Saturday, November 12, 2011

Mukjizat Air Mancur Arafah

Kisah Islamiah malam ini tentang air muncur yang berada di Arafah.
Pada usianya yang terbilang masih muda, aneka mukjizat sudah muncul, salah satunya adalah air mancur di Arafah.
Bukan itu saja, tutur kata yang lembut, sikap yang santun serta selalu berpikir positif membuat Muhammad dipercaya semua orang dan dijuluki Al Amin.


Kisahnya.
Waktu terus bergulir, Nabi Muhammad mulai tumbuh menjadi remaja yang rupawan. Pola pemikiran yang cerdas dan suka membantu orang-orang di sekelilingnya menjadi nilai tersendiri di mata sang paman. Tak heran, bila kemana pun Abu Thalib berpergian selalu membawa serta Muhammad. Seperti saat berdagang ke pasar Zulmajaz.

Mukjizat.
Letak pasar Zulmajaz memang cukup jauh dari tempat tinggal Abu Thalib dan Muhammad. Tak heran jika di tengah perjalanan, perbekalan mereka habis. Saat itu, Abu Thalib merasa sangat haus sekali. Air yang mereka bawa sudah habis dan mustahil menemukan air di sekitar tempat itu.
Saat itulah Abu Thalib teringat akan keponakannya, ia tahu bila ada Muhammad di sampingnya, tidak akan ada kelaparan atau kehausan.

Dengan lirih, ia pun berkata,
"Keponakanku, aku sangat haus sekali, bisakah engkau membantuku?"
Muhammad segera berbalik dan menatap pamannya. Dilihatnya bibir pamannya mengering. Abu Thalib tahu, bahwa keponakannya itu akan membantunya dan segera akan mendapatkan air.

Tapi, mana mungkin ia bisa memperolehnya di tengah gurun yang panas dan gersang seperti itu. Mendapat keluhan dari pamannya, Muhammad segera turun dari untanya dan berdoa kepada Allah SWT. Begitu Muhammad menyentuh tanah dengan tumitnya, air mulai keluar dari dalam tanah.
Subhanallah...
Air itu mengalir seperti air mancur kecil yang mengalir dengan deras.

Abu Thalib Takjub.
Abu Thalib penuh takjub melihat kejadian itu. Seketika itu juga Muhammad mengisi wadah air yang dimilikinya dengan air dan mengulurkan kepada pamannya.
"Ini paman, ambillah," ujar Muhammad.

Abu Thalib meminum air itu dengan puas. Ia sangat bersyukur memiliki keponakan yang dilimpahi rahmat dan mukjizat oleh Allah SWT.
Dipeluknya keponakannya itu dengan penuh rasa sayang, kekaguman dan rasa bangga. Mereka lalu melanjutkan perjalanan.

Air mancur yang keluar dari tempat Muhammad berpijak, hingga sekarang tak pernah mengering. Bahkan, sampai saat ini orang-orang yang pergi ke sana untuk melaksanakan ibadah haji menggunakannya untuk minum damn mendinginkan badan.

Orang-orang Menyebutnya Air mancur Arafah.

Thursday, November 10, 2011

Adu Tanding Sunan Bonang dan Brahmana Sakyakirti

Kisah islamiah pada siang ini mengenai Sunan Bonang.
Bukan main kesaktian (karomah) yang dimiliki Sunan Bonang berikut ini. Sudah sakti namun tak pernah sombong sedikitpun.
Sungguh bisa dijadikan teladan oleh semuanya.

Seorang Brahmana dari India ingin menjajal kesaktian ulama besar tanah Jawa yang bernama Sunan Bonang. Rasa penasaran yang menggebu, hingga berlayar sampai ke tanah Tuban hanya untuk beradu tanding dengan Sunan Bonang.


Kisahnya.
Agama Islam telah menyebar luas di tanah Jawa hingga sampailah berita ini kepada para pendeta Brahmana dari India. Salah seorang Brahmana tersebut adalah Sakyakirti.
Maka, bersama beberapa orang muridnya, ia berlayar menuju Pulau Jawa. Tak lupa, dibawanya juga kitab-kitab referensi yang telah dipelajari untuk dipergunakan adu debat dengan para penyebar Agama Islam di Tanah Jawa.

"Aku Brahmana Sakyakirti, akan menantang Sunan Bonang untuk berdebat dan adu kesaktian," sumpah Brahmana sembari berdiri di atas geladak di buritan kapal layar.
"Jika dia kalah, maka akan aku tebas batang lehernya. Jika dia yang menang akau akan bertekuk lutut untuk mencium telapak kakinya. Akan aku serahkan jiwa ragaku kepadanya," lanjut sumpah Brahmana.

Murid-muridnya yang setia berdiri dan mengikutinya dari belakang untuk menjadi saksi atas sumpah yang diucapkan di tengah samudera.

Badai Datang.
Namun ketika kapal yang ditumpanginya sampai di perairan Tuban, mendadak laut yang tadinya tenang tiba-tiba bergolak hebat. Angin dari segala penjuru seolah berkumpul menjadi satu, menghantam air laut sehingga menimbulkan badai setinggi bukit.

Dengan kesaktiannya, Brahmana Sakyakirti mencoba menggempur badai yang hendak menerjang kapal layarnya. Satu kali, dua kali hingga empat kali Brahmana ini dapat menghalau terjangan badai. Namun kali ke lima, dia sudah mulai kehabisan tenaga hingga membuat kapal layarnya langsung tenggelam ke dalam laut. Dengan susah payah dicabutnya beberapa batang balok kayu untuk menyelamatkan diri dan menolong beberapa orang muridnya agar jangan sampai tenggelam ke dasar samudera.




Walaupun pada akhirnya ia dan para pengikutnya berhasil menyelamatkan diri, namun kitab-kitab referensi yang hendak dipergunakan untuk berdebat dengan Sunan Bonang telah kut tenggelam ke dasar laut.
Padahal kitab-kitab itu didapatkannya dengan susah payah dan cara mempelajarinya pun juga tidak mudah. Ia harus belajar Bahasa Arab terlebih dahulu, pura-pura masuk Islam dan menjadi murid ulama besar di negeri Gujarat. Kini, setelah sampai di perairan Laut Jawa, tiba-tiba kitab-kitab yang tebal itu hilang musnah di telan air laut.

Meski demikian, niatnya untuk mengadu ilmu dengan Sunan Bonang tak pernah surut.
Ia dan murid-muridnya telah terdampar di tepi pantai yang tak pernah dikenalnya. Ia bingung harus kemana untuk mencari Sunan Bonang. Ia menoleh ke sana kemari namun tak seorang pun yang lewat di daerah itu.

Bertemu Lelaki Berjubah Putih.
Pada saat hampir dalam keputusasaan, tiba-tiba di kejauhan ia melihat seorang lelaki berjubah putih sedang berjalan sembari membawa tongkat. Ia dan murid-muridnya segera berlari menghampiri dan menghentikan langkah orang itu. Lelaki berjubah putih itu menghentikan langkahnya dan menancapkan tongkatnya ke pasir.

"Kisanak, kami datang dari India hendak mencari seorang ulama besar bernama Sunan Bonang. Dapatkah kisanak memberitahu di mana kami bisa bertemu dengannya?" tanya sang Brahmana.
"Untuk apa Tuan mencari Sunan Bonang?" tanya lelaki itu.
"Akan saya ajak berdebat tentang masalah keagamaan," jawab sang Brahmana.
"Tapi sayang, kitab-kitab yang saya bawa telah tenggelam ke dasar laut. Meski demikian niat saya tak pernah padam. Masih ada beberapa hal yang dapat saya ingat sebagai bahan perdebatan," imbuh sang Brahmana.

Tanpa banyak bicara, lelaki berjubah putih itu mencabut tongkatnya. Mendadak saja tersembur air dari bekas tongkat tersebut dan air itu membawa keluar semua kitab yang dibawa sang Brahmana.
"Itukah kitab-kitab Tuan yang tenggelam ke dasar laut?" tanya lelaki itu.
Sang Brahmana dan pengikutnya kemudian memeriksa kitab-kitab itu, dan tenyata benar milik sang Brahmana. Berdebarlah hati sang Brahmana sembari menduga-duga siapakah sebenarnya lelaki berjubah putih itu.

Murid-murid sang Brahmana yang kehausan sejak tadi segera saja menyerobot air jernih yang memancar itu. Brahmana Sakyakirti memandangnya dengan rasa kuatir, jangan-jangan murid-muridnya itu akan segera mabuk karena meminum air di tepi laut yang pastilah banyak mengandung garam.
"Segar...Aduuh...segarnya..." seru murid-murid sang Brahmana dengan girangnya.

Brahmana Sakyakirti termenung.Bagaimana mungkin air di tepi pantai terasa segar. Ia mencicipinya sedikit dan ternyata memang segar rasanya.
Rasa herannya menjadi-jadi terlebih jika berpikir tentang kemampuan lelaki berjubah putih itu yang mampu menciptakan lubang air yang memancar dan mampu menghisap kitab-kitab yang tenggelam ke dasar laut.

Sang Brahmana berpikir bahwa lelaki berjubah putih itu bukanlah lelaki sembarangan.
Dia mengira bahwa lelaki itu telah mengeluarkan ilmu sihir, akhirnya dia mengerahkan ilmunya untuk mendeteksi apakah semua itu benar hanya sihir. Namun setelah dikerahkan segala kemampuannya, ternyata bukan, bukan ilmu sihir, tapi kenyataan.

Sang Brahmana Jatuh Tersungkur.
Seribu Brahmana yang ada di India pun tak akan mampu melakukan hal itu, pikir Brahmana dalam hati.
Dengan perasaan takut dan was-was, ia menatap wajah lelaki berjubah itu.
"Mungkinkah lelaki ini adalah Sunan Bonang yang termasyhur itu?" gumannya dalam hati.

Akhirnya sang Brahmana memberanikan diri untuk bertanya kepada lelaki itu.
"Apakah nama daerah tempat saya terdampar ini?" tanya Brahmana dengan hati yang berkebat-kebit.
"Tuan berada di pantai Tuban," jawab lelaki berjubah putih itu.

Begitu mendengar jawaban lelaki itu, jatuh tersungkurlah sang Brahmana beserta murid-muridnya.
Mereka menjatuhkan diri berlutut di hadapan lelaki itu. Mereka sudah yakin sekali bahwa lelaki inilah yang bernama Sunang Bonang yang terkenal sampai ke Negeri India itu.

"Bangunlah, untuk apa kalian berlutut kepadaku? Bukankah sudah kalian ketahui dari kitab-kitab yang kalian pelajari bahwa sangat terlarang bersujud kepada sesama makhluk. Sujud hanya pantas dipersembahkan kepada Allah Yang Maha Agung," kata lelaki berjubah putih itu yang tak lain memang benar Sunan Bonang.
"Ampun...Ampunilah saya yang buta ini, tak melihat tingginya gunung di depan mata, ampunkan saya...," rintih sang Brahmana meminta dikasihani.

"Bukankah Tuan ingin berdebat denganku dan mengadu kesaktian?" tukas Sunan Bonang.
"Mana saya berani melawan paduka, tentulah ombak dan badai yang menyerang kapal kami juga ciptaan paduka, kesaktian paduka tak terukur tingginya. Ilmu paduka tak terukur dalamnya," kata Brahmana Sakyakirti.

"Engkau salah, aku tidak mampu menciptakan ombak dan badai, hanya Allah SWT saja yang mampu menciptakan dan menggerakkan seluruh makhluk. Allah melindungi orang yang percaya dan mendekat kepada-Nya dari segala macam bahaya dan niat jahat seseorang," ujar Sunan Bonang.

Sang Brahmana merasa malu.
Memang kedatangannya bermaksud jahat ingin membunuh Sunan Bonag melalui adu kepandaian dan kesaktian.
Ternyata niatnya tak kesampaian. Apa yang telah dibacanya dalam kitab-kitab yang telah dipelajari telah terbukti.
Bahwa Barang siapa yang memusuhi para wali-Nya, maka Allah akan megumumkan perang kepadanya. Menantang Sunan Bonang sama saja dengan menantang Allah SWT yang mengasihi Sunan Bonang sendiri

Hatinya ketakutan, bagaimana jadinya bilamana niatnya kesampaian.
Bukan Sunan Bonang yang akan dibunuh, malah bisa sebaliknya dia sendiri yang akan binasa karena murka Tuhan.

Setelah kejadian tersebut, akhirnya sang Brahmana dan murid-muridnya rela memeluk agama islam atas kemauannya sendiri tanpa paksaan.
Sang Brahmana dan pengikutnya telah menjadi murid dari Sunan Bonang.

Wednesday, November 9, 2011

Dialog Roh dan Doktor

Bagaimanapun juga, jin muslim maupun jin kafir bisa saja masuk ke dalam tubuh manusia.
Jin kafir ini lebih dikenal dengan nama setan.
Seperti kisah di bawah ini yang menceritakan dialog antara roh yang masuk ke dalam tubuh seorang wanita dan seorang doktor yang pandai mendatangkan roh.

Kisah islamiah yang satu ini tak kalah menarik untuk disimak, semoga menambah keyakinan kita, bahwa setan selalu berusaha menjerumuskan manusia meskipun berlagak baik, menyerupai sesuatu yang kita cintai, menyamar sebagai roh dan sebagainya.

Percakapan roh yang menurut mereka ini, sumbernya adalah Karl I. Weckland, Tsalatsun Sanah Bayn Al-Mauta.
Selamat membaca.


Kisahnya.
Pada zaman dahulu ada seorang doktor yang diberi kelebihan untuk mendatangkan roh. Bukti yang sangat kuat tentang bohongnya jin-jin telah mendorong orang-orang yang mendatangkan arwah atau roh. Jin yang mereka datangkan berwajah merah dan dalam keadaan marah, ternyata bukannya roh yang datang, melainkan jin, bisa jadi demikian.
Wallahu A'lam.

Roh Datang dalam Sekejap.
Doktor: "Apakah engkau arwah orang asing, dan darimana asalmu?"
Roh: "AKu berasal dari tempat yang sangat jauh sekali. Tetapi mengapa engkau memanggilku, sehingga menggangguku ketika aku sedang minum-minum dan bersantai?"

Roh tersebut merupakan roh seorang pemuda yang bernama Paul Hopkins yang didatangkan melalui mediator seorang perempuan.

Doktor: "Engkau harus mengubah kebiasaan lamamu yang buruk."
Roh: "Aku berada di tempat yang sangat jauh, aku haus sekali."
Doktor: "Dari mana asalamu?"
Roh: "Berilah aku sesuatu. Tenggorokanku kering betul..."
Doktor: "Tidakkah engkau mengerti bahwa engkau telah kehilangan jasadmu dan kini engkau adalah roh? Apakah engkau mengerti apa yang kubicarakan?"
Roh: "Tidak, aku tidak mengenalmu. Minta minum...Kering betul tenggorokanku...
Aku baru meneguk beberapa tetes minumanku ketika engkau memanggilku.."

Roh Mempengaruhi Nyonya untuk Minum Wyski.
Doktor: "Apakah engkau mempengaruhi nyonya ini agar dia minum wyski demi kepentinganmu?"
Roh: "Nyonya? Aku minum untuk diriku sendiri, dan nyonya ini tidak akan tersentuh apapun. Maksudku, semuanya untuk diriku. Engkau tidak akan bisa berbuat banyak untuk hari-hari sekarang ini."

Doktor: "Engkau telah memasuki kehidupan nyonya ini. Tetapi ini bukan tubuhmu. Tidakkah engkau mengerti akan hal ini? Ini adalah tubuh seorang wanita."
Roh: "Wanita?
Doktor: "Benar, coba perhatikan gaunmu.."
Roh: "Aku tidak tahu, apa itu gaun, tetapi aku adalah perempuan dari dulu hingga sekarang.."

Doktor: "Melalui wanita ini engkau memperoleh wyski. Mestinya engkau malu terhadap dirimu sendiri. Engkau tidak sekedar merendahkan dirimu sendiri, tetapi juga menguasai tubuh nyonya ini."
Roh: "Mengapa aku mesti malu? Aku tidak melakukan apa-apa, kecuali sekedar minum wyski."




Doktor: "Engkau berada di lingkungan asing. Engkau didatangkan kemari dan diberi kesempatan untuk menggunakan tubuh nyonya ini beberapa waktu lamanya. Sekedar engkau ketahui, engkau harus meninggalkan tubuhnya. Nama nyonya ini adalah Nyonya F. Apakah engkau mengenalnya?"
Roh: "Itu bukan namaku. Saya tidak lagi memakai namaku sejak lama dan aku merasakan ini sebagai sesuatu yang aneh dari waktu ke waktu. Aku merasa serba salah dalam hubungannya dengan segala sesuatu yang dulu ada di sekitarku."


Roh tak Bisa Dilihat.
Doktor: "Mengapa tidak engkau cari penyebabnya? Sesungguhnya engkau sudah meninggalkan jasad fisikmu."
Roh:"Apa yang telah terjadi padaku?"
Doktor: "Engkau adalah roh yang tidak dapat kami lihat. Kami tidak bisa melihatmu."
Roh: "Tidak bisa melihatku?"
Doktor: "Ya, aku tidak bisa melihatmu."

Roh: "TIdak bisa melihatku? Aku adalah orang yang tinggi besar. Tetapi mengapa engkau tidak bisa melihatku? Barangkali engkau harus minum juga. Katakan, apa engkau akan memberiku gelas? Nah, kalau begitu, kita akan menjadi kawan. Alangkah senangnya aku jika engkau bisa memberiku sedikit wyski."

Doktor: "Kalau begitu kita akan baik-baik saja..."
Roh:"Tentu, jika engkau memberiku wyski, pasti aku akan menyampaikan sesuatu yang kusebutkan dalam wasiatku. Berilah aku sesuatu yang bisa kuminum dan kita akan menjadi kawan."

Doktor: "Ah..engkau buang-buang waktu saja, yang ingin kami lakukan adalah engkau bisa mengerti keadaanmu. Engkau adalah roh yang tidak terlihat dan kini engkau masuk ke dalam tubuh seorang wanita."
Sambil mengamati tubuhnya, roh itu berkata.
Roh: "Cincin ini bukan milikku. Tetapi bagaimana mungkin orang lain bisa mengenakannya pada diriku?"
Doktor: "Apa engkau kenal dengan kedua tangan ini?"
Roh: "Tidak, agaknya aku terlalu banyak minum. Tetapi aku memang merasa sedang mabuk. Terlalu banyak minum...Sepertinya engkau bisa membuat orang menjadi buta dengan berbagai macam cara.
Dan ini, barangkali juga seperti itu...Rasanya aku bisa melihatmu. Aku buta...Beri aku sesuatu...Jadilah orang yang baik.
Beri akusegelas wyski saja. Nanti aku akan berbuat baik kepadamu. Mau?

Dalam percakapan di atas bisa kita ketahui bahwa si roh yang Insya Alloh hanya jin, sangat menyukai khamr. Dia masuk ke dalam tubuh nyonya tersebut dan memaksanya minum wyski, sekalipun nyonya itu sendiri tidak pernah meminumnya.

Baca juga ayat Al-Qur'an, Surat Al-Mu'minun ayat 99-100.
Ayat ini turun karena ada seorang sahabat yang menanyakan tentang roh.
"Mereka menanyakan kepadamu tentang roh, Katakanlah," Roh adalah urusan Tuhanku."

Allah SWT berfirman,
حَتَّى إِذَا جَاءَ أَحَدَهُمُ الْمَوْتُ قَالَ رَبِّ ارْجِعُونِ
لَعَلِّي أَعْمَلُ صَالِحًا فِيمَا تَرَكْتُ كَلا إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا وَمِنْ وَرَائِهِمْ بَرْزَخٌ إِلَى يَوْمِ يُبْعَثُونَ

Artinya:
Hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, Dia berkata: "Ya Tuhanku kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku berbuat amal yang saleh terhadap yang telah aku tinggalkan. sekali-kali tidak. Sesungguhnya itu adalah Perkataan yang diucapkannya saja. dan di hadapan mereka ada dinding sampal hari mereka dibangkitkan.
(QS. Al-Mu'minun: 99-100).

Tuesday, November 8, 2011

Jenazah diLindungi Sayap Malaikat

Kisah Islamiah pada pagi ini tentang sakaratul maut.
Pada zaman Rasululah SAW, terdapat seorang pejuang gagah berani yang berjuang di jalan Allah SWT.
Karena ketulusannya dalam membela Islam melalui perang, menjadikan jenazahnya dilindungi oleh sayap Malaikat.


Kisahnya.
Tak dapat diketahui secara pasti kelahiran Abdullah bin Amru bin Harram. Abdullah bin Amru ini termasuk golongan 70 orang yang ikut dalam pembaiatan Rasulullah SAW di Aqobah Kedua. Ia juga dipercaya sebagai salah satu ketua dari 12 ketua yang ikut dalam pembaiatan Rasulullah.
Selama hidupnya bersama Rasululah SAW, ia ikut perang Badar dan maju ke medan perang seperti pahlawan yang penuh keberanian.

Sebelum pergi ke medan perang UHUD pada tahun ke 3 Hijriyah, ia berkata,
"Aku tidak ingin melihat aku terbunuh di perang ini tapi aku berharap menjadi orang pertama yang mati syahid diantara orang-orang muslim."


Perang Uhud.
Diantara peperangan yang diikuti adalah Perang Badar dan Uhud.
Pada waktu perang Uhud, anaknya yang bernama Jabir bin Abdullah bercerita bahwa pada suatu malam ayahnya memanggil dirinya pada waktu hendak di mulai perang Uhud. Ayahnys berkata,
"Rasanya sayalah yang akan terbunuh diantara para sahabat dalam perang ini. Semoga saya orang pertama yang mati syahid. Demi Allah, tidak ada seorang pun yang lebih saya cintai setelah Rasulullah SAW melainkan dirimu. Saya mempunyai hutang, maka kelak kalau saya wafat bayarlah hutangku dan berilah nasehat kepada saudaramu yang lain."

Keesokan harinya, umat islam keluar rumah untuk menghadapi kaum kafir Quraisy. Mereka datang dengan tentara yang tidak sedikit.
Terjadilah peperangan yang sangat hebat. Namun para pemanah melanggar perintah Rasululah SAW agar tetap berjaga di tempatnya. Rasul ini merupakan seorang pemimpin perang yang sangat-sangat ulung.

Pada saat pasukan pemanah tidak mematuhi perintah Rasulullah SAW, maka pasukan kafir Quraisy menggempur habis-habisan sehingga umat islam dapat dikalahkan. Di antara pahlawan umat islam yang gugur dalam perang itu adalah Abdullah bin Amru.




Malaikat Hadir.
Setelah selesai berperang, umat islam mengumpulkan pasukannya yang telah wafat.

Jabir pun ikut mencari di mana ayahnya. Setelah itu, akhirnya Jabir menjumpai mayat ayahnya yang sudah tidak bernyawa lagi.
Dalam perang itu, Abdullah bin Amru gugur sebagai Syuhada. Rasulullah SAW ikut belasungkawa sekaligus bangga terhadap Abu Jabir hingga beliau bertakziah ke keluarga Abdullah bin Amru.

Pada waktu Rasulullah SAW melihat Jabir dan keluarganya sedang menangis, Rasul bersabda,
"Kalian menangis atau tidak menangis, para malaikat akan melindunginya dengan saya-sayapnya."

Subhanallah...
Pastilah benar dan sungguh benar setiap kata yang diucapkan oleh Rasulullah SAW.
Setiap kata yang diucapkan tak ada dusta sama sekali, hingga terciptalah judul postingan ini.

Setelah mendengar penuturan Rasululah SAW itu, keluarga Abdullah bin Amru bertambah pasrah dan ikhlas.
Pada suatu hari Rasulullah SAW bersabda,
"Wahai Jabir, Allah tidak pernah berbicara kepada seseorang melainkan di balik tabir. Dan Allah SWT berbicara dengan ayahmu secara langsung."

Makam Baqi'
Suatu saat Rasul juga pernah menceritakan bahwa ada keinginan yang kuat dari ayahnya Jabir ini untuk berjuang membela agama Allah SWT.
Abdullah binAmru pernah berdoa,
"Ya Allah, berikanlah keturunanku nikmat yang engkau berikan padaku."

Rasulullah SAW memerintahkan untuk menguburkan jenazah Abdullah bin Amru bin Harram di kuburan Baqi bersama Amru bin Al-Jumuh dalam satu kuburan.
Sebab keduanya adalah teman akrab yang saling mencintai di jalan Allah SWT selama hidupnya.