Thursday, July 14, 2011

Godaan Iblis Kepada Nabi Ayub

Kesabaran Nabi Ayub a.s tidak perlu diragukan lagi. Iblis yang mencoba mengikis kesabarannya pun gagal total. Semua jenis jurus dan siasat Iblis sudah dikerahkan, namun tetap saja keimanan Nabi Ayub tak tergoyahkan.
Sungguh kesabaran yang sulit untuk ditiru manusia untuk saat ini.

Beliaulah Nabi Ayyub.
Nabi Ayyub hidup dalam keadaan yang serba ada dan mewah dengan harta kekayaan yang banyak, hidup rukun dengan anak dan istrinya. Namun begitu Nabi Ayyub tidak terlena sedikit pun dengan kekayaan, anak serta istrinya itu. Siang dan malam bibirnya tidak lepas dari mengingat Allah SWT, bersujud dan bersyukur kepada-Nya.

Dengan tingkah laku yang demikian, membuat Iblis sedih dan berusaha untuk menggoda Nabi Ayyub. Iblis tak pernah putus asa menggodanya siang dan malam, namun masih gagal juga.
Kemudian Iblis pergi menghadap Allah dan berkata,
"Wahai Tuhan, sesungguhnya Ayyub tidak beribadah dengan ikhlas, ia hanya takut kehilangan semua hartanya. Andaikan ia ditimpa musibah sehingga hartanya musnah, tentu ia akan berpaling dari-Mu," kata Iblis.



Siasat Iblis.
Ujian Pertama.
Allah mengizinkan keinginan Iblis itu. Maka iblis mengumpulkan kawan-kawannya untuk menguji dan memalingkan keimanan Nabi Ayyub. Untuk pertama kali ia berusaha menghancurkan harta benda Nabi Ayyub. Dengan berbagai cara, akhirnya Iblis berhasil memusnahkan binatang ternak, ladang-ladang serta bangunan-bangunan milik Nabi Ayyub.

Dalam waktu singkat saja, Nabi Ayyub yang sebelumnya kaya raya sekarang menjadi mskin. Setelah itu Iblis pun datang menemui Nabi Ayyub dengan menyamar sebagai orang tua dan berkata,
"Sesungguhnya musibah yang menimpamu ini sangat mengerikan."
Kemudian Nabi Ayyub berkata,
"Ketahuilah, Allah Maha Kuasa yang dapat berbuat sesuai dengan kehendak-Nya. Sebagai hamba, kita harus menerima takdir-Nya."

Ujian Kedua.
Iblis segera meninggalkan rumah Nabi Ayyub dengan rasa kecewa dan hampa. Namun begitu, dia masih berhasrat untuk mencelakakan Nabi Ayyub a.s.
Kembali ia menghadap Allah SWT dan meminta izin untuk meneruskan usahanya.
Iblis berkata,
"Wahai Tuhan, Ayyub tidak mau menerima hasutanku. Tetapi jika anak-anaknya mati, ia pasti berpaling dari-Mu."




Allah SWT mengizinkan Iblis untuk menggoda lagi Nabi Ayyub. Akhirnya rumah yang dihuni oleh putra-putra Nabi Ayyub menjadi hancur dan putra-putranya meninggal semuanya.

Kemudian Iblis pun pergi ke rumah Nabi Ayyub dengan menyamar sebagai sahabat Nabi Ayyub.
Iblis berkata,
"Hai Ayyub, sudahkah engkau melihat putra-putramu mati? Sudah jelas hai Ayyub, bahwa Tuhan tidak menerima ibadahmu selama ini."

Mendengar ucapan iblis itu, menagislah Nabi Ayyub dengan tersedu-sedu sambil berkata,
"Allah yang memberi dan Dia pulalah yang mengambil kembali."

Ujian Ketiga.
Iblis pergi meninggalkan Nabi Ayyub yang sedang dalam keadaan sujud kepada Allah SWT. Kemudian Iblis kembali menghadap Allah SWT dan berkata,
"Wahai Tuhan, izinkan aku ya Tuhan untuk menguji sekali lagi terhadap kesehatannya."

Allah mengizinkan kehendak iblis tersebut.
Iblis memerintahkan kepada pengikut-pengikutnya supaya menaburkan benih-benih penyakit ke dalam tubuh Nabi Ayyub sehingga Nabi Ayyub menderita sakit parah.

Semua orang menjauhinya karena takut tertular dan hanya tinggal istrinya yang setia menjaga dan merawatnya. Namun demikian dalam keadaan yang tidak berdaya itu, Nabi Ayyub masih tetap beribadah kepada Allah SWT dengan biirnya yang terus menyebut Asma Allah.

