Sunday, November 6, 2011

Dialog Rasulullah dengan Kijang

Assalamu'alaikum.
Selamat Hari Raya Idul Adha kawan.


Kisah Islamiah pada malam ini tentang dialog Rasululah SAW dengan seekor kijang.
Nabi Muhammad SAW memang telah dianugerahi dengan banyak mukjizat yang luar biasa. Selain mukjizat terbesar berupa Al Qur'an atau mampu membelah bulan, Rasul juga mengerti bahasa binatang seperti Nabi Sulaiman as, salah satunya adalah hewan yang bernama kijang.

Kisahnya.
Diriwayatkan oleh Abu Na'im di dalam kitab Al-Hilyah, bahwa seorang laki-laki tengah lewat di sisi Nabi Muhammad SAW dengan membawa seekor kijang hasil tangkapannya. Lalu Allah SWT yang berkuasa atas semua makhluk-Nya, telah menjadikan kijang itu berbicara kepada Nabi Muhammad SAW.

"Wahai Pesuruh Allah, sesungguhnya aku mempunyai beberapa anak yang masih menyusu, dan sekarang aku sudah ditangkap sedangkan anak-anakku kelaparan," kata kijang itu meminta belas kasihan.




Kijang Mengadu.
Rasulullah SAW yang mampu mengerti bahasa kijang itu lantas berdialog dengan si kijang.
"Apakah yang engkau harapkan dariku?" tanya Rasulullah SAW.
"Tolong perintahkan orang ini melepaskan aku supaya aku dapat menyusukan anak-anakku dan sesudah itu aku akan kembali kemari," janji kijang itu dengan sangat memohon.

"Bagaimana kalau engkau tidak kembali lagi ke sini?" tutur Rasululah SAW.
"Kalau aku tidak kembali kemari, nanti Allah SWT akan melaknatku sebagaimana ia melaknat orang yang tidak mengucapkan shalawat bagi engkau apabila disebut nama engkau di sisinya," janji kijang itu.

Lalu Nabi Muhammad SAW pun bersabda kepada orang itu untuk melepaskan kijang itu buat sementara waktu.
"Wahai pemuda, lepaskanlah kijang ini, dan aku akan menjadi penjaminnya," kata Rasululah SAW.
Atas perintah Rasulullah SAW, pemuda itu pun akhirnya melepaskan kijang itu. Kijang itu langsung berlari menuju anak-anaknya untuk meberikan susu. Setelah semua anak-anaknya kenyang, sang induk kembali lagi menemui Rasululah SAW dan pemuda itu menangkapnya kembali.



Pesan Malaikat Jibril.
Maka turunlah malaikat Jibril dan mengucap pesan dari Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW.
"Wahai Muhammad, Allah SWT mengucapkan salam kepada engkau dan Allah SWT berfirman,
Demi kemulianKu dan kehormatanKu, sesungguhnya Aku lebih kasih umat Muhammad dari kijang itu kasih anak-anaknya dan Aku akan kembalikan mereka kepada engkau sebagaimana kijang itu kembali kepada engkau."

Umat Islam meyakini bahwa setiap hal dalam kehidupan Nabi Muhammad SAW adalah mukjizat.
Hal ini terbukti dari banyaknya kumpulan hadits yang diceritakan oleh para sahabat mengenai berbagai mukjizat Nabi Muhammad SAW.

Dan tak lupa, blog kisah islamiah ini hanya bagi mereka yang beriman, karena isi blog terdapat bermacam mukjizat yang tidak bisa dinalar oleh pikiran manusia. Untuk menambah dan makin tambah keimanan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya dengan sumber cerita ada di postingan awal.

Dalam hadits yang diriwaytkan oleh Abu Hurairah dikatakan bahwa Rasulullah SAW bersabda,
"Tidak ada seorang pun di antara para nabi kecuali mereka diberi sejumlah mukjizat yang diantaranya agar manusia beriman kepadanya dan mukjizat yang aku terima adalah wahyu. Allah mewahyukannya kepadaku. Maka aku berharap kiranya menjadi nabi yang paling banyak pengikutnya pada hari kiamat."

