Tuesday, July 12, 2011

Asiyah Rela Mati Demi Iman

Meskipun bersuamikan Fir'aun, Asiyah binti Muzahim tak terpengaruh dengan tabiat buruk suaminya yang mengaku sebagai Tuhan. Ia justru beriman kepada Allah SWT dan rela mati di tangan suaminya sendiri demi keyakinannya itu.
عسيه
Cuplikan Kisahnya.
Kisah keimanan Asiyah binti Muzahim ini diabadikan dalam Al Qur'an, Allah SWT berfirman,

وَضَرَبَ اللَّهُ مَثَلا لِلَّذِينَ آمَنُوا اِمْرَأَةَ فِرْعَوْنَ إِذْ قَالَتْ رَبِّ ابْنِ لِي عِنْدَكَ بَيْتًا فِي الْجَنَّةِ وَنَجِّنِي مِنْ فِرْعَوْنَ وَعَمَلِهِ وَنَجِّنِي مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِينَ

Artinya:
"Dan Allah membuat isteri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zhalim."
(QS. At-Tahrim: 11).

Asiyah binti Muzahim termasuk sedikit diantara manusia yang namanya terukir dalam Al Qur'an. Tidak hanya itu, ia pun juga termasuk satu diantara empat wanita terbaik di alam semesta, sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
"Sebaik-baik wanita di semesta alam ada empat, yaitu Asiyah istri Fir'aun, Maryam binti Imran, Khadijah binti Khuwailid dan Fatimah binti Muhammad."
(HR. Bukhari dan Tirmidzi).

Bayi Musa.
Peristiwa mengenai perjuangan Asiyah binti Muzahim yang menemukan bayi Musa di sungai. Atas persetujuan Fir'aun, lantas Musa diangkat sebagai anak angkat di kerajaan itu. Asiyah sendiri pada waktu itu belum dikarunia seorang anak pun sehingga besar keinginan untuk mengadopsi Musa. Padahal kala itu Fir'aun telah memutuskan percaya anjuran para ahli nujum istananya untuk membunuh semua bayi yang terlahir berjenis kelamin laki-laki. Konon menurut ahli nujum, kekuasaan Fir'aun akan jatuh oleh seorang laki-laki yang lahir di zaman itu.

وَقَالَتِ امْرَأَةُ فِرْعَوْنَ قُرَّةُ عَيْنٍ لِي وَلَكَ لا تَقْتُلُوهُ عَسَى أَنْ يَنْفَعَنَا أَوْ نَتَّخِذَهُ وَلَدًا وَهُمْ لا يَشْعُرُونَ (٩)

Artinya:
dan berkatalah isteri Fir'aun: "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak", sedang mereka tiada menyadari.
(QS. Al Qashas: 9).

Bujukan Asiyah untuk menggagalkan pembunuhan bayi Musa itu pun membawa hasil. Fir'aun mengabulkan permintaan istrinya. Sejak saat itu hiduplah bayi Musa dalam lingkungan istana Fir'aun dan dibawah asuhan Asiyah binti Muzahim.
Asiyah memang belum dikarunia putra, sehingga kehadiran Musa memiliki arti penting baginya. Kerinduan seorang wanita yang ingin menimang bayi telah terobati.

Singkat cerita, ketika bayi Musa tersebut telah tumbuh dewasa dan semua orang berbondong-bondong menyatakan pengakuan terhadap Fir'aun, Asiyah malah sebaliknya. Ia terang-terangan menolak Fir'aun sebagai Tuhan. Betapa pun besar kecintaan dan kepatuhannya pada suami, ia tidak bisa menerima pengakuan itu. Ia tetap memegang teguh keyakinannya bahwa Tuhan yang patut disembah adalah Allah SWT.

Asiyah Relakan Nyawa.
Sikapnya itu membuat Fir'aun marah. Asiyah terus-menerus mendapat tekanan agar meninggalkan keyakinannya itu. Tetapi usaha itu sia-sia.
Meskipun hidup di bawah tekanan dan ancaman, ia tak takut sedikit pun untuk mempertahankan keyakinannya. Ia sabar menghadapi perilaku buruk suaminya dan hanya pasrah kepada Allah.