Kegagalan Iblis.
Iblis pun akhirnya menjadi kesal dengan sikap Nabi Ayyub tersebut.
Iblis gagal dalam menggoda seorang hamba Allah yang selalu taat dan percaya akan Qada dan Qadar Allah, apapun yang terjadi, apa pun yang dialami di dunia ini Nabi Ayyub tetap sabar dan sabar.
Sungguh Nabi yang sangat sabar dalam menerima cobaan, menerima dengan ikhlas cobaan yang diberikan Allah SWT.

Akhirnya iblis pun menyerah karena tak bisa menggoda lagi Nabi Ayyub. Apapun bentuk godaan yang dilayangkan, tetap saja Nabi Ayyub beriman, tak goyah walau hanya sedikitpun.
Berkat kesabaran dan menerima cobaan dengan selalu beribadah, Allah akhirnya memberikan kesembuhan dan semua nikmat-Nya kepada Nabi Ayyub.
Subhanallah.

Jenazah Ulama Bisa Mengaji

Kisah yang satu ini mungkin sudah tidak asing lagi kita dengar. Dulu mungkin kita sering mendengar cerita ini melalui media radio yang diceritakan oleh Da'i Sejuta Umat, Ustad kondang, Almarhum KH Zainuddin MZ.
Sungguh luar biasa, jenazah bisa mengaji.
Itulah yang terjadi pada kematian Sa'id bin Jubair. Setelah dia divonis mati oleh penguasa zalim dan kepalanya dipenggal, dengan izin Allah SWT mulutnya tetap bisa mengaji, menyebut Asma Allah.


Kisahnya.
Dalam kitab At-Tahrim disebutkan bahwa pada masa pemerintahan Bani Umayyah ada seorang wakil gubernur yang zalim bernama Hajjaj bin Yusuf. Selama berkuasa, Hajjaj justru menghukum orang yang membela kebenaran, bahkan ia telah memfitnah seorang ulama bernama Sa'id bin Jubair sebagai pemberontak. Akhirnya ia menyuruh pengawalnya untuk menangkap Sa'id.

Setelah beberapa hari dalam pencarian, akhirnya Sa'id dapat ditemukan dan dibawa ke Baghdad untuk dihadapkan kepada penguasa yang lalim itu. Setibanya di istana, terjadi dialog antara Sa'id bin Jubair dan Hajjaj bin Yusuf.

"Siapa nama Anda?" tanya Hajjaj.
"Sa'id bin Jubair (yang bahagia anak orang yang teguh)," jawab Sa'id.
"Tidak, nama yang layak untukmu adalah Syaqiy bin Kusair (Si celaka anak si pecah)," hardik wakil gubernur zalim itu.

"Wahai penguasa, yang memberi nama adalah orang tua, Anda tidak berhak mengubahnya," protes Sa'id.
"Kalau begitu, celakalah kamu dan ibu bapakmu yang memberi nama seperti itu, kamu semua pengkhianat dan wajib dihukum pancung," kata Hajjaj yang mulai terpancing emosi.

"Saya bukan pengkhianat, Anda tidak dapat mencela seperti itu, hanya Allah Yang Maha Kuasa," ujar Sa'id.
"Diam..!! jangan banyak bicara, sekarang ini juga aku akan mengirimmu ke neraka," bentak Hajjaj dengan marah.
"Jika saya tahu bahwa Anda berkuasa menentukan tempatku di akhirat, maka tentu sejak dari dulu saya menyembah Anda," tegas Sa'id.

Penguasa Zalim.
Pernyataan Sa'id membuat Hajjaj makin geram. Lalu Hajjaj menyuruh salah seorang prajuritnya supaya mengeluarkan permata dan mutiara untuk diletakkan di hadapan Sa'id.
"Apakah kamu sudi meminta ampunanku dan menerima permata itu?" kata Hajjaj.
"Tidak, saya hanya mau meminta ampunan kepada Allah, tidak kepada Anda, harta itu tidak dapat menyelamatkan diri Anda dari dahsyatnya hari kiamat," kata Sa'id.

Karena kesal tidak dapat membujuk Sa'id, akhirnya Hajjaj memanggil beberapa pengawal. Hajjaj menyuruh untuk membawa dan membunuh Sa'id. Para pengawal dengan sigap memenuhi titah Hajjaj. Namun ketika mendekati pintu, Sa'id tersenyum. Seorang pengawal memberitahukan hal itu kepada Hajjaj.
"Mengapa kamu tersenyum?" tanya Hajjaj."
"Saya tersenyum karena heran melihat Anda yang berani melawan Allah," ujar Sa'id.

Selanjutnya para prajurit sibuk meyiapkan pedang, hamparan kulit kerbau yang biasa digunakan untuk menampung darah dan bangkai orang yang dihukum pancung di hadapan khalayak ramai.
Sa'id dipegang kuat-kuat, namun ia tidak melawan, malahan dengan tenang ia hadapkan wajahnya ke langit, sedangkan bibirnya tidak henti-hentinya meyebut Asma Allah.