Friday, November 4, 2011

Tetap Bersyukur Meski Kaki Diamputasi

Walaupun harus kehilangan satu kaki dan satu anak, namun Urwah tetap sabar. Bahkan ia malah bersyukur karena Allah SWT masih menyisakan satu kaki dan anak-anaknya yang lain.
Subhanallah, kesabarannya ini tentu patut diteladani.

Abu Abdillah atau Urwah bin Zubair bin Al Awwam adalah diantara sederert tabiin yang memiliki kucuran mata air hikmah untuk generasi umat sesudah beliau. Beliau ini merupakan Murid dari Siti Aisyah dan merupakan cucu dari Abu Bakar Ash-Shiddiq as.
Adik dari Abdullah bin Zubair telah memberikan pelajaran tentang nilai sebuah kesabaran.

Kisahnya.
Pada suatu hari, cucu Abu Bakar Ash-Shiddiq mendapat tugas untuk menemui Khalifah Al Wahid bin Abdul Malik di ibukota kekhalifahan, Damaskus di negeri Syam. Bersama dengan rombongan, Urwah akan menempuh perjalanan dari Madinah menuju Damaskus yang saat ini menjadi negara Yordania.




Ketika melewati Wadil Qura, sebuah daerah yang belum jauh dari Madinah, telapak kaki kiri beliau terluka. Tabiin yang lahir pada tahun 23 Hijriyah ini menganggap lukanya hanya biasa saja. Namun ternyata luka tersebut bernanah dan terus menjalar ke bagian atas tubuh Urwah.
Setibanya di istana Al Walid, luka di kaki kiri Urwah tersebut sudah mulai membusuk hinga ke betis. Urwah pun mendapatkan pertolongan dai Khalifah Al Walid yang memerintahkan sejumlah dokter untuk memberikan perawatan.

Luka di kaki.
Setelah melalui beberapa pemeriksaan, para dokter yang memeriksa salah seorang murid dariAisyah binti Abu Bakar ini mempunyai satu kesimpulan. Kaki kiri Urwah harus diamputasi agar luka yang membusuk tidak terus menjalar ke tubuh. Urwah menerima keputusan tim dokter ini dan dimulailah operasi amputasi. Seorang dokter menyuguhkan Urwah semacam obat bius agar operasi amputasi tidak terasa sakit. Saat itu, Urwah menoak dengan halus.

Beliau mengatakan,
"Aku tidak akan meminum suatu obat yang menghilangkan akal sehatku sehingga aku tidak lagi mengenal Allah, walaupun hanya sesaat."
Mendengar ucapan Urwah itu, tim dokter pun menjadi ragu untuk melakukan amputasi. Saat itu juga, Urwah mengatakan,
"Silahkan kalian potong kakiku. Selama kalian melakukan operasi, aku akan shalat agar sakitnya tidak sampai kurasakan."



Melihat hal itu, KhalifahAl Walid menghampiri Urwah yang masih terbaring. Ia mencoba menghiburnya.Tapi dengan penuh senyum Urwah berkata,
'Ya Allah, segala puji hnaya untuk-Mu. Sebeum ini, aku memiliki dua kaki dan dua tangan, ekmudian Engkau ambil satu. Alhamdulillah, Engkau masih menyisakan yanglain. Dan walaupun Engkau telah memberikan musiabh kepadaku, namun msa sehatku masih lebih panjang dari hari-hari sakitku ini. Segala Puji hanya untuk-Mu atas apa yang telah Engkau ambil dan atas apa yang telah Engkau berikan kepadaku dari masa sehat."

Putra Kesayangan Meninggal.
Mendengar hal itu, Khalifah Al Walid berkata,
"Belum pernah sekalipun aku melihat seorang tokoh yang kesabarannya seperti dia."

Beberapa saat setelah itu, tim dokter memperlihatkan potongan kaki yang telah diamputasi itu kepada Urwah. Melihat potongan kakinya, beliau berkata,
"Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui, tidak pernah sekalipun aku melangkahkan kakiku ini ke arah kemaksiatan."