Asiyah tetap teguh mengikuti ajaran Musa a.s walaupun nayawa sebagai taruhannya. Ketika Fir'aun masuk ke dalam kamarnya setelah membakar keluarga Masyitoh, Fir'aun berkata,"Kuharap kamu telah menyaksikan apa yang terjadi atas perempuan yang ingkar kepada tuhannya yang agung, Fir'aun."
Dengan cepat Asiyah menyela,"Celaka engkau, hai Fir'aun dengan azab Allah."

Seketika perkataannya itu telah membuat Fir'aun marah besar. Fir'aun segera memerintahkan para pengawal untuk mengikatnya di empat tiang kebun istana, kemudian para pengawal mengambil cambuk dan menderakan ke tubuh Asiyah.
Sementara Fir'aun memerintahkan untuk memperkeras siksaan itu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulut Asiyah selain munajat kepada Allah SWT.

Akhirnya Asiyah binti Muzahim rela kehilangan nyawa di tangan suaminya sendiri demi mempertahankan keimanannya kepada Allah SWT.
Subhanallah.

Sunday, July 10, 2011

Nabi Sulaiman Menangkap Iblis

Nabi Sulaiman a.s pernah mengkap Iblis dan memenjaraknnya selama beberapa hari, namuk kemudian dilepaskan lagi karena mendapat teguran Allah SWT dan karena banyak rakyatnya mengeluh karena kelaparan.

Seperti banyak diketahui, bahwa Nabi Sulaiman memiliki kerajaan yang besar sekali, wilayah kekuasaannya sangat luas dan banyak musuh yang tunduk kepadanya dari berbagai golongan, dari golongan manusia, binatang, jin dan bahkan iblis pun tunduk pula kepadanya.




Dalam sebuah riwayat disebutkan bahwa Nabi Sulaiman a.s memohon kepada Allah SWT,
"Ya Allah, Engkau telah menundukkan kepadaku manusia, jin, binatang buas, burung-burung dan para malaikat. Ya Allah, aku ingin menangkap iblis dan memenjarakannya, merantai dan mengikatnya, sehingga manusia tidak berbuat dosa dan maksiat lagi.
Allah SWT kemudian mewahyukan kepada Sulaiman a.s,"
Wahai Sulaiman, tidak ada kebaikannya jika iblis ditangkap."

Nabi Sulaiman a.s tetap memohon,
"Ya Allah, keberadaan makhluk terkutuk itu tidak memiliki kebaikan di dalamnya."
Allah berfirman,
"Jika iblis tidak ada, maka banyak pekerjaan manusia yang akan ditinggalkan."

Nabi Sulaiman Memenjarakan Iblis.
Nabi Sulaiman berkata,
"Ya Allah, aku ingin menangkap iblis selama beberapa hari saja."
Allah SWT berfirman,
"Bismillah, tangkaplah iblis."

Kemudian Nabi Sulaiman a.s menangkap iblis dan merantai serta memenjarakannya. Nabi Sulaiman tampak puas setelah memenjarakan iblis laknatullah itu.
Sementara itu, Nabi Sulaiman a.s merajut tas untuk dijual ke pasar setiap harinya.
Beliau memang memiliki kerajaan yang sangat besar, namun untuk keperluan makan, Beliau mencari sendiri dari hasil jerih payahnya.

Suatu hari, Beliau pergi ke pasar untuk menjual tas hasil rajutannya, karena dari hasil penjualan tas itu bisa dibelikan gandum untuk dibuat roti sebagai makanan hari itu juga.
Padahal dalam beberapa riwayat disebutkan bahwa dapur kerjaan Nabi Sulaiman telah dimasak 4000 unta, 5000 sapi dan 6000 kambing. Meski demikian, Nabi Sulaiman a.s tetap menjual tas dan menjualnya ke pasar untuk mencari makan.

