnya...
Pada suatu hari, ketika Rasulullah SAW hendak memasuki masjid, Beliau melihat iblis sedang berada di pintu masjid. Iblis itu tampak gusar dan ragu antara masuk masjid dan tidak.

Maka Rasulullah SAW pun bertanya,
"Wahai Iblis, apa yang sedang kamu lakukan di sini?" tanya Rasulullah SAW.
"Aku hendak masuk masjid dan merusak shalatnya orang itu. Tetapi aku merasa takut terhadap orang yang sedang tidur di situ," kata iblis sambil menunjuk orang yang sedang tertidur di masjid.




Rasulullah SAW bertanya lagi,
"Wahai Iblis, mengapa engkau takut terhadap orang yang sedang tidur dan tidak takut kepada orang yang sdeang shalat dan bermunajat kepada Allah?"


PENGAKUAN IBLIS.
Iblis tak dapat menyembunyikan rahasia di hadapan Rasulullah SAW, ia pun dengan gamblang menguraikan alasannya.

"Ya Rasulullah, orang yang sedang shalat tersebut adalah orang yang bodoh, ia tidak tahu syarat hukumnya shalat, tuma'ninah, dan tidak bisa shalat dengan khusyuk.
Sedangkan orang yang sedang tidur itu adalah orang yang alim, maka jika aku merusak shalatnya orang bodoh itu, aku khawatir, dia akan membangunkan orang yang sedang tidur itu dan kemudian mengajari dan membetulkan shalatnya orang yang bodoh tadi," jelas Iblis ketakutan.

Oleh karena itu Rasulullah SAW pernah bersabda,
"Tidurnya orang alim itu lebih baik daripada ibadahnya orang yang bodoh."

Dalam kesempatan lain, Rasulullah SAW juga bersabda,
"Orang tersebut telah dikencingi setan di kedua telinganya."
Hal ini disampaikan oleh Rasulullah SAW dan ditujukan bagi orang yang tidur semalam suntuk tanpa mengingat untuk shalat di malam harinya.