Melihat demikian, Hajjaj semakin geram.
"Tundukkan dan tekan kepalanya," katanya.


Mati Khusnul Khatimah.
Sa'id tidak peduli lagi dengan ocehan Hajjaj. Ketika ia memalingkan wajahnya ke kiblat, Hajjaj menyuruh para pengawal untuk memutar wajahnya sehingga membelakangi kiblat.
Kendati demikian, ia masih saja membaca ayat Al Qur'an,

وَلِلَّهِ الْمَشْرِقُ وَالْمَغْرِبُ فَأَيْنَمَا تُوَلُّوا فَثَمَّ وَجْهُ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ وَاسِعٌ عَلِيمٌ

Artinya,
"Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[1]. Sesungguhnya Allah Maha Luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui."

Makna [1].
Disitulah wajah Allah, maksudnya kekuasaan Allah meliputi seluruh alam, sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, karena ia selalu berhadapan dengan Allah.
(QS. Al Baqarah: 115).

"Cepat potong lehernya," teriak Hajjaj.
Pedang itupun dengan cepat memotong lehernya, dan Sa'id meninggal dunia setelah mengucap dua kalimat syahadat.
Namun ada sebuah kejadian aneh tatkala kepala Sa'id terpisah dari badannya. Semua yang hadir tercengang karena menyaksikan kepala Sa'id yang terpisah dari badannya tersebut masih sempat menyebut Asma Allah dengan senyuman yang mengejek dunia.
سبحا ن الله

Beberapa hari kemudian, Hajjaj semakin tersiksa batinnya dan mengalami penyakit gila. Dan tak lama kemudian pula, Hajjaj pun mati.

Wednesday, July 13, 2011

Alim Tapi Mati Su'ul Khatimah

Sungguh di luar dugaan, seorang murid paling alim ini ternyata ahli maksiat. Dalam kondisi sakaratul maut, dirinya pun menolak dibacakan Yasin bahkan syahadat, sehingga membuatnya meninggal dalam keadaan Su'ul Khatimah.

Kisahnya.
Fadhil bin 'Iyadh adalah salah seorang tokoh syeikh tarekat, ia mempunyai seorang murid kesayangan. Muridnya tersebut tergolong salah satu murid yang paling alim di antara murid-murid lainnya. Dalam kesahariannya, murid Fadhil tersebut sangat santun dalam bertutur kata dan sopan dalam menjaga sikapnya.
Oleh karena itu, dirinya pun mengajarkan semua yang diketahui olehnya kepada sang murid dengan harapan muridnya kelak mampu menurunkan ilmu yang dimilikinya.

Sakit Keras.
Namun semua itu tak disangka oleh sang guru ketika dalam usia yang masih cukup muda muridnya terserang suatu penyakit yang cukup ganas. Bahkan oleh dokter yang memeriksa kala itu, si murid divonis tak akan bisa sembuh dari penyakit yang menggerogoti tubuhnya.

Dalam kondisi yang serba kebingungan tersebut, si murid lantas diberi saran oleh sang dokter. Bahwa jika dirinya ingin sembuh dari penyakit ganas tersebut, maka hendaklah minum khamr.
"Berarti saya harus meminum minuman yang memabukkan itu?" tanya si murid.
"Hanya itu yang bisa menyembuhkan penyakitmu," jawab sang dokter.

Tanpa diketahui oelh sang guru, si murid pun mulai meminum khamr demi kesembuhan penyakit yang dideritanya. Akibat perbuatannya tersebut, dirinya lantas ketagihan dan mulai mabuk-mabukan setiap harinya.
Kini, si murid pun juga mulai berani menghasut teman-temannya. Bahkan dirinya juga sampai berani mengadu domba hingga menyebabkan permusuhan diantara para teman-temannya. Hanya saja dirinya mampu menutupi semua perbuatannya itu di depan gurunya sehingga dirinya masih mendapatkan citra yang positif di mata gurunya.

Berbuat Dosa.
Tahun berganti tahun, penyakit yang diderita oleh si murid pun semakin parah sehingga dirinya mengalami sakaratul maut. Menjelang kematiannya, sang guru pun datang kepadanya dan duduk di dekat kepalanya.
Ketika sang guru hendak membacakan surat Yasin, tiba-tiba si murid berkata,
"Wahai guruku, jangan bacakan surat ini."

Sang guru terdiam, lalu dirinya m,embimbing murid yang dicintainya itu agar membaca لا اله الله. Sekali lagi sang murid juga menolak dan berkata,
"Aku tidak mau membacanya, karena aku tidak menyukainya."
Akhirnya sang murid menghembuskan nafasnya yang terakhir. Sang guru merasa heran menyaksikan keadaan murid kesayangannya.