Keesokan harinya, Nabi Sulaiman a.s mengutus anak buahnya untuk menjual tasnya ke pasar, namun mereka melihat pasar itu tutup dan tak ada yang berdagang sama sekali. Akhirnya mereka kembali pulang dengan tangan hampa sekaligus mengabarkan hal ini kepada Nabi Sulaiman.




Nabi Sulaiman bertanya,
"Apa yang terjadi?"
Mereka menjawab,
"Kami tidak tahu."
Pada hari berikutnya sama saja, anak buahnya membawa kabar bahwa pasar telah tutup dan semua orang pergi ke makam, sibuk menangis dan meratap. Semua orang siap-siap melakukan perjalanan ke akhirat.

Iblis Dilepaskan.
Nabi SUlaiman a.s bertanya kepada Allah SWT,
"Ya Allah, apa sebenarnya yang telah terjadi? Mengapa orang-orang tidak bekerja mencari makan?"
Allah SWT mewahyukan kepada Nabi Sulaiman a.s,
"Wahai Sulaiman, engkau telah menangkap iblis itu, sehingga akibatnya manusia tidak ada gairah lagi untuk mencari nafkah. Bukankah sebelumnya telah Aku katakan kepadamu bahwa menagkap iblis itu tidak mendatangkan kebaikan?"

Mendengar wahyu Allah SWT tersebut, Nabi Sulaiman a.s segera membebaskan iblis. Keesokan harinya, orang-orang sudah terlihat seperti biasanya lagi, pergi ke pasar dan mencari nafkah. Mereka sibuk bekerja dan mencari nafkah.
Jadi, jika iblis tidak ada, pekerjaan manusia akan kacau balau.

Wednesday, July 6, 2011

Tuanku Tambusai Mengislamkan Batak

Tuanku Tambusai asalah salah seorang ulama yang berjuang mengislamkan masyarakat Batak. Gaya bahasanya yang santun, adab dan kepribadiannya yang lembut membuatnya mudah diterima oleh masyarakat kala itu.
Kelahiran Tuanku Tambusai.
Beliau lahir di Dalu-dalu, nagari Tambusai, Rokan Hulu, Riau pada 5 November 1784. Beliau sejak kecil hingga remaja tinggal di sebuah desa yang sebagian besar dihuni para pedagang Minangkabau, lokasinya berada di tepi Sungai Sosak, anak Rokan.

Beliau memiliki nama kecil Muhammad Saleh, anak dari pasangan Ibrahim dan Munah.
Ayahnya seorang ulama besar di Tambusai, Riau. Sewaktu kecil Muhammad Saleh telah diajarkan ayahnya ilmu bela diri, termasuk ketangkasan menunggang kuda dan tata cara bernegara.

Belajar Agama Islam.
Untuk memperdalam ilmu agama, Tuanku Tambusai pergi belajar ke Bonjol dan Rao di Sumatera Barat. Di sana Beliau banyak belajar dengan ulama-ulama Islam yang berpaham Paderi, hingga dia mendapatkan fakih, artinya seorang ahli fikih yang luas pengetahuan hukum Islamnya.



Ajaran Paderi begitu melekat pada dirinya, karena dianggap sebagai permurnian terhadap ajaran-ajaran islam yang selama ini telah diselewengkan. Semangatnya memperdalam ajaran agama begitu besar, hingga kemudian hari ajaran itu disebarkan pula di tanah kelahirannya, yaitu Tambusai.
Di sini ajarannya dengan cepat diterima oleh masyarakat sehingga banyak yang menjadi pengikutnya.
Semangatnya untuk menyebarkan dan melakukan pemurnian islam mengantarkannya untuk mengislamkan masyarakat di tanah Batak yang masih banyak menganut Pelbegu, yaitu agama nenek moyang.


Dakwah Islam.
Upaya untuk mengislamkan masyartakat Batak berhasil dengan sukses. Orang-orang Batak yang awalnya sulit memeluk agama Islam akhirnya banyak yang masuk islam, padahal masyarakat Batak karakteristiknya keras dan sulit diatur. Tetapi berkat strategi dakwah yang santun akhirnya msayarakat Batak banyak yang bersedia masuk Islam.

