Monday, November 7, 2011

Sunan Kalijaga Mencari Guru Sejati

Sebagi lanjutan tentang kisah walisanga, yaitu Sunan Kalijaga yang berjudul Pertemuan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang, Kisah Islamiah berlanjut.
Kali ini tentang perjalanan Raden Said atau Sunan Kalijaga yang mencari guru sejati.


Kisahnya.
Setelah menyaksikan betapa hebat karomah orang yang berjubah puith itu yang tak lain adalah Sunan Bonang, Putra dari Sunan Ampel yang bermukim di Surabaya.
Karomah Sunan Bonang yang mampu merubah buah aren menjadi emas seluruhnya merupakan keajaiban, dan bukan sembarang orang bisa melakukannya.

Ucapan-ucapan dari orang tua berjubah putih tersebut masih terngiang di telinganya, yaitu tentang beramal dengan barang haram yang disamakan dengan mencuci pakaian dengan air kencing, tentang berbagai hal yang terkait dengan upaya memberantas kemiskinan.

Raden Said memutuskan untuk mengejar orang itu. Segenap kemampuan dikerahkannya untuk berlari cepat hingga akhirnya dia dapat melihat bayangan orang itu dari kejauhan.
Sepertinya orang tua itu berjalan santai saja dalam melangkahkan kaki, tapi Raden Said tak pernah bisa menyusulnya. Jatuh bangun, terseok-seok dan berlari lagi. Demikianlah, setelah tenaganya terkuras habis, dia baru sampai dibelakang lelaki berjubah putih itu.

Raden Said Meminta jadi Murid.
Lelaki berjubah putih itu berhenti bukan karena kehadiran Raden Said melainkan di depannya terbentang sungai yang cukup lebar. Tak ada jembatan penyeberangan dan sungai itu tampaknya dalam, dengan apa dia akan menyeberang.
"Tunggu...," ucap Raden Said ketika melihat orang tua itu hendak melangkahkan kakinya lagi untuk melewati sungai.
Dengan terengah-engah Raden Said berkata,
"Sudilah kiranya Tuan menerima saya sebagai murid...." pintanya dengan nafas turun naik dengan cepatnya.



"Menjadi muridku?" tanya lelaki itu sembari menoleh ke belakang.
"Mau belajar apa?" imbuhnya lebih lanjut.
"Apa saja, asal Tuan menerima saya sebagai murid," jawan Raden Said.
"Berat...berat sekali anak muda. Bersediakah engkau menerima syarat-syaratnya?" tanya lelaki berjubah putih.
"Saya bersedia," jawan Raden Said.

Lelaki tua itu kemudian menancapkan tongkatnya di tepi sungai. Raden Said diperintahkan menungguinya. Tak boleh beranjak dari tempat itu sebelum lelaki itu kembali untuk menemui Raden Said.
Raden Said menerima syarat ujian itu.

Selanjutnya, lelaki berjubah putih itu menyeberangi sungai.
Sepasang mata Raden Said terbelalak karena heran, lelaki itu berjalan di atas air bagaikan berjalan di daratan saja. Kakinya tidak basah terkena air. Ia semakin yakin bahwa calon gurunya itu adalah seorang lelaki berilmu tinggi, waskita dan mungkin saja golongan para wali.

Semedi Berakhir.
Setelah lelaki itu hilang dari pandangan Raden Said, pemuda itu duduk bersila. Dia teringat suatu kisah ajaib yang dibacanya di dalam Al Qur'an yaitu Kisah Ashabul Kahfi. Maka ia pun segera berdoa kepada Allah SWT agar ditidurkan seperti para pemuda di Gua Kahfi ratusan tahun silam.
Doa Raden Said dikabulkan oleh Allah SWT. Raden Said tertidur dalam semedinya selama 3 tahun.




Akar dan rerumputan telah merambati sekujur tubuhnya dan hampir menutupi sebagian besar anggota tubuhnya.
Setelah 3 tahun lamanya, lelaki berjubah putih itu datang untuk menemui Raden Said. Tapi Raden Said tidak bisa dibangunkan.
Raden Said baru bisa dibangunkan setelah lelaki berjubah putih itu mengumandangkan Azan.

Kemudian tubuh Raden Said dibersihkan dan diberi pakaian baru yang bersih. Selanjutnya Raden Said dibawa ke Tuban.
Mengapa dibawa ke Tuban?
Ya karena lelaki berjubah putih itu adalah Sunan Bonang, salah seorang putra Sunan Ampel yang diberi tugas oleh ayahnya untuk berdakwah di sana.
Meski demikian, kehadiran Raden Said tidak diketahui oleh keluarganya.