Kemudian sang guru pulang dan masuk ke kamarnya, ia berdiam diri di kamarnya, lalu ia bermimpi bahwa muridnya dicampakkan ke neraka Jahannam. Dalam mimpinya ia bertanya kepada muridnya,
"Mengapa Allah mencabut makrifat darimu, padahal kamu termasuk muridku yang paling alim?"
"Allah mencabut makrifatku karena 3 hal:
Pertama, karena namimah (mengadu domba).
Kedua karena hasut, aku dengki kepada sahabat-sahabatku, 
dan yang ketiga, demi kesembuhan penyakitku, aku ikuti nasehat dokter dengan meminum khamr. Itulah tiga hal yang menyebabkan aku Su'ul Khatimah, mengakhiri hidup dengan keburukan," jawab sang murid dalam mimpi gurunya.

Jari Rasulullah Bercahaya

Mukjizat yang diberikan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW sangat banyak jumlahnya, ada yang sudah terkenal dan banyak didengar oleh kebanyakan kaum muslimin.
Salah satu dari sekian banyak mukjizat itu adalah jari tangan Rasulullah SAW bisa mengeluarkan cahaya.


Berikut Kisahnya.
Dirawikan dari Hamzah bin 'amr al-Aslami, ia bercerita bahwa pada suatu saat di malam hari ia berjalan bersama Rasulullah SAW. Kondisi saat itu gelap gulita tanpa penerangan sedikitpun. Kemudian keduanya berpencar di ujung jalam, dan saat berpencar itulah Hamzah mengetahui bahwa jari jemari Rasulullah SAW bersinar sangat terang.

Begitu terangnya sinar itu hingga beberapa sahabat Rasulullah SAW yang lain bisa mengumpulkan hewan tunggangan mereka serta tak ada seorang pun yang tersesat.

Keistimewaan jari jemari Rasulullah SAW lainnya juga bisa memancarkann air.
"Aku pernah melihat Rasulullah pada saat waktu shalat ashar tiba, orang-orang mencari air wudhu, tapi mereka tak menemukan air. Kemudian Rasulullah datang dengan membawa sebuah wadah berisi air wudhu. Rasulullah SAW lalu memasukkan tangannya ke dalam wadah itu, lalu Beliau menyuruh orang-orang berwudhu dari wadah itu. Saat itu Anas bin Malik menyaksikan air memancar dari bawah jari jemari Rasulullah SAW.
(HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa'i, dan Tirmidzi).

Bersinar Terang.
Bukan hanya jari jemari Beliau saja yang bersinar, dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa tongkat Beliau serta setandan kurma pemberian Beliau juga mampu mengeluarkan cahaya.

Dirawikan dari Maimun bin Zaid Abas bahwa Rasulullah SAW sutu saat memberikan sebuah tongkat pada Abu Abas setelah ia mengalami kebutaan. Rasulullah SAW berkata kepada Abu Abas,
"Gunakanlah tongkat ini sebagai penerang jalanmu."

Kemudia Abas menerima tongkat itu, anehnya, tongkat dari kayu itu tiba-tiba bisa mengeluarkan cahaya sehingga menerangi jalan Abas.

Dalam riwayat lainnya sisebutkan bahwa Abu Abas shalat lima waktu bersama Rasulullah SAW. Kemudian ia pulang ke perkampungan Bani Haritsah. Di suatu malam yang gelap gulita dan hujan sedang turun dengan derasnya, Abas keluar lalu tongkat pemberian Rasulullah SAW itu ia gunakan untuk menerangi jalan. Akhirnya Abas selamat hingga sampai di rumah Bani Haritsah.

Setandan Kurma.
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Na'im dijelaskan bahwa pada suatu malam, Rasulullah SAW keluar dari rumah menuju masjid untuk menunaikan shalat Isyak. Ketepatan malam itu juga hujan turun dengan derasnya dan disahuti petir. Saat sinar petir menerangi malam, Rasulullah SAW melihat Qatadah bin Nu'man.

"Hai Qatadah, setelah Anda selesai shalat, tetaplah duduk di tempatmu hingga aku menyuruhmu," ucap Rasulullah SAW.
Seusai shalat, Rasulullah SAW menemui Qatadah dan memberikan sebuah tandan kurma.
"Ambillah tandan kurma ini, ia akan menerangi jalan di depanmu sepuluh langkah dan dibelakangmu sepuluh langkah," tutur Nabi Muhammad SAW seraya memberikan setandan kurma itu.

Qatadah menerimanya.
Lalu saat pulang ke rumahnya, setandan kurma itu benar-benar menerangi jalannya sampai di rumah.
Subhanallah.