Orang-orang Batak yang beragama Islam adalah hasil dakwah dari Tuanku Tambusai, sedangkan yang beragama kristen itu adalah pengikut dan bekas kaki tangan Belanda.
Meski demikian kedua agama itu saling hidup rukun sebagai rakyat Batak yang mencintai tanah kelahirannya.

Tuanku Tambusai Membantu Tuanku Imam Bonjol.
Di tengah-tengah Beliau berdakwah, terdengar kabar bahwa Tuanku Imam Bonjol memimpin perang melawan Belanda. Tuanku Tambusai tidak tinggal diam begitu saja, kemudian Beliau ikut berperaang melwan tentara Belanda dengan perjuangannya di mulai di daerah Rokan Hulu dan sekitarnya dengan pusat di Benteng Dalu-dalu.

Kemudian Beliau melanjutkan perlawanan ke wilayah Natal pada tahun 1823, dan tahun depannya beliau memimpin pasukan gabungan Dalu-dalu, Lubuksikaping, Padanglawas, Angkola, Mandailing dan Natal untuk melawan Belanda.
Dia menjadi pemimpin Paderi pada tahun 1832, setelah Belanda mengangkat Tuanku Mudo menjadi regent Bonjol.





Dalam kurun waktu 15 tahun, Tuanku Tambusai cukup merepotkan pasukan Belanda sehingga sering meminta bantuan pasukan dari Batavia. Berkat kecerdikannya, benteng Belanda Fort Amerongen dapat dihancurkan.

Bonjol yang jatuh ke tangan Belanda dapat direbut kembali walupun tidak bertahan lama. Tuanku Tambusai tidak saja menghadapi Belanda, tetapi juga sekaligus pasukan Raja Gedombang (regent Mandailing) dan Tumenggung Kartorejo yang berpihak pada Belanda.
Oleh Belanda, Beliau diberi gelar "De Padrische Tijger Van Rokan" yang artnya Harimau Paderi dari Rokan. Gelar ini diberikan karena Belanda merasa kesulitan untuk menaklukkan Tuanku Tambusai.

Tuanku Tambusai Diangkat Sebagai Pahlawan.
Keteguhan sikapnya diperlihatkan dengan menolak ajakan Kolonel Elaout untuk berdamai.
Pada tanggal 28 Desember 1838, Benteng Dalu-dalu jatuh ke tangan Belanda dan Tuanku Tambusai berhasil lolos melalui pintu rahasia. Ia mengungsi dan wafat di Seremban, Negeri Sembilan, Malaysia pada tanggal 12 November 1882 pada usia 98 tahun.
Karena jasa-jasanya dalam menentang penjajahan Hindia Belanda, pada tahun 1995 pemrintah Indonesia mengangkat Beliau sebagai Pahlawan Nasional.

Friday, July 1, 2011

Kambing Beranak Tanpa Kawin

Demi menjamu Rasulullah SAW dan Abu Bakar, seorang janda menyerahkan kambing betinanya. Namun kambing itu tak disembelih, melainkan hanya diambil susunya. Berkat doa Rasulullah, kambing itu beranak sangat banyak tanpa melalui proses kawin.

Berikut Kisahnya.
Kisah Islamiah hadir kemabli dan kali ini menceritakan sebuah kisah yang diriwayatkan dari Abu Bakar Ashshiddiq.
Bahwa pada suatu hari dirinya bepergian bersama Rasulullah SAW ke luar kota Makkah. Keduanya melintas di sebuah perkampungan Arab, dan di kampung itu Rasulullah SAW melihat sebuah rumah yang berada di bagian pojok.

Beliau berjalan menuju rumah itu lalu singgah sejenak diluar rumah tersebut.
Keduanya kemudian ditemui oleh penghuni rumah, yang ternyata seorang wanita tua.

"Hai hamaba Allah, aku hanya seorang wanita, karena itu hendaklah kalian menemui pemuka kampung ini biar mendapat jamuan sebagai tamu," ucap wanita tua itu.