Raden Said kemudian diberi pelajaran agama sesuai dengan tingkatannya, yakni tingkat para Wali Allah, Waliullah.
Di kemudian hari, Raden Said terkenal denagn sebutan Sunan Kalijaga.

Asal Mula Penyembelihan Hewan Kurban

Kisah islamiah sore ini tentang asal muasal syariat islam tentang penyembelihan hewan kurban.
Peringatan Hari Raya Idul Adha memang telah usai, dimana pada hari itu agama islam mensyariatkan menyembelih hewan kurban pada tanggal 10 Zulhijjah selepas Shalat Idul Adha.

Penyembelihan hewan kurban ini memiliki kisah sendiri. Kala itu Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu untuk menyembelih anaknya, namun Allah SWT kemudian mengganti anak itu dengan seekor kambing.


Kisahnya.
Kisah ini sumbernya adalah Al Qur'an, Surat Ash-Shaffat ayat 104-107.
Dikisahkan bahwa setelah Nabi Ibrahim as berpindah dari negeri kaumnya, ia memohon kepada Allah SWT agar dikarunia seorang anak yang saleh.

Doa Nabi Ibrahim as dikabulkan Allah SWT. Tak lama kemudian istrinya, Hajar melahirkan seorang bayi mungil tampan rupawan yang diberi nama Ismail.
Ketika Ismail lahir, Nabi Ibrahim as berusia 86 tahun. Ismail inilah yang kemudian menggantikan peran ayahnya untuk menyiarkan agama Allah.
Namun, Allah SWT tengah menguji kepasrahan dan kesabaran Nabi Ibrahim as.

Pada suatu malam, Nabi Ibrahim bermimpi agar menyembelih anaknya, Ismail. Sebanyak tiga kali mimpi, namun perintahnya juga sama, menyembelih anak kesayangannya itu. Akhirnya Nabi Ibrahim yakin bahwa itu merupakan perintah Allah SWT yang harus dilaksanakan.
"Jika benar ini adalah perintah Allah, maka aku akan pasrah dan sabar," yakinnya dalam hati.




Wahyu dari Allah SWT.
Selanjutnya Nabi Ibrahim menceritakan mimpinya itu kepada Ismail yang kala itu masih kecil. Ia ingin mendengar pertimbangan anaknya atas perintah itu.
"Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu?" tanya Nabi Ibrahim.

Di luar dugaaan, sang anak bisa berbicara dan mengamini perintah dalam mimpi ayahnya.
Ismail tidak merasa takut atau marah kepada ayah kandungnya karena ia yakin mimpi itu merupakan wahyu Allah SWT.
"Wahai Bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar," kata Ismail.

Keputusan Ismail itu dipilih sendiri dan bukan karena paksaan seseorang. Kemudian Ismail tidak lupa meminta pertolongan kepada Allah SWT agar ia diberi kesabaran. Saat itu Ismail tidak mengandalkan kekuatan yang ada dalam dirinya, melainkan ia meminta kekuatan dari Allah SWT. Karena itu juga, Allah SWT mencatat nama Ismail sebagai golongan nabi-nabi yang sabar.

Nabi Ibrahim semakin mantap menunjukkan kepasrahan dan kesabarannya menjadi hamba Allah SWT. Di satu sisi, ia bersyukur karena juga dikaruniai anak yang pasrah dan sabar.

Kemudian ayah dan anak itu pergi ke sebuah tempat yang tinggi. Di atas tempat itu Ismail membaringkan dan bersiap untuik disembelih oleh ayahnya. Namun, ketika semuanya sudah siap, Allah SWT menurunkan wahyu.

Diganti Kambing Besar.
Karena membenarkan mimpi iotu, Allah SWT membalasnya dengan balasan yang setimpal. Allah SWT menggantinya dengan seekor sembelihan yang besar.
Allah SWT berfirman,


وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ
قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ
إِنَّ هَذَا لَهُوَ الْبَلاءُ الْمُبِينُ
وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ

Artinya:
"Dan Kami panggillah dia: "Hai Ibrahim,
Sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu[1284] Sesungguhnya Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik.
Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata.
Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar."
(QS. Ash-Shaaffat: 104-107).

Yang dimaksud dengan membenarkan mimpi ialah mempercayai bahwa mimpi itu benar dari Allah s.w.t. dan wajib melaksana- kannya.
 Sesudah nyata kesabaran dan ketaatan Ibrahim dan Ismail a.s. Maka Allah melarang menyembelih Ismail dan untuk meneruskan korban, Allah menggantinya dengan seekor sembelihan (kambing). Peristiwa ini menjadi dasar disyariatkannya Qurban yang dilakukan pada hari raya haji.

Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud dengan sembelihan besar adalah kambing atau domba.

Nabi Ibrahim as berhasil meraih predikat Khalilullah (kekasihAllah) karena telah mampu mengorbankan sesuatu yang dicintainya berupa anak, demi mencapai kecintaan kepada Allah SWT.
Peristiwa inilah yang selalu kita peringati setiap tahun dengan anjuran menyembelih hewan kurban pada hari Idul Adha.

Bayi yang Menghentikan Perahu

Kisah islamiah kali ini tentang sosok bayi yang bisa menghentikan laju perahu layar. Hanya karena menabrak peti yang di dalamnya ada seorang bayi, maka terhentilah kapal itu, tidak bergerak sama sekali.

Sangat dahsyat karomah dari bayi ini hingga mampu menggemparkan seisi kapal laut.
Siapakah bayi tersebut.


Kisahnya.
Pada suatu malam, ada sebuah perahu dagang dari Gresik sedang melintasi Selat Bali. Ketika perahu itu berada di tengah-tengah selat Bali, keanehan mulai muncul. Perahu tidak dapat bergerak, maju tak bisa mundur pun juga tak bisa.

Nahkoda kapal memerintahkan awak kapal untuk memeriksa sebab-sebab kemacetan itu, apa mungkin ada karang di tengah laut itu.
"Wahai awak kapal, coba periksalah apa yang sedang terjadi. Apakah kapal kita ini sedang menabrak karang?" perintah nahkoda kepada awak kapalnya.

Selanjutnya para awak kapal menyisiri tepi kapal untuk melihat apakah ada yang menghalangi laju perahu mereka. Setelah agak lama berkeliling, ternyata para awak kapal telah menemukan sekotak peti yang indah. Peti itulah yang telah ditabrak oleh kapal itu.

"Tuan, kita telah menabrak sebuah peti indah, dan peti inilah yang mungkin menyebabkan kapal kita terhenti," ujar salah seorang kapal kepada nahkoda.
"Hanya sebuah peti kecil bisa menghentikan kapal ini?" tanya nahkoda keheranan.
"Benar, Tuan." jawab seorang awak kapal satunya.

Sang nahkoda memandangi peti unik namun indah itu dengan seksama.
Tak lama kemudian, dia membuka kotak peti itu. Dan alangkah terkejutnya sang nahkoda dan para awak, ternyata dalam peti itu ada seorang bayi mungil, montok dan rupawan.
Berkata sang nahkoda,
"Bayi siapakah ini? Siapa orang tua yang tega membuang bayi ke tengah lautan?"

Sang nahkoda bisa memastikan bahwa peti itu milik seorang bangsawan yang biasa digunakan untuk menyimpan barang berharga.
Nahkoda sangat gembira karena dapat menyelamatkan jiwa si bayi mungil itu, tapi juga mengutuk orang yang tega membuang bayi itu ke tengah lautan, sungguh orang yang tidak berperikemanusiaan.

Kapal Tak dapat Melanjutkan Perjalanan.
Nahkoda kemudian memerintahkan awak kapal untuk melanjutkan pelayaran ke Pulau Bali. Tapi perahu tak dapat bergerak maju. Ketika perahu diputar dan diarahkan ke Gresik, ternyata perahu itu dapat melaju dengan pesatnya.

Setelah sampai di Gresik, nahkoda segera menghadap si pemilik kapal yang bernama Nyai Ageng Pinatih, seorang janda kaya.
Nahkoda berkata sambil membuka peti itu,
"Peti inilah yang menyebabkan kami kembali dalam waktu secepat ini. Kami tidak dapat meneruskan pelayaran ke Pulau Bali," ujar sang nahkoda.

"Bayi...? Bayi siapa ini?" guman Nyai Ageng Pinatih sembari mengangkat bayi itu dari dalam peti.
"Kami menemukannya di tengah samudra Selat Bali," jawab nahkoda kapal.

Bayi itu kemudian mereka serahkan kepada Nyai Ageng Pinatih untuk diambil sebagai anak angkat. memang sudah lama dia menginginkan seorang anak. Karena bayi itu ditemukan di tengah samudra, maka Nyai Ageng Pinatih kemudian memberinya nama Joko Samudro.

NB:
Joko Samudro ini hanya sebuah nama yang diberikan oleh Nyai Ageng Pinatih.
Beliaulah murid dari Sunan Ampel, dan oleh Sunan Ampel diberi nama Raden Paku.
Beliaulah Sunan Giri yang terkenal itu.

Sunday, November 6, 2011

Ummu Banin Menebus Dosa

Assalamu'alaikum

Alhamdulillah, mumpung internet agak lancar, kisah islamiah malam ini akan posting 2 buah biar ada pilihan dalam membacanya.
Kali ini tentang sosok, figur wanita. Selain pria, ada wanita sholehah, wanita teladan juga banyak yang dijadikan panutan dan teladan umat islam.

Adalah Ummu Banin yang merupakan salah satu wanita teladan dalam sejarah islam.
Keteladanan itu muncul dalam dirinya setelah ia sempat berlaku sombong dengan mampu menanggung dosa orang lain. Namun, akhirnya ia sadar dan meminta Allah SWT membisukannya demi menebus dosanya.


Kisahnya.
Dikisahkan dari Marwan bin Muhammad bahwa Azzah sahabat Kutsayyir pernah datang menghadap kepada Ummu Banin.
Ummu Banin sendiri adalah putri dari Abdul Azis bin Marwan serta saudara wanita dari Umar bin Abdul Azis.
Umar bin Abdul Azis sendiri adalah salah satu pemimpin, salah satu khalifah teladan sepeninggal Khulafaur Rasyidin.

Ketika Azzah bertemu dengan Ummu Banin, ada seorang pemuda bernama Kutsayyir yang mendendangkan sebuah puisi.
Puisi tersebut berbunyi,
"Setiap orang membayar hutangnya.
Aku ketahui orang yang meminjamnya.
Akan tetapi Azzah orang yang suka mengulur-ulur.
Yang suka mempersulit kepada orang yang meminjamkannya."


Berkata Sombong.
Kala mendengar puisi itu, Azzah terlihat begitu murung dan sikapnya gelisah menggambarkan seolah penuh dengan dosa.
"Wahai Azzah, apa maksud dari kata-kata Kutsayyir itu, hutang apakah yang dimaksud?" tanya UmmuBanin.
"Maafkan aku, aku tidak bisa mengatakannya," jawab Azzah.
"Kamu haru memberitahukannya kepadaku," desak Ummu Banin.

Azzah lantas bersedia jujur.
Ia menceritakan bahwa suatu hari dirinya pernah berjanji bersedia untuk dicium oleh Kutsayyir. Lalu Kutsayyir datang untuk menagih janji itu, akan tetapi Azzah merasa berdosa kepada dirinya dan ia merasa tidak akan mungkin memenuhi janji yang bermakna maksiat itu.

"Aku bingung, aku tak mungkin menepati janjiku itu," ujar Azzah.
Mendengar cerita itu, Ummu Banin tak sengaja berkata sombong.
Ia menyuruh Azzah untuk menpati janjinya sedangkan ia sendiri yang akan menanggung dosanya.

"Tepatilah janjimu kepadanya dan akulah yang akan menanggung dosanya," kata Ummu Banin.
Namun setelah berkata demikian, Ummu Banin pun segera menginterospeksi diri atas perkataannya. Ia memohon ampun kepada Allah SWT atas kesombongannya. Sebagai wujud kesungguhan tobatnya, ia memerdekakan 40 budak sebagi gantinya.
"Ya Allah, mengapa tidak bisukan saja mulutku ini ketika mengatakan hal itu," pintanya dalam tobat.

Tekun Beribadah.
Dalam menjalani kehidupan selanjutnya, Ummu Banin kian tekun dalam beribadah. Ummu Banin selalu meninggalkan peraduannya guna menunaikan shalat sepanjang malam. Setiap hari jumat, ia selalu keluar rumah dengan membawa sesuatu di atas punggung kudanya kemudian diberi-berikannya kepada fakir miskin.

Tidak jarang pula Ummu Banin mengundang para wnita ahli ibadah untuk berkumpul di rumahnya kemudian menggelar pengajian membahas keagamaan.

"Setiap manusia pasti akanmembutuhkan sesuatu, sedangkan aku akan menjadikan kebutuhanku itu menjadi sebuah pengorbanan dan pemberian. Demi Allah, silaturrahmi bagiku lebih menarik daripada makanan selezat apapun," tuturnya kepada para wanita lainnya.

Hingga akhir hayatnya, Ummu Banin selalu berbuat kebaikan.
Semoga Allah SWT senantiasa mencurahkan rahmat-Nya kepada Ummu Banin, salah seorang Wanita Teladan dalam Sejarah Islam.