Ujian yang Allah SWT berikan kepada Urwah tidak hanya sampai di situ saja.
Malam itu juga, bersamaan dengan telah selesainya operasi pemotongan kaki, Urwah mendapat kabar bahwa salah seorang putra beliau yang bernama Muhammad, putra kesayangannya telah meninggal dunia. Muhammad meninggal karena sebuah kecelakaan, ditendang oleh kuda saat sedang bermain-main di dalam kandang.

Dalam keheninan malam itu, Urwah berucap pada dirinya,
"Segala Puji hanya milik Allah SWT, dahulu aku memiliki tujuh orang anak, kemudian Engkau ambil satu dan masih Engkau sisakan enam.Walaupun Engkau telah memberikan musibah kepadaku, hari-hari sehatku masih lebih panjang dari masa pembaringan ini."

Sungguh sangat tabah Sahabat Urwah bin Zubair ini.
Tak bisa membayangkan bagaimana rasanya kalau kita diamputasi namun tidak diberi obat bius, pastilah akan menjerit kesakitan. Tapi bagi sahabat Urwah ini, beliau malah menolak untuk dibius dalam proses operasi.

Thursday, November 3, 2011

Asal Mula Ka'bah

Dahulu Ka'bah dibangun oleh Nabi Ibrahim as dibantu anaknya, Nabi Ismail as. Kini para jamaah dari seluruh penjuru dunia banyak berdatangan ke Masjidil Haram untuk tawaf di Ka'bah.


Kisahnya.
Kisah awal mula dibangunnya Ka'bah tersebut terjadi pada zaman Nabi Ibrahim as. Dalam Al Qur'an Allah SWT berfirman,

إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِلْعَالَمِينَ

Artinya:
"Sesungguhnya rumah yang mula-mula dibangun untuk (tempat beribadat) manusia, ialah Baitullah yang di Bakkah (Mekah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi semua manusia."
(QS. Ali Imran: 96).

Ahli kitab mengatakan bahwa rumah ibadah yang pertama dibangun berada di Baitul Maqdis, oleh karena itu Allah membantahnya.

Ayat itulah yang menjadi asbabul nuzul dari pembangunan Ka'bah.

Dikisahkan, bahwa Nabi Ibrahim as membawa istrinya Siti Hajar dan putanya Ismail ke daerah Makkah. Pada saat itu Hajar dalam keadaan menyusui putranya. Nabi Ibrahim kemudian menempatkan Hajar dan Ismail di samping pohon besar.

Pada saat itu, di tempat tersebut tidak berpenghuni dan kering. Nabi Ibrahim as kemudian meninggalkan keduanya yang hanya berbekal beberapa kurma serta bejana yang berisi air.

Perjuangan Siti Hajar.
Ketika Nabi Ibrahim hendak pergi, Hajar mengikutinya seraya berkata,
Wahai Ibrahim, kemanakah engkau akan pergi? Apakah engkau akan meninggalkan kami, padahal di lembah ini tidak ada seorang pun dan tidak ada makanan apapun," ucap Hajar secara berkali-kali, namun Nabi Ibrahim tidak menghiraukannya.

"Apakah Allah SWT yang memerintahkan engkau berbuat seperti ni?" tanya Hajar.
"Benar," jawab Nabiyullah Ibrahim.
Hajar lalu berkata," Kalau begitu, Dia (Allah) tidak akan membiarkan kami."

Nabi Ibrahim as sampai di daerah Tsaniah, dimana tidak telihat lagi oleh keluarga yang beliau tinggalkan.
Di sana Nabi Ibrahim as berdo'a,
"Ya Rabb kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati nanti. Ya Rabb kami, yang demikian itu agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan berilah mereka rezeki dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur."

Ketika persediaan air mereka habis, Hajar pun mencari air untuk dia dan putranya. Dia pergi ke bukit Shafa mencari apakah ada orang di sana. namun, dia tidak menemukan siapapin di sana.

Hajar pun kemudian pergi ke Marwah dan mencari-cari orang di sana dan ternyata dia tidak menemukan seorang pun. Hajar berulang-ulang pergi dari Shafa ke Marwah, kemudian sebaliknya dari Marwah ke Shafa sampai 7 kali.

Oleh karena itulah di dalam ibadah haji ada yang namanya Sai, yaitu lari-lari kecil dari Shafa ke Marwah dan sebaliknya hingga 7 kali.

Sampai di Marwah, Hajar mendengar suara yang menyuruhnya diam. Ternyata suara itu berasal dari Malaikat. Lalu Malaikat itu mengais tanah hingga airnya keluar.
(Ada riwayat lain yang menyebutkan bahwa air muncul, air zam-zam karena hentakan kaki Nabi Ismail yang masih bayi itu, Wallahu A'lam).

Selanjutnya ia pun turun, mengisi bejana dan kembali lagi dia memberi minum putranya, Ismail

Setelah beberapa waktu berlalu, ada sebuah rombongan dari suku Jurham datang ke tempat tersebut. Mereka tinggal di sekitar air zam-zam bersama Hajar dan Ismail. Ini semua mereka lakukan atas izin dari Siti Hajar.





Membangun Ka'bah.
Nabi Ismail pun tumbuh menjadi dewasa dan belajar bahasa Arab dari suku Jurham tersebut. Beliau juga menikah dengan salah seorang wanita dari mereka.

Pada suatu saat, Nabi Ibrahim datang ingin menjenguk putranya Nabi Ismail as.
Ketika sedang meraut anak panah, Nabi Ibrahim as pun datang. Nabi Ismail pun bangkit menyambutnya dan mereka langsung berpelukan melepaskan rindu.

"Wahai anakku, sesungguhnya Allah menyuruhku menjalanakan perintah," kata Nabi Ibrahim.
"Lakukanlah apa yang diperintahkan oleh Rabbmu," sahut Nabi Ismail.
"Apakah engkau akan membantuku?" tanya Nabi Ibrahim.
"Aku pasti akan membantumu, Wahai Nabiyullah," seru Ismail.

Nabi Ibrahim kemudian menunjuk ke tumpukan tanah yang lebih tinggi dari sekitarnya seraya berkata,
"Sesungguhnya Allah menyuruhku membuat suatu rumah di sini."

Pada saat itulah keduanya bahu membahu meninggikan pondasi Baitullah.Ismail mulai mengangkut batu, sementara Nabi Ibrahim memasangnya. Setelah bangunan tinggi, Ismail membawakan sebuah batu untuk pijakan bagi Nabi Ibrahim as.
Batu itulah yang kemudian disebut sebagai tanda makam Ibrahim.

Mereka pun terus menerus bekerja sambil mengucapkan doa,
"Wahai Rabb kami, terimalah dari kami (amalan), sesungguhnya Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."
Sampai akhirnya tuntaslah pembangunan Baitullah itu. Ka'bah pun akhirnya berdiri di bumi Allah SWT.




(Nabi Ibrahim as ini kala menerima perintah Allah SWT, anak istri pun tak mampu mencegahnya. Terbukti dia meninggalkan anak istrinya di suatu lembah yang sepi meski hati tidak tega. namun itulah perintah Tuhan, harus selalu ditaati).

Ka'bah.
Rumah Allah SWT, Baitullah ini akan selalu dijaga sampai hari kiamat nanti. Terbukti saat ada raja yang ingin menghancurkan ka'bah, namun di tengah jalan mereka dihadang oleh pasukan dari langit.
Ingat Surat Al-Fiil berikut ini:


أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيلِ
أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِي تَضْلِيلٍ
وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ
تَرْمِيهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيلٍ
فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُولٍ

Artinya:
1. Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah.
2. Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka'bah) itu sia-sia?
3. dan Dia mengirimkan kapada mereka burung yang berbondong-bondong,
4. yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar,
5. lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).

Yang dimaksud dengan tentara bergajah ialah tentara yang dipimpin oleh Abrahah Gubernur Yaman yang hendak menghancurkan Ka'bah. sebelum masuk ke kota Mekah tentara tersebut diserang burung-burung yang melemparinya dengan batu-batu kecil sehingga mereka musnah.

Tuesday, November 1, 2011

Pertemuan Sunan Kalijaga dan Sunan Bonang

Kisah islmiah malam ini akan melanjutkan kisah tantang Perjalanan Sunan Kalijaga dalam mencari jati diri, dan dalam pengembaraannya setelah diusir dari Kadipaten Tuban. Setelah Sunan Kalijaga diusir dari Kadipaten beliau menetap di sebuah hutan. Dan di hutan itulah Raden Said bertemu dengan seorang laki-laki yang ternyata adalah Sunan Bonang.



Kisahnya.
Raden Said mengembara tanpa tujuan yang pasti. Pada akhirnya dia menetap di hutan Jatiwangi dan selama bertahun-tahun lamanya, Raden Said menjadi perampok yang budiman. Mengapa disebut budiman, karena hasil rampokan yang ia dapat tidak dimakannya, namun diberikan kepada fakir miskin.

Yang dirampoknya adalah hanya para hartawan atau orang kaya yang kikir, tidak menyantuni rakyat jelata dan tidak mau membayar zakat.
Di hutan Jatiwangi, dia membuang nama aslinya, orang-orang menyebutnya sebagai Berandal Lokajaya.

Pada suatu hari, ada seseorang yang berjubah putih melewati hutan Jatiwangi. Dari kejauhan, Berandal Lokajaya ini sudah mengincarnya. Orang itu membawa sebatang tongkat yang gagangnya berkilauan. Terus menerus diawasinya orangtua berjubah putih itu. Setelah dekat, dia menghadang langkahnya dan tanpa banyak bicara lagi direbutnya tongkat itu dari tangan lelaki berjubah putih.
Karena tongkat itu direbut dengan paksa, maka orang berjubah putih itu jatuh tersungkur.

Dengan susah payah orang itu bangun, dan sepasang matanya mengeluarkan air walaupun tidak ada suara rintih tangis dari mulutnya. Raden Said pada saat itu sedang mengamat-amati gagang tongkat yang dipeganganya, dan  ternyata tongkat itu bukan terbuat dari emas. Hanya gagangnya saja yang terbuat dari kuningan sehingga berkilauan tertimpa cahaya matahari seperti emas.

Raden Said heran meliat orang tua yang menangis itu. Segera saja diulurkannya kembali tongkatnya sambil berkata,
"Jangan menangis wahai orang tua, ini tongkatmu aku kembalikan."
'Bukan tongkat ini yang aku tangisi," jawab orang tua itu.
"Lalu apa yang membuatmu menangis?" tanya Berandal Lokajaya.
"Lihatlah, aku telah berbuat dosa, berbuat kesia-siaan. Rumput ini tercabut ketika aku jatuh tersungkur tadi," kata lelaki tua itu sambil menunjukkan beberapa batang rumput kepada Berandal Lokajaya.

"Hanya beberapa lembar rumput engkau merasa berdosa?" tanya Berandal Lokajaya.
"Ya, memang berdosa. Karena aku mencabutnya tanpa suatu keperluan. Andaikata aku cabut untuk makanan ternak, itu tak mengapa.Tapi kalau untuk kesia-siaan benar-benar suatu dosa," jawab lelaki tua itu.

Berandal Jayaloka Bergetar Hatinya.
Hati Berandal Jayaloka yang tampan itu tergetar atas jawaban yang mengandung nilai iman itu.
"Anak muda, sesungguhnya apa yang engkau cari di hutan ini?" tanya lelaki tua itu.
"Saya menginginkan harta," jawab Berandal Jayaloka.
"Untuk apa?" tanya lelaki tua itu selanjutnya.
"Saya berikan kepada fakir miskin dan penduduk yang menderita," jawab Berandal Jayaloka.
"Hemmm...sungguh mulia hatimu, sayang...cara mendapatkannya keliru," ujar lelaki tua itu.



"Orang tua....apa maksudmu?" tanya Berandal Jayaloka.
"Boleh aku bertanya anak muda, jika engkau mencuci pakaianmu yang kotor dengan air kencing, apakah tindakanmu itu benar?" tanya lelaki tua itu.
"Sungguh perbuatan bodoh, hanya akan menambah kotor dan bau pakaian saja," jawab Berandal Jayaloka.

Lelaki tua itu tersenyum.
"Demikian pula amal yang engkau lakukan. Engkau bersedekah dengan barang yang didapat secara haram, merampok atau mencuri, itu sama halnya mencuci pakaian dengan air kencing," jelas lelaki tua itu.
Berandal Jayaloka itu tersentak kaget, namun lelaki tua itu langsung melanjutkan perkataannya.
"Alah itu adalah zat yang baik, hanya menerima amal dari barang yang baik atau halal," tutur lelaki tua itu.

Raden Said makin tercengang setelah mendengar keterangan dari lelaki tua itu. Rasa malu mulai menghujam lubuk hatinya. Betapa keliru perbuatannya selama ini. Di pandangnya lelaki berjubah putih itu dengan seksama. Agung dan berwibawa namun mencerminkan pribadi yang welas asih. Dia mulai menyukai dan tertarik dengan lelaki tua itu.

Pohon Aren Berubah menjadi Emas.
Lelaki tua itu kemudian melanjutkan penuturannya.
"Banyak hal yang terkait dalam usaha mengentas kemiskinan dan penderitaan rakyat pada saat ini. Engkau tidak bisa mengubahnya hanya dengan memberikan bantuan makan dan uang kepada para penduduk miskin. Engkau harus memperingatkan para penguasa yang zalim agar mau mengubah caranya memerintah agar tidak sewenang-wenang. Engaku juga harus dapat membimbing rakyat agar dapat meningkatkan taraf kehidupannya," tutur lelaki berjubah putih itu.

Berandal Jayaloka, Raden Said semakin terpana, ucapan seperti itulah yang selama ini didambakannya. Raden Said yang masih dalam keterpanaan, lelaki berjubah putih itu kembali berkata,
"Kalau engkau tak mau bekerja keras dan hanya ingin beramal dengan cara yang mudah, maka ambillah itu. Itu adalah barang yang halal, ambillah sesukamu," kata lelaki berjubah putih itu sambil menunjuk ke arah pohon aren.





Sepasang mata Raden Said terbelalak karena seketika itu juga pohon aren itu berubah menjadi emas seluruhnya. Raden Said adalah seorang pemuda yang sakti, banyak ragam pengalaman yang telah dia kecapnya. Berbagai ilmu-ilmu aneh juga telah dia pelajarinya, dia mengira orang tua itu mempergunakan ilmu sihir. Dari itu dia mencoba menangkal sihir itu, namun ternyata setelah Raden Said mengerahkan seluruh ilmunya, tetap saja pohon aren itu menjadi emas.

Raden Said yakin bahwa orang tua itu tidak mempergunakan ilmu sihir, ia benar-benar merasa heran dan penasaran. Ilmu apakah yang telah dipergunakan orang tua itu sehingga mampu mengubah pohon aren menjadi sebuah pohon arena emas.

Selama beberapa saat, Raden Said terpukau di tempatnya berdiri. Dia mencoba memanjat pohon aren itu, dan ternyata benar-benar berubah menjadi emas seluruhnya. Ia ingin mengambil buah aren yang telah berubah menjadi emas berkilauan itu, medadak buah aren itu rontok berjatuhan mengenai kepala Raden Said.
Pemuda itu akhirnya terjerembab ke tanah, roboh dan pingsan.

Ketika Raden Said tersadar, buah aren yang rontok itu telah berubah lagi menjadi hijau seperti pohon aren-aren lainnya. Kemudian Raden Said bangkit berdiri untuk mencari orang tua berjubah putih itu. Tapi yang dicarinya sudah tidak ada di tempat.

Insya Alloh besok akan dilanjutkan dengan Kisah Sunan Kalijaga yang mencari guru sejati.