Lalu tak lama kemudian, datanglah seekor anak sambil menggembalakan beberapa ekor kambing yang semuanya berjenis kelamin betina.
"Hai anakku, pergilah dengan membawa seekor kambing betina dan pisau ini, lalu berilah kepada kedua orang itu," suruh wanita tua itu.

Doa Nabi.
Si anak menuruti perintah wanita tua itu, yang tak lain adalah ibunya sendiri. Ia membawa kambing betina itu dan pisau untuk diberikan kepada Nabi Muhammad SAW dan Abu Bakar Ashshiddiq. Si anak ini juga tak mengerti siapa kedua orang itu.
"Ibuku menyuruh agar aku memberikan kambing betina dan pisau ini, sembelihlah dan makanlah dagingnya," ujar anak itu.

Mendapati penawaran tersebut, Rasulullah SAW berkata kepada anak itu,
"Pergi dan bawalah pisau ini, lalu bawalah kemari sebuah bejana (wadah) untuk susu," tutur Rasulullah SAW dengan lemah lembut.
"Ketahuilah, kambing betina ini sudah tidak kawin dan sudah tidak punya susu," ujar anak itu dengan polos.

Rasulullah SAW tetap menyuruh anak itu menuruti perintahnya, dan akhirnya tak lama kemudian si anak kembali lagi dengan membawa sebuah bejana susu.
Rasululah SAW kemudian mengambil posisi berjongkok dan tangannya mengusap kelenjar susu kambing betina itu sambil berdoa. Tak lama kemudian, Beliau juga mulai memerah susu kambing betina itu hingga bejana susu itu penuh.

"Pergilah dengan membawa bejana susu ini, lalu berikanlah kepada ibumu," ucap Rasulullah.
Si anak tersebut patuh, ia memberikan bejana susu kepada ibunya. Sang ibu cukup terkejut karena ia tahu bahwa kambing pemberiannya itu sudah lama sekali tidak memproduksi susu, namun si ibu tetap meminum susu kambing itu hingga kenyang.
"Bawalah kembali bejana ini kepada para tamu itu," ucap wanita tua itu kepada anaknya.

Kambing Beranak Banyak.
Si anak kemudian sampai kepada Rasulullah kembali dan menyerahkan bejana itu.
Namun lagi-lagi Rasulullah SAW memerah susu kambing itu hingga penuhlah bejana dengan susu kambing.
"Pergilah dan bawa bejana susu ini, lalu bawalah bejana yang lain untuk kami," ucap Rasulullah SAW.

Di bejana yang lain, Rasulullah dapat memenuhinya dengan susu kambing, dan di bejana itu Beliau dan Abu Bakar meminum susunya. Pada malam itu, Rasulullah dan Abu Bakar bermalam di tempat itu, dan keesokan harinya mereka meneruskan perjalanan.

Beberapa tahun kemudian, kambing betina yang diperah susunya oleh Rasulullah SAW itu jumlahnya bertambah banyak. Aneh sekali karena kambing itu tak pernah kawin.
Namun itulah salah satu mukjizat Rasulullah SAW.

Wanita tua dan anak itu lantas akan menjual anak kambing ke Madinah.
Dalam perjalanan, mereka bertemu dengan Abu Bakar Ashshiddiq. Wanita tua itu menghampiri Abu Bakar dan bertanya,
"Hai hamba Allah, siapa laki-laki yang dulu bersamamu datang ke rumahku?" tanya wanita tua itu.
"Apakah engkau tidak mengetahuinya? Dialah seorang utusan Allah," ujar Abu Bakar.

Abu Bakar kemudian mempertemukan wanita tua itu dan anaknya ke Rasulullah SAW.
Rasulullah SAW memberikan jamuan tamunya itu, sedangkan si wanita tua itu memberikan hadiah berupa keju dan barang-barang khas Arab Badui.
Wallahu A'lam.


(Banyak kisah tentang riwayat ini, namun pada intinya adalah sama dengan tutur kata yang berbeda. Maaf bila ada kesalahan menuliskan riwayat dalam bentuk prosa atau cerita